Kapal tanker Pertamina berhasil melintasi Selat Hormuz

Pertamina Pride
Telah diterbitkan

Waktu membaca: 5 menit

PT Pertamina (Persero) memastikan kapal tanker Pertamina Pride berhasil melintasi Selat Hormuz setelah sempat tertahan di kawasan tersebut sejak awal Maret Lampau.

Kapal Pertamina Pride mulai bergerak dari Teluk Arab pada Selasa (07/07) pukul 13.00 waktu Dubai (16.00 WIB) dan berhasil melintasi area kritikal serta Selat Hormuz pada Rabu (08/07) pukul 00.15 WIB.

Sebelumnya, Kapal Gamsunoro juga telah bergerak dari Teluk Arab dan melewati Selat Hormuz dengan Kondusif, sejak 24 Juni 2026 Lampau.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan keberhasilan pelayaran Pertamina Pride merupakan hasil dari koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran, Iran serta seluruh pemangku kepentingan terkait.

“Pertamina berterima kasih atas dukungan penuh Kemenlu dan KBRI Teheran. Berkat kerja sama tersebut, Kapal Gamsunoro dan Pertamina Pride Bisa keluar dari kawasan Teluk Arab,” ujar Baron.

Selama perjalanan, menurut Baron, kapal dipantau secara intensif selama 24 jam.

Awak kapal di laut Lalu berkoordinasi dengan tim di darat yang bersiaga di PT Pertamina International Shipping guna memastikan seluruh Mekanisme keamanan berjalan optimal.

“Alhamdulillah seluruh kru Pertamina Pride berada dalam kondisi Kondusif dan kapal dapat melanjutkan pelayaran sesuai rencana menuju Indonesia,” tambah Baron.

Menurut Baron, VLCC Pertamina Pride yang mengangkut Sekeliling dua juta barel minyak mentah tersebut Begitu ini tengah melanjutkan perjalanan menuju Kilang Cilacap dan diperkirakan tiba di Indonesia pada 23 Juli 2026.

bahan bakar minyak Petronas di Malaysia.

Pada April Lampau, sebuah kapal tanker yang disewa oleh Petronas Demi mengangkut minyak mentah dari Irak telah melintasi Selat Hormuz menuju Johor, Malaysia.

Info itu diumumkan Kedutaan Besar Iran di Kuala Lumpur melalui unggahan di X, pada Senin (06/04).

“Kami telah mengatakan bahwa Republik Islam Iran Kagak melupakan Kolega-temannya. Kapal Malaysia pertama telah melintasi Selat Hormuz,” bunyi unggahan tersebut, yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Melayu.

Pelayaran kapal bernama Ocean Thunder itu terjadi sehari setelah Iran mengatakan Irak dikecualikan dari blokade di Selat Hormuz, demikian dilaporkan kantor Informasi Reuters yang mengutip data lembaga keuangan LSEG dan data maritim Kpler.

Ocean Thunder memuat Sekeliling satu juta barel minyak mentah Basrah Heavy pada 2 Maret dan diperkirakan akan membongkar muatannya di Pengerang, Johor, pada pertengahan April, menurut data Kpler.

Kapal tanker itu—yang menurut data disewa oleh unit Petronas, Petco—termasuk di antara tujuh kapal terkait Malaysia yang telah mendapat izin dari Iran Demi melintasi selat tersebut, kata dua narasumber kepada Reuters.

Ketujuh kapal tersebut terkait dengan perusahaan-perusahaan Malaysia, termasuk Petronas, Vantris Energy, dan MISC.

Buah diplomasi

Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke, mengaitkan hal itu dengan “Interaksi diplomatik yang Bagus dengan pemerintah Iran”, sebut media Malaysia.

Filipina adalah negara terkini yang mencapai kesepakatan dengan Iran.

Pejabat Iran menjamin “pelintasan yang Kondusif, tanpa hambatan, dan Segera” bagi kapal-kapal berbendera Filipina melalui jalur perairan tersebut, kata Menteri Luar Negeri Filipina, Theresa Lazaro.

Theresa mengatakan kesepakatan tersebut—yang dicapai setelah “percakapan telepon yang sangat produktif” dengan Teheran pada Kamis (02/04)—sangat Krusial Demi membantu memastikan pasokan Daya dan pupuk.

Filipina mengimpor 98% minyaknya dari Timur Tengah dan merupakan negara pertama yang menetapkan keadaan darurat Daya nasional setelah harga bensin di negara itu mencapai lebih dari dua kali lipat sejak AS dan Israel menyerang Iran, akhir Februari Lampau.

Tetapi, menurutnya, kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau pihak yang terlibat dalam konflik Begitu ini Kagak akan diizinkan melintas.

Ia mengatakan bahwa kapal dari Amerika Perkumpulan, Israel, dan sejumlah negara Teluk yang berperan dalam krisis yang berlangsung Kagak akan diberi izin transit.

“Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah Area perang, dan Kagak Eksis Argumen Demi mengizinkan kapal-kapal Punya musuh dan sekutu mereka melintas. Tetapi selat tetap terbuka bagi pihak lainnya,” ujarnya pada 25 Maret Lampau.

Peta Selat Hormuz

Filipina, yang kerap dipandang sebagai sekutu AS, merupakan kasus menarik yang dapat menunjukkan bahwa Iran “bersedia melakukan pemisahan”, kata Roger Fouquet dari Energy Studies Institute, National University of Singapore.

“Iran tampaknya membedakan antara aliansi sebuah negara dan partisipasi aktifnya dalam konflik,” sambungnya.

Negara-negara lain juga telah melakukan pembicaraan dengan Iran.

Pakistan mengumumkan pada 28 Maret bahwa Iran telah menyetujui Demi mengizinkan 20 kapalnya melintasi Selat Hormuz.

“Ini adalah isyarat yang positif dan konstruktif dari Iran dan patut diapresiasi,” kata Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar.

“Dialog, diplomasi, dan langkah-langkah pembangunan kepercayaan seperti ini adalah satu-satunya jalan ke depan.”

Kapal tanker India yang mengangkut gas petroleum cair melintasi Selat Hormuz.

Iran juga secara terbuka menyambut kapal-kapal berbendera India yang melintasi selat tersebut.

“Kolega-Kolega India kami berada di tangan yang Kondusif, Kagak perlu khawatir,” tulis Kedutaan Besar Iran di India dalam sebuah unggahan di X pekan Lampau.

Unggahan itu merupakan tanggapan atas unggahan lain oleh kantor-kantornya di Afrika Selatan yang menyatakan bahwa “hanya Iran dan Oman” yang akan memutuskan masa depan Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, mengatakan kepada Financial Times pada Maret bahwa pelintasan kapal-kapal tanker negaranya merupakan “buah diplomasi”.