Peringatan Hari Susu Nusantara (2026) ini Kagak boleh dimaknai hanya sebagai seremonial belaka
Jakarta (ANTARA) – Pemerintah mengupayakan kemandirian susu nasional dari hulu hingga hilir melalui penguatan produksi, riset, hilirisasi, dan kolaborasi lintas sektor guna mendukung ketahanan pangan serta pembangunan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengatakan Sekeliling 80 persen kebutuhan susu nasional Tetap dipenuhi melalui impor sehingga kemandirian sektor ini perlu segera diperkuat secara bertahap dan berkelanjutan. Indonesia Demi ini baru Pandai memproduksi 1 juta ton dari kebutuhan 4 juta ton per tahun.
“Peringatan Hari Susu Nusantara (2026) ini Kagak boleh dimaknai hanya sebagai seremonial belaka. Tetapi, hari ini mestinya kita kemudian mengevaluasi betapa Tetap banyak PR (pekerjaan rumah) yang kemudian harus kita lakukan Serempak,” kata Hanif Demi membuka kegiatan Peringatan Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, Minggu.
Ia menegaskan peringatan Hari Susu Nusantara harus menjadi momentum Pengkajian Serempak Demi mempercepat pembangunan sektor persusuan nasional yang selama ini Tetap menghadapi berbagai tantangan.
Menurutnya, pengembangan sektor susu Kagak dapat dibebankan kepada Kementerian Pertanian semata, melainkan membutuhkan gotong royong seluruh pemangku kepentingan mulai pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat luas.
Ia mengungkapkan tingkat konsumsi susu nasional Demi ini Tetap rendah, yakni Sekeliling 16,2 hingga 16,8 liter per kapita per tahun atau setara satu sendok susu per hari, jauh di Rendah kebutuhan ideal.
Padahal susu mengandung berbagai nutrisi Krusial seperti protein, kalsium, kalium, vitamin A, vitamin B12, vitamin D, dan probiotik yang berperan besar dalam membangun kekuatan tulang, otot, serta perkembangan otak generasi muda.
Dia menuturkan pembangunan sumber daya Sosok harus menjadi perhatian Istimewa karena Indonesia Demi ini Mempunyai Sekeliling 70 persen penduduk usia produktif yang menjadi modal Krusial dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
“Maka pada kesempatan hari ini, ini harus menjadi perhatian kita serius. Belajar dari perkembangan susu ini, maka juga harus menjadi perhatian serius kita Seluruh. Sejak tahun 1920-an masuklah investasi Demi pemenuhan susu nasional kita. Kemudian berkembang pesat di tahun 2000 Tamat 2020,” jelasnya.
“Tetapi Seluruh Tetap berorientasi kepada impor. Jadi kebutuhan susu kita, yang tadi 1 sendok 1 hari, itu juga 80 persen-nya dipenuhi, diperoleh dari impor kita. Sudah cukup lelet kita sebenarnya terbelenggu pada importasi,” tambah Hanif.

Menurutnya, ketergantungan terhadap impor dapat menjadi risiko bagi ketahanan pangan nasional ketika terjadi gejolak geopolitik Dunia yang berpotensi mengganggu pasokan bahan pangan dari negara-negara pemasok Istimewa dunia.
“Maka apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto, Demi Benar-Benar menghadirkan ketahanan pangan sebagai program prioritas nasional ini Kagak Pandai ditunda Tengah,” tegas Hanif.
Karena itu, pemerintah mendorong penguatan ekosistem persusuan nasional melalui pembangunan sistem yang terintegrasi dari sektor hulu, sektor tengah, hingga sektor hilir agar Pandai memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Hanif menilai pengembangan sektor hulu perlu difokuskan pada peningkatan populasi dan produktivitas ternak yang sesuai dengan Kepribadian iklim tropis Indonesia, sehingga Kagak sepenuhnya bergantung pada ternak dari Area subtropis.
Selain itu, riset dan Penemuan perlu diperkuat Demi menghasilkan varietas ternak yang adaptif terhadap kondisi lokal sekaligus meningkatkan produktivitas susu, sehingga industri nasional semakin kompetitif dan berkelanjutan.
Hanif menjelaskan pengembangan sektor persusuan nasional Tetap menghadapi tantangan karena sebagian besar sapi Peras yang digunakan Demi ini berasal dari Area subtropis seperti Eropa, Australia, dan Selandia Baru yang Mempunyai Kepribadian iklim berbeda dengan Indonesia.
Menurut dia, Indonesia merupakan negara tropis yang berada di kawasan Sekeliling garis khatulistiwa sehingga membutuhkan jenis ternak yang Pandai beradaptasi dengan kondisi suhu, kelembapan, dan lingkungan tropis secara optimal Demi mendukung produktivitas susu.
Ia menilai penggunaan ternak dari Area subtropis sering kali memerlukan penyesuaian lingkungan tertentu, termasuk pemeliharaan di kawasan dataran tinggi, sehingga pengembangan varietas ternak yang sesuai dengan Kepribadian tropis Indonesia menjadi kebutuhan Krusial.
Karena itu, Hanif mendorong penguatan riset dan Penemuan Demi menghasilkan ternak Peras yang lebih adaptif dan produktif di lingkungan tropis, sekaligus Pandai meningkatkan produksi susu nasional guna memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.
Selain penguatan sektor hulu, pemerintah juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas industri pengolahan susu di sektor tengah dan hilir melalui pembangunan industri yang terintegrasi agar rantai pasok persusuan nasional semakin kuat dan berkelanjutan.
“Ini yang harus Benar-Benar kita pikirkan. Mulai dari hulunya, seberapa besar kemudian penghasil susu ini Pandai kita hadirkan di negara kita,” kata Hanif.
