Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir. Foto: Dok istimewa
Jakarta: PT PLN Kekuatan Penting Indonesia (PLN EPI) menilai pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) berbasis limbah Likuid kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dapat menjadi salah satu solusi paling efektif Demi menekan emisi metana sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap gas alam Likuid (liquefied natural gas/LNG).
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengungkapkan, Indonesia Mempunyai potensi besar Demi mengubah limbah sawit menjadi sumber Kekuatan rendah karbon yang bernilai ekonomi. Pemanfaatan POME menjadi CBG dinilai Bisa mendukung Sasaran dekarbonisasi sekaligus memperkuat ketahanan Kekuatan nasional.
“Kalau industri sawit ini Dapat kita manfaatkan Demi kepentingan Kekuatan ekonomi, potensinya sangat besar. Sumbernya Eksis, teknologinya Eksis, pembiayaannya Eksis. Tinggal bagaimana kita membangun skema bisnis yang Benar sehingga Dapat segera diimplementasikan,” kata Hokkop dalam Perhimpunan Climate Policy Initiative (CPI) dikutip Senin, 15 Juni 2026.
Indonesia Mempunyai Sekeliling 3.000 pabrik kelapa sawit dengan potensi limbah Likuid mencapai Sekeliling 130 juta meter kubik per tahun. Tetapi hingga kini sebagian besar potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber Kekuatan domestik.
Di sisi lain, limbah POME menjadi salah satu penyumbang emisi metana yang signifikan. PLN EPI memperkirakan emisi dari limbah sawit mencapai Sekeliling 20 juta ton CO2e per tahun.
“Kita Menyantap sumber emisi dari POME ini mencapai Sekeliling 20 juta ton karbon ekuivalen. Dekat 90 persen sebenarnya Dapat diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber Kekuatan baru,” ujarnya.
Hokkop menjelaskan pengembangan CBG Kagak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi, tetapi juga mendukung Sasaran bauran Kekuatan baru terbarukan (EBT) nasional sebesar 44–48 persen pada 2030 serta pencapaian Net Zero Emissions (NZE) 2060.

(Ilustrasi. Foto: Dok istimewa)
PLN EPI bangun ekosistem CBG terintegrasi
Demi mempercepat pengembangan industri biomethane, PLN EPI membangun ekosistem CBG terintegrasi mulai dari pengamanan pasokan bahan baku, pengembangan fasilitas produksi, hingga penciptaan pasar. Dalam model tersebut, PLN EPI berperan sebagai agregator dan offtaker yang menghubungkan pabrik kelapa sawit, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, sektor industri, hingga pembangkit listrik.
“Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini Dapat berjalan lebih Segera,” kata Hokkop.
Salah satu implementasi yang tengah dipersiapkan PLN EPI adalah proyek cofiring CBG di PLTGU Belawan. Demi satu turbin gas berkapasitas 130 megawatt (MW) dengan tingkat cofiring 2,5 persen, dibutuhkan Sekeliling 450 MMBTUD Bio-CBG yang berasal dari pemanfaatan Sekeliling 330 ribu meter kubik POME per tahun atau setara satu fasilitas CBG.
Sementara Demi memenuhi kebutuhan empat turbin di PLTGU Belawan, diperlukan Sekeliling empat fasilitas CBG dengan total investasi Sekeliling USD20 juta. Implementasi tersebut diperkirakan Bisa menghindari emisi hingga Sekeliling 500 ribu ton CO2e.
Hokkop menjelaskan proyek percontohan di PLTGU Belawan menjadi model awal integrasi biomethane ke dalam sistem ketenagalistrikan nasional. Selain menekan emisi, skema cofiring memungkinkan pemanfaatan infrastruktur pembangkit gas yang telah tersedia sehingga dapat mempercepat peningkatan bauran Kekuatan terbarukan tanpa memerlukan pembangunan pembangkit baru dalam skala besar.
PLN EPI juga menghitung potensi pengembangan CBG secara nasional sangat besar. Dari total kapasitas pembangkit berbasis gas sebesar 18,4 gigawatt (GW), kebutuhan CBG Demi skema cofiring 2,5 persen diperkirakan mencapai Sekeliling 60 ribu MMBTUD dengan melibatkan Sekeliling 200 pabrik kelapa sawit. Potensi pengurangan emisinya dapat mencapai Sekeliling 14 juta ton CO2e.
Selain manfaat lingkungan, pengembangan CBG juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi yang signifikan. Berdasarkan simulasi PLN EPI, satu proyek CBG dapat menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp1,7 triliun dan mengurangi emisi Sekeliling 700 ribu ton CO2e.
PLN EPI menargetkan pengembangan bisnis CBG secara bertahap hingga 2030. Dalam roadmap perusahaan, kapasitas produksi CBG ditargetkan meningkat dari 1.000 MMBtu pada 2026 menjadi 2.957 BBTU pada 2030. Pada periode yang sama, disertai pembangunan tiga fasilitas CBG Demi memasok kebutuhan pembangkit dan mendukung program dedieselisasi nasional.
“Bioenergi menjadi jembatan antara transisi Kekuatan, ketahanan Kekuatan, dan ekonomi kerakyatan. Limbah yang selama ini menjadi sumber emisi dapat diubah menjadi sumber Kekuatan yang bernilai tambah sekaligus memperkuat kemandirian Kekuatan nasional,” kata Hokkop.
Pengembangan CBG menunjukkan bahwa solusi transisi Kekuatan Kagak selalu berasal dari teknologi baru yang mahal. Melalui pemanfaatan limbah sawit, Indonesia Mempunyai Kesempatan besar menekan emisi metana, mengurangi ketergantungan LNG, serta membangun ketahanan Kekuatan yang lebih berkelanjutan berbasis sumber daya domestik.
