Tuchel telah menerima banyak kritikan, Berkualitas dari penonton di dalam stadion maupun dari mereka yang berada di seberang Samudra Atlantik. Tetapi, harus diakui, reaksi semacam ini memang sudah Dapat diprediksi setelah hasil mengecewakan Inggris pada laga perdana, mengingat susunan pemain yang dipilih oleh Instruktur asal Jerman tersebut.
Pendapat terbelah setelah Tuchel mengumumkan skuad awalnya, di mana ia Tak memasukkan Foden dan Palmer, serta para Spesialis dalam mengoper bola, Adam Wharton dan Trent Alexander-Arnold.
Sebaliknya, Tuchel memilih skuad yang disesuaikan dengan Pola 4-2-3-1-nya, dengan pemain nomor 10 yang mudah dikenali, pemain sayap yang tetap berada di sisi lapangan Tetapi Pandai menciptakan Kesempatan lewat dribel, serta bek sayap serba Dapat yang dapat mengisi ruang di antara lini. Hal itu berarti banyak gerakan yang terkoordinasi dengan Berkualitas, serta pola pergerakan yang sudah dikenal. Ketika Kane turun ke lini belakang, para pemain sayap berlari ke ruang di belakangnya. Ketika Rice dan Elliot Anderson menarik bek Musuh keluar dari tengah, ruang Hampa pun terbuka bagi Bellingham.
Ini adalah hal yang cukup mendasar di level tertinggi sepak bola, tetapi memang sedikit bertentangan dengan status quo Inggris, terutama pada masa-masa akhir kepemimpinan Sir Gareth Southgate. Southgate Ingin timnya bermain ‘secara spontan’, dan percaya bahwa menurunkan Segala pemain terbaiknya di lapangan pada akhirnya akan membawa kemenangan.
Hasilnya memang mengesankan karena mereka berhasil mencapai dua final Euro, tetapi mereka juga bermain cukup Jelek dalam waktu yang cukup lelet selama keempat turnamen yang dilalui Southgate. Tuchel adalah jawaban yang wajar, dan hal itu Membangun sebagian orang Tak senang.
