Polda Metro Jaya meningkatkan status penanganan kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL 5568A di perlintasan Stasiun Bekasi Timur ke tahap penyidikan pada Senin, 27 April 2026. Insiden yang menelan 16 korban jiwa ini terjadi Demi KRL sedang berhenti menunggu pembersihan jalur akibat kecelakaan lain di Posisi tersebut.
Kecelakaan bermula Demi KRL rute Kampung Bandan-Cikarang tertahan lebih dari lima menit karena adanya kerumunan massa yang menutupi jalur. Berdasarkan data yang dihimpun dari Detikcom, tabrakan terjadi pada pukul 20.51 WIB ketika KA Argo Bromo Anggrek menghantam bagian belakang KRL yang sedang dalam posisi parkir.
Ruka, seorang penumpang gerbong depan, memberikan kesaksian mengenai kondisi sesaat sebelum benturan keras terjadi di jalur arah luar Jakarta tersebut.
“Lihat (KRL yang menabrak taksi hijau), tapi kelihatannya nggak menghalangi jalur sih. Sepertinya kereta saya berhenti karena Eksis kerumunan, kerumunan massa itu. Jadi jalurnya Enggak steril. Sebenarnya, kalau misalkan Enggak Eksis kerumunan massa, kemungkinan kita Lagi Dapat lanjut jalan,” kata Ruka kepada detikX.
Benturan tersebut mengakibatkan hentakan kuat yang mendorong rangkaian KRL ke depan hingga Membangun para penumpang terjatuh di dalam gerbong.
“Itu yang awal saya pikirkan, kok keretanya jalan sendiri. Oh, Lanjut Eksis, tiba-tiba Eksis yang nyeletuk, ditabrak! Ditabrak!” tuturnya.
Saksi mata ini juga mengungkapkan rasa trauma mendalam yang dialaminya setiap kali harus kembali menggunakan moda transportasi kereta api setelah peristiwa tragis malam itu.
“Khawatir. Khawatir Niscaya selalu Eksis ya. Setiap naik KRL juga Niscaya gemeter,” ujar Ruka.
Ruka mengaku perasaan waswas tersebut belum hilang meskipun proses penanganan kecelakaan telah berjalan.
“Lagi gemeter Tamat sekarang. Lagi khawatir,” lanjutnya.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengerahkan Basarnas Special Group (BSG) Buat melakukan evakuasi karena beratnya kerusakan struktur gerbong yang Membangun korban terjepit material besi.
“Tim yang masuk harus menggunakan perlengkapan lengkap, seperti sarung tangan, baju pelindung, helm, kaca helm, dan peralatan lainnya,” kata Syafii kepada detikX.
Syafii menjelaskan bahwa tim evakuasi menghadapi kendala ruang yang sangat sempit akibat lokomotif yang masuk sepenuhnya ke dalam badan gerbong KRL.
“Info kecelakaan kereta dengan kereta itu kereta apa, nomor berapa, dari mana masing-masing kereta, jadwal Tamat di stasiun tersebut, berapa lelet KRL berhenti menunggu proses clearance,” ujarnya.
Meskipun evakuasi berjalan sulit, petugas medis berhasil menyelamatkan lima korban yang terjepit material rangka kereta Buat segera dirujuk ke rumah sakit terdekat.
“Secara efektif mungkin Sekeliling 2 meter ruang yang tersisa,” ujarnya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyatakan penyidik telah mengantongi bukti awal dan memeriksa 24 saksi, termasuk masinis kedua kereta. Kepolisian juga melibatkan Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri Buat meneliti kemungkinan gangguan pada sistem kelistrikan maupun persinyalan di Posisi kejadian.
