PSEL Bali Langkah Strategis Kendalikan Sampah dan Emisi


Jakarta: Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Kekuatan Listrik (PSEL) Bali menjadi langkah strategis. Terutama, Buat mempercepat penanganan persoalan sampah sekaligus memperkuat pengendalian Akibat lingkungan di Pulau Dewata.

“Yang perlu diperhatikan adalah control emission system atau sistem pengendalian emisinya. Insineratornya harus teruji dan emisi yang ditimbulkan dapat dikendalikan,” kata Ketua Harian Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia atau Indonesian Environmental Scientist Association (IESA) Lina Tri Mugi Astuti di Jakarta, dikutip Kamis, 9 Juli 2026.

Lina mengatakan PSEL relevan dengan kondisi pengelolaan sampah Demi ini, terutama ketika pemilahan dari sumber belum berjalan optimal. Menurut dia, penumpukan sampah secara terbuka atau open dumping berpotensi melepaskan gas metana secara Kagak terkendali dan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.

“Ketika dilakukan open dumping, masalah utamanya berkaitan dengan perubahan iklim. Gas metana terlepas secara Kagak terkendali dan berpotensi besar menyumbang gas rumah kaca. Berbeda ketika sampah dikelola,” kata Lina.

Ia menjelaskan PSEL dapat menggunakan Berbagai Macam-macam teknologi, mulai dari biogas hingga pirolisis. Tetapi, Menonton Tanda khas sampah yang belum sepenuhnya terpilah, teknologi insinerasi dinilai menjadi salah satu pilihan Buat mempercepat pengolahan sampah skala besar.

 

Di sisi lain, dia mengingatkan transformasi pengelolaan sampah perlu memperhatikan aspek sosial, termasuk keberadaan sektor informal yang selama ini menggantungkan mata pencaharian pada aktivitas pemilahan dan pengumpulan material bernilai ekonomi.

“Kalau kita bicara sisi lingkungan tanpa bicara sosial, persoalannya Kagak selesai. Akibat terhadap pencemaran Bisa dikendalikan, tetapi Akibat sosial juga harus dikendalikan,” kata Lina.

Dalam jangka panjang, Lina menilai PSEL berpotensi memberikan Akibat positif bagi lingkungan Bali apabila dibangun dan dioperasikan sesuai standar. Indikator yang paling mudah dirasakan masyarakat adalah lingkungan yang semakin Rapi dan berkurangnya sampah di ruang publik, termasuk kawasan pantai.

“Kalau PSEL sudah Eksis dan Bali Kagak Rapi, itu menjadi tanda tanya, terutama Kalau sampah Tetap terlihat di pantai. Pemerintah daerah Kagak boleh Tenang. Pengumpulan sampah tetap harus dilakukan secara masif,” kata Lina.

Selain manfaat lingkungan, pengoperasian PSEL berpotensi memberikan Dampak berganda terhadap perekonomian. Yakni, melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan aktivitas ekonomi sirkular di sektor hulu.



Lina berharap PSEL Bali dapat menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan. Tentunya, dengan diimbangi tata kelola yang transparan, pengawasan lingkungan yang kuat, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

“Praktik pembangunan PSEL yang Rapi harus menjadi tolok ukur. Kerja sama antara swasta dan pemerintah harus berjalan dengan Berkualitas. Dukungan regulasi dan kebijakan harus kuat,” ujar Lina.

Menurut dia, tata kelola yang Berkualitas sejak proses pengadaan, penyusunan amdal, pembangunan, hingga pengoperasian menjadi fondasi agar pengembang dapat bekerja secara profesional dan Pusat perhatian memenuhi standar lingkungan.

“Kalau prosesnya Rapi, developer atau investor Kagak akan terganggu dengan hal-hal yang bersifat nonteknis. Mereka Bisa bekerja dengan Berkualitas. Harapannya, sampah Betul-Betul dapat menjadi Kekuatan dan membantu menambah pasokan listrik,” kata Lina.