Telah diterbitkan
Waktu membaca: 6 menit
Argentina akan menghadapi Pengusutan terkait insiden kericuhan yang terjadi setelah final Piala Dunia, demikian dikonfirmasi FIFA.
Komite Disiplin FIFA telah menunjuk seorang jaksa disiplin dan etik Kepada menilai apa yang terjadi setelah peluit panjang dibunyikan di Stadion MetLife.
Pemain maupun Instruktur yang terlibat dalam insiden tersebut berpotensi dijatuhi skorsing. Sementara itu, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) juga dapat dikenai denda.
Setelah kalah 0-1 dari Spanyol pada Senin (20/07) Awal hari WIB, sejumlah Member tim Argentina dan staf pendukung terlibat cekcok dengan para pemain Spanyol Demi mereka mulai merayakan keberhasilan menjuarai Piala Dunia.
Nahuel Molina, Leandro Paredes, Thiago Almada, dan asisten Instruktur Roberto Ayala tampak terlibat dalam insiden tersebut.
Sistem informasi komentator FIFA sempat secara keliru melaporkan bahwa Paredes diganjar kartu merah oleh wasit Slavko Vincic karena mendorong leher pemain Spanyol, Eric Garcia.
Tetapi, kartu merah Kepada Paredes kemudian dihapus dari catatan pertandingan.
FIFA juga mengonfirmasi kepada BBC Sport bahwa Bukan Terdapat tindakan disipliner yang dijatuhkan kepada pemain tersebut pada Demi kejadian.
Argentina sebelumnya sudah kehilangan satu pemain setelah Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua pada masa tambahan waktu babak kedua.
Sebelumnya, FIFA juga telah memulai proses yang dapat berujung pada tindakan disipliner terhadap Argentina setelah para pemainnya membentangkan spanduk yang mendukung klaim negara mereka atas Kepulauan Falkland usai kemenangan 2-1 atas Inggris di semifinal.
Apa yang terjadi usai final Piala Dunia?
Demi peluit panjang berbunyi di New Jersey, beberapa pemain Argentina, termasuk Lionel Messi, langsung menjatuhkan diri ke lapangan.
Sebagian lainnya hanya berdiri terpaku ketika para pemain Spanyol berlari melintasi lapangan Kepada merayakan keberhasilan mereka.
Rodri, yang telah ditarik keluar pada babak perpanjangan waktu, berlari dari area bangku cadangan Kepada bergabung dengan rekan-rekannya.
Tetapi, ketika gelandang Manchester City itu melintas di dekat Nahuel Molina, bek Argentina tersebut tampak memukul lengan atau perut Rodri.
Insiden itulah yang kemudian memicu kericuhan.
Rodri langsung menghadapi Molina, tetapi Bahkan pemain Argentina itu yang terlihat bergerak maju dengan sikap agresif.
Eric Garcia kemudian berlari menghampiri Kepada membela rekan setimnya. Pada Demi itulah Leandro Paredes ikut terlibat dan tampak menusukkan jarinya ke leher Garcia.
Pemain cadangan yang Bukan dimainkan, Gavi, berusaha melerai. Tetapi, dia Bahkan dijatuhkan ke lapangan oleh Thiago Almada.
Paredes kemudian kembali mendorong Gavi hingga Anjlok dengan menempelkan tangannya ke Paras gelandang Spanyol tersebut.
Asisten Instruktur Argentina, Roberto Ayala, juga tampak memegang leher Garcia. Setelah itu, dia terlihat memukul gelandang Spanyol Dani Olmo.
“Paredes melepaskan dua atau tiga pukulan ke arah Paras seseorang. Dia Betul-Betul menyerang mereka,” kata Alan Shearer dalam siaran BBC One. “Bukan Terdapat tempat bagi tindakan seperti itu dalam sepak bola.”
“Kita Paham betapa besar Definisi pertandingan ini bagi mereka dan betapa menyakitkannya kekalahan. Tetapi, Terdapat Metode yang Betul Kepada menerima kekalahan. Terlalu sering kita Menonton hal seperti ini dari Argentina. Reaksi setelah peluit akhir Betul-Betul Jelek.”
Mantan kiper Inggris, Joe Hart, menambahkan: “Pertandingan sudah selesai. Mereka sama sekali Bukan punya Dalih Kepada mengeluhkan apa yang terjadi hari ini. Perilaku yang menjijikkan.”
Tetapi, Instruktur Argentina Lionel Scaloni, yang sempat berusaha meredakan situasi, tampaknya mengecilkan insiden tersebut dalam wawancara pascapertandingan.
“Kami bersikap sportif Demi menang, dan kami juga harus bersikap sportif Demi kalah,” katanya. “Hari ini kami menunjukkan bahwa kami Paham bagaimana menerima kekalahan.
“Kami kalah dalam pertandingan ini dan kami menerimanya. Tetapi, itu Bukan berarti kami berhenti menjalani hidup atau melupakan Sekalian yang telah kami lakukan Kepada Dapat Tiba ke sini.”
Hukuman apa yang Dapat dihadapi Argentina?
Komite Disiplin FIFA Mempunyai sejumlah opsi Kepada menindaklanjuti kasus ini.
Dengan menunjuk seorang jaksa disiplin dan etik, FIFA akan melakukan penyelidikan yang lebih mendalam, Bukan hanya terkait dugaan tindak kekerasan, tetapi juga kemungkinan pelanggaran lainnya.
Apabila para pemain atau federasi sepak bola Argentina didakwa dan kemudian dinyatakan bersalah, Kesempatan dijatuhkannya Hukuman yang lebih berat pun meningkat.
Pasal 13 dalam Kode Disiplin FIFA mengatur tentang perilaku ofensif dan prinsip-prinsip fair play atau sportivitas.
Tindakan para pemain dan staf dapat dinilai sebagai bentuk “pelanggaran terhadap Kebiasaan dasar perilaku yang Layak” serta “berperilaku dengan Metode yang mencemarkan nama Berkualitas sepak bola dan/atau FIFA”.
Jaksa disiplin dan etik akan mempertimbangkan “Elemen-Elemen yang memberatkan maupun meringankan” dalam proses penilaian.
Lembaga tersebut juga Mempunyai kewenangan Kepada menjatuhkan Pelarangan beraktivitas yang berlaku secara Mendunia.
Kasus Luis Suarez gigit telinga Chiellini
FIFA pernah menggunakan ketentuan ini Kepada mendakwa Luis Rubiales, yang Demi itu menjabat sebagai presiden Federasi Sepak Bola Spanyol, setelah dia mencium bibir pemain Spanyol Jenni Hermoso usai kemenangan Spanyol atas Inggris di final Piala Dunia Putri.
Pada 2023, Rubiales dijatuhi Pelarangan terlibat dalam seluruh aktivitas yang berkaitan dengan sepak bola selama tiga tahun. Upayanya Kepada membatalkan hukuman tersebut melalui proses banding juga ditolak.
Teladan lain terjadi pada Piala Dunia 2014 ketika penyerang Uruguay, Luis Suarez, dijatuhi skorsing dari seluruh aktivitas sepak bola selama empat bulan setelah menggigit bek Italia Giorgio Chiellini.
Hukuman itu semula diperkirakan Membangun pemain Liverpool tersebut absen dalam sembilan laga pertama musim Perserikatan Penting Inggris.
Tetapi, dia kemudian pindah ke Barcelona pada bursa transfer musim panas dan akhirnya menjalani debutnya Serempak klub Spanyol itu pada 25 Oktober.
Meski demikian, kecil kemungkinan Thiago Almada, Roberto Ayala, Nahuel Molina, maupun Leandro Paredes akan menerima hukuman Pelarangan beraktivitas selama itu.
Gestur vulgar Martinez di Piala Dunia 2022
Tetapi, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) juga Mempunyai rekam jejak persoalan terkait perilaku para pemainnya dalam beberapa tahun terakhir.
Argentina pernah didakwa atas dugaan “perilaku ofensif dan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip fair play” serta “pelanggaran yang dilakukan pemain dan tim kepelatihan” setelah final Piala Dunia 2022.
Tim asal Amerika Selatan itu menjuarai turnamen setelah mengalahkan Prancis melalui adu penalti. Tetapi, Metode mereka merayakan kemenangan menuai kritik.
Kiper Aston Villa, Emiliano Martínez, Membangun gestur vulgar menggunakan trofi Kiper Terbaik Turnamen.
Dia juga terekam di ruang ganti sedang mengejek bintang Prancis, Kylian Mbappé.
Argentina kemudian didenda sebesar £18.300 (Sekeliling Rp400 juta). Tetapi, Bukan Terdapat tindakan disipliner yang dijatuhkan kepada pemain mana pun yang terlibat.
Setelah Argentina menjuarai Copa América 2024, gelandang Chelsea Enzo Fernández terpaksa meminta Ampun atas video yang dia unggah dan mengacu pada kemenangan Argentina di final Piala Dunia.
Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) menyebut Tembang yang terdengar dalam video tersebut sebagai nyanyian yang “rasis dan diskriminatif”.
Martínez kemudian dijatuhi Pelarangan bermain dua pertandingan pada 2024 karena “perilaku ofensif” dalam laga kualifikasi Piala Dunia melawan Chile dan Kolombia.
Kiper Argentina itu mengulangi selebrasi kontroversialnya dengan menggunakan replika trofi Copa América setelah kemenangan 3-0 atas Chile.
Empat hari kemudian, dia memukul kamera dengan sarung tangannya ketika seorang kamerawan mendekatinya di lapangan usai kekalahan 1-2 dari Kolombia.
Insiden spanduk ‘Malvinas Punya Argentina’
Dalam Piala Dunia kali ini, AFA juga sudah terancam menerima denda terkait spanduk yang dibentangkan setelah pertandingan melawan Inggris.
Para pemain Argentina merayakan kemenangan Sembari memegang spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas“, yang berarti “Kepulauan Falkland adalah Punya Argentina”.
Pada 2014, AFA pernah didenda £20.000 (Sekeliling Rp440 juta) setelah para pemainnya membentangkan spanduk dengan pesan yang sama sebelum pertandingan persahabatan melawan Slovenia.
FIFA juga berpeluang menjatuhkan Hukuman kepada para pemain yang memegang spanduk tersebut, yakni bek Tottenham Hotspur Cristian Romero, mantan pemain Spurs Giovani Lo Celso, dan bek Manchester United Lisandro Martínez.
Kasus serupa pernah terjadi setelah Spanyol mengalahkan Inggris 2-1 pada final Euro 2024.
Kapten Spanyol Álvaro Morata dan rekan setimnya, Rodri, dijatuhi Pelarangan bermain satu pertandingan oleh UEFA setelah meneriakkan slogan “Gibraltar Punya Spanyol” Demi perayaan kemenangan.
Hingga kini belum Terdapat kepastian mengenai Ketika jaksa disiplin FIFA akan menyelesaikan penyelidikannya terhadap perilaku tim Argentina.
Sebagai Komparasi, pada 18 Februari, UEFA menunjuk seorang inspektur etik dan disiplin Kepada menyelidiki dugaan pelecehan rasial yang dilakukan Gianluca Prestianni terhadap pemain Real Madrid, Vinicius Jr, dalam pertandingan yang dimenangkan Madrid 1-0 atas Benfica.
Lebih dari dua bulan kemudian, tepatnya pada 24 April, Prestianni dijatuhi hukuman Pelarangan bermain enam pertandingan atas tindakan homofobik. Tiga pertandingan di antaranya ditangguhkan selama dua tahun.
