Gerakan aktivisme pemuda yang menamakan diri Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Kecoak Maju melancarkan aksi unjuk rasa di New Delhi Demi menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Federal India, Dharmendra Pradhan. Sebagaimana dilansir dari Detikcom, gelombang protes ini dipicu oleh akumulasi kekecewaan atas dugaan kebocoran soal ujian nasional serta berbagai penyimpangan sistemik dalam ujian Krusial yang menentukan masa depan generasi muda India.
Aksi turun ke jalan tersebut berakar dari sindiran kontroversial yang disampaikan oleh Ketua Mahkamah Mulia India, Surya Kant, pada Mei 2026. Dalam persidangan terbuka, Surya Kant mengibaratkan para pemuda yang kesulitan mendapat pekerjaan sebagai Golongan parasit. “Terdapat kaum muda seperti kecoak, yang Kagak mendapatkan pekerjaan atau Mempunyai tempat dalam profesi apa pun. Beberapa dari mereka menjadi media, beberapa menjadi media sosial, aktivis RTI dan aktivis lainnya, dan mereka mulai menyerang Segala orang,” katanya.
Pernyataan bernada sindiran itu langsung direspons secara satire oleh Abhijeet Dipke (30), seorang lulusan jurusan Rekanan masyarakat dari Universitas Boston. Sekembalinya ke tanah air pada 6 Juni 2026, Dipke menginisiasi pembentukan Partai Janta Kecoak. Gerakan yang berawal dari ranah media sosial ini dengan Segera menghimpun dukungan luas hingga melancarkan demonstrasi perdananya di kawasan Jantar Mantar, New Delhi.
Dalam aksinya, Dipke mengkritik keras kepemimpinan di kementerian pendidikan yang dinilai telah merugikan masa depan jutaan pelajar. “Tetapi, ini Kagak berakhir di sini. Dharmendra Pradhan telah merugikan seluruh generasi. Kalau ia Kagak dicopot atau Kagak mengundurkan diri dalam tujuh hari ke depan, kami terpaksa akan melanjutkan aksi protes kami di lapangan,” tulis Dipke pada laman X, 7 Juni.
Konsistensi Tuntutan dan Tekanan Politik
Meskipun beberapa pihak sempat menilai aksi awal tersebut antiklimaks karena hanya dihadiri kurang dari 2.000 peserta, CJP membuktikan konsistensi gerakannya. Juru bicara CJP, Saurav Das, menekankan bahwa keberhasilan menghimpun massa lapangan dalam waktu singkat merupakan capaian signifikan bagi organisasi nonformal yang belum terdaftar Formal.
Eskalasi massa kembali terlihat pada Senin (20/7), ketika ribuan demonstran memadati pusat ibu kota Demi mendesak reformasi sistem ujian nasional secara mendasar. Keberadaan ribuan pendemo yang berkemah di kawasan Jantar Mantar hingga Selasa (21/7) menandai salah satu tantangan politik paling Konkret bagi pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi dalam periode kepemimpinannya.
Semangat perlawanan tersebut ditegaskan kembali oleh perwakilan CJP, Ashutosh Ranka, yang menyatakan bahwa tekanan publik Kagak akan surut sebelum adanya reformasi Konkret. “Kami Kagak akan berhenti. Pradhan harus dicopot,” tegas perwakilan CJP, Ashutosh Ranka, dalam pernyataan terbaru via media sosial, seperti dilansir AFP, Selasa (21/7/2026).
