Prof Nasaruddin Umar Berpeluang Pimpin PBNU, Gus Ipul Sebut Dukungan Lalu Menguat

Ringkasan Informasi

  • Nama Prof Nasaruddin Umar mulai menguat jelang Muktamar NU.
  • Gus Ipul menilai rekam jejak organisasi menjadi modal Krusial.
  • Posisi Katib Aam disebut kerap melahirkan Ketua Lumrah PBNU.
  • Gus Ipul menegaskan dirinya Tak akan maju dalam kontestasi.

Kediri (Liputanindo.id) – Menjelang Penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), nama Menteri Religi Republik Indonesia, Prof KH Nasaruddin Umar, mulai menjadi perbincangan di kalangan nahdliyin. Hal tersebut dibenarkan oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf.

Pria yang akrab disapa Gus Ipul itu menilai Prof Nasaruddin Umar Mempunyai Kesempatan besar memperoleh dukungan Kepada menjadi Ketua Lumrah PBNU karena pengalaman panjangnya dalam struktur organisasi NU. Pernyataan tersebut disampaikan Gus Ipul Begitu menjawab pertanyaan wartawan mengenai munculnya sejumlah tokoh yang dinilai berpotensi masuk dalam bursa calon Ketua Lumrah PBNU pada Muktamar mendatang.

Rekam Jejak Katib Aam Dinilai Jadi Modal Kuat

Menurut Gus Ipul, Kalau Menyaksikan perjalanan sejarah kepemimpinan Nahdlatul Ulama dalam beberapa Dasa warsa terakhir, posisi Katib Aam PBNU Mempunyai Rekanan yang cukup kuat dengan lahirnya para pemimpin organisasi.

Ia mencontohkan Prof Nasaruddin Umar yang pernah menjabat sebagai Katib Aam PBNU pada masa kepemimpinan KH Hasyim Muzadi.

“Prof Nasaruddin Umar pernah menjadi Katib Aam pada era KH Hasyim Muzadi. Kalau Menyaksikan statistik dan pengalaman yang Eksis selama ini, beliau sangat berpotensi,” kata Gus Ipul usai meninjau persiapan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri, pada Selasa (16/6/2026).

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu Elemen yang Membikin nama Nasaruddin Umar banyak diperbincangkan menjelang Muktamar NU.

Tiga Ketua Lumrah PBNU Berasal dari Jalur Katib Aam

Gus Ipul menjelaskan bahwa dalam rentang Sekeliling 40 tahun terakhir, sejumlah Ketua Lumrah PBNU Mempunyai latar belakang yang sama sebelum menduduki posisi tertinggi di organisasi.

Beberapa nama yang disebut antara lain KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi, dan KH Yahya Cholil Staquf yang pernah menjabat sebagai Katib Aam PBNU sebelum akhirnya terpilih menjadi Ketua Lumrah.

“Kalau ditarik dalam Sekeliling 40 tahun terakhir, tiga Ketua Lumrah PBNU sebelumnya pernah menjadi Katib Aam. Itu menunjukkan posisi tersebut Mempunyai rekam jejak yang cukup kuat dalam melahirkan pemimpin NU,” ujarnya.

Pola tersebut, menurut Gus Ipul, menjadi salah satu indikator mengapa figur dengan pengalaman sebagai Katib Aam sering mendapatkan perhatian lebih menjelang proses pemilihan kepemimpinan organisasi.

Sekjen dan Ketua PWNU Jatim Juga Punya Kesempatan

Selain posisi Katib Aam, Gus Ipul menyebut terdapat beberapa jalur kepemimpinan lain yang secara historis juga melahirkan tokoh sentral di tubuh Nahdlatul Ulama.

Salah satunya adalah jabatan Sekretaris Jenderal PBNU. Ia mencontohkan KH Idham Chalid yang pernah menjadi Sekjen PBNU sebelum kemudian dipercaya memimpin organisasi sebagai Ketua Lumrah.

Selain itu, posisi Ketua Pengurus Area Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur juga dinilai Mempunyai rekam jejak kuat dalam melahirkan pemimpin nasional NU.

KH Hasyim Muzadi menjadi salah satu Teladan tokoh yang meniti perjalanan kepemimpinan nasional setelah sebelumnya memimpin PWNU Jawa Timur.

“Kalau Menyaksikan statistik, yang pernah menjadi Sekjen punya Kesempatan, yang pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Timur punya Kesempatan, dan yang pernah menjadi Katib Aam juga punya Kesempatan,” katanya.

Nama Nasaruddin Umar Banyak Disebut di Daerah

Meski pembahasan mengenai calon Ketua Lumrah PBNU belum menjadi agenda Formal organisasi, Gus Ipul mengakui bahwa nama Prof Nasaruddin Umar cukup sering muncul dalam berbagai Perhimpunan dan Obrolan Kaum Nahdliyin di daerah.

Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan adanya perhatian dan dukungan yang mulai berkembang terhadap Menteri Religi RI tersebut.

“Kalau saya berkeliling ke beberapa daerah, memang nama Prof Nasar cukup banyak disebut. Itu yang saya dengar dari berbagai kalangan. Selebihnya tentu akan ditentukan oleh dinamika yang berkembang menjelang muktamar,” ujarnya.

Tetapi demikian, ia menegaskan bahwa seluruh proses pemilihan nantinya tetap bergantung pada dinamika organisasi dan keputusan para peserta Muktamar.

Munas-Konbes Pusat perhatian Bahas Isu Strategis

Gus Ipul juga menegaskan bahwa Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Al Falah Ploso pada 20–22 Juni 2026 Tak akan membahas pencalonan Ketua Lumrah PBNU.

Perhimpunan tersebut lebih diarahkan Kepada membahas berbagai isu strategis keagamaan, keumatan, serta rekomendasi organisasi yang akan menjadi bahan Krusial menjelang Penyelenggaraan Muktamar NU.

Karena itu, pembicaraan mengenai figur calon Ketua Lumrah Tetap berada di luar agenda Formal Munas dan Konbes.

Gus Ipul Tegaskan Tak Maju dalam Bursa Ketua Lumrah

Dalam kesempatan yang sama, Gus Ipul turut menanggapi spekulasi yang mengaitkan dirinya dengan bursa calon Ketua Lumrah PBNU.

Meski Begitu ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU, ia menegaskan Tak Mempunyai keinginan Kepada maju maupun menerima pencalonan dalam kontestasi kepemimpinan organisasi.

“Saya sudah menyatakan dengan tegas, saya Tak mencalonkan diri dan Tak mau dicalonkan. Dua-duanya,” tandas Gus Ipul.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan posisinya yang memilih Pusat perhatian menjalankan tugas sebagai Sekjen PBNU dan menyukseskan agenda organisasi menjelang Muktamar mendatang.

Dengan semakin seringnya nama Prof Nasaruddin Umar disebut dalam berbagai Perhimpunan Nahdlatul Ulama, dinamika menuju Muktamar diperkirakan akan Lalu berkembang. Tetapi hingga Begitu ini, belum Eksis agenda Formal organisasi yang membahas atau menetapkan figur calon Ketua Lumrah PBNU. [nm/kun]