Percepatan Transisi Daya MPR Temui Lembaga Keuangan Dunia

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN Eddy Soeparno mengadakan pertemuan strategis dengan sejumlah lembaga keuangan Global yang tergabung dalam Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ) pada Jumat, 26 Juni 2026. Langkah ini diambil guna memaparkan komitmen besar Presiden Prabowo Subianto terkait percepatan transisi Daya dan aksi Konkret pengendalian iklim di tanah air.

“Selain itu saya juga menyampaikan potensi proyek Daya Baru Terbarukan (EBT) dan Kesempatan pembiayaan bagi bank-bank yang Mempunyai kepedulian tinggi terhadap green financing,” kata Eddy dalam keterangan tertulis, Minggu (28/6/2026) sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Pertemuan yang berlangsung interaktif dalam rangkaian agenda London Climate Action Week tersebut dihadiri oleh raksasa keuangan Dunia, antara lain Deutsche Bank, Citi, Standard Chartered, HSBC, MUFG, dan Bank of America. Dalam kesempatan itu, Eddy didampingi oleh Steven Marcelino, Aryo Djojohadikusumo, dan Bobby Gafur Umar yang mewakili Bilik Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

“Pembahasannya komprehensif mencakup kebijakan, legislasi, investasi dan pembiayaan, serta dukungan yang siap diberikan Bagus oleh kami sebagai pimpinan MPR, maupun Sahabat-Sahabat yang tergabung di KADIN,” lanjut Eddy, Member Komisi XII DPR RI.

Sebagai mantan praktisi perbankan dan keuangan Global selama 26 tahun, Eddy memanfaatkan Lembaga ini Buat mendengarkan langsung berbagai keluhan serta hambatan investasi yang dihadapi para bankir Dunia di Indonesia. Beberapa persoalan klasik yang mengemuka meliputi lambatnya proses perizinan yang berlapis hingga inkonsistensi regulasi.

“Sebagai mantan pelaku perbankan di lembaga keuangan asing, saya mengerti keluhan dan hambatan yang mereka temui, mulai dari proses perizinan yang Pelan dan berlapis, inkonsistensi kebijakan, Tiba dengan regulasi yang kerap berubah,” ungkap Eddy.

Eddy sangat menyayangkan karena persoalan birokrasi tersebut Lagi belum bergeser dari situasi belasan tahun Lewat. Kendati demikian, dirinya memberikan jaminan penuh kepada para investor bahwa pemerintahan di Rendah kepemimpinan Presiden Prabowo berkomitmen kuat melakukan pembenahan regulasi secara menyeluruh.

“Yang saya sayangkan, keluhan hari ini Lagi sama dengan permasalahan yang dihadapi ketika saya Lagi pelaku perbankan 15 tahun yang Lewat. Oleh karena itu saya yakinkan para bankir bahwa pemerintah Presiden Prabowo telah bertekad Buat memangkas birokrasi dan inefesiensi Buat meningkatkan kemudahan berusaha di Indonesia,” tegas Eddy.

Pihak parlemen juga menyatakan kesiapannya Buat membuka jalur komunikasi yang suportif demi memastikan Segala kendala investasi hijau dapat segera diurai.

“Sebelum mengakhiri pertemuan, saya menawarkan diri menjadi Kawan Obrolan ataupun rekan ‘curhat’ Kalau di masa mendatang terdapat hambatan yang menyebabkan proyek-proyek EBT menjadi tertunda,” ujar Eddy.

Upaya proaktif ini diharapkan Bisa menempatkan Indonesia sebagai pemain Primer dalam pengembangan Daya hijau Dunia, mengingat besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki.

“Ketika ini kita Malah perlu mempercepat proses transisi Daya, Buat memperkuat ketahanan Daya nasional, sekaligus melaksanakan komitmen Buat pengurangan emisi karbon. Saya akan proaktif membantu Percepatan pembiayaan proyek-proyek EBT, agar Indonesia terdepan dalam mengembangkan potensi EBT yang jumlahnya besar dan melimpah,” tutup Eddy.