NEXT Indonesia nilai tantangan fiskal pada daya ungkit APBN ke ekonomi

NEXT Indonesia nilai tantangan fiskal pada daya ungkit APBN ke ekonomi

Kondisi fiskal Indonesia memang Lagi sustain, tetapi belum berarti bebas risiko

Jakarta (ANTARA) – NEXT Indonesia Center menilai tantangan terbesar fiskal Indonesia ke depan adalah memastikan APBN tetap Mempunyai daya ungkit terhadap pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar menjaga defisit rendah dan rasio utang dalam batas Kondusif.

Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center Ade Holis dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, mengingatkan bahwa belanja modal merupakan instrumen Krusial Kepada meningkatkan kapasitas ekonomi, produktivitas, investasi, dan penerimaan negara di masa depan.

Apabila ruang Kepada belanja modal semakin sempit, Jernih dia, maka kemampuan APBN mendorong pertumbuhan ekonomi juga berpotensi melemah.

Adapun Bagian belanja modal terhadap total belanja pemerintah pusat berada dalam tren penurunan dari 16,49 persen pada 2017 menjadi hanya 8,70 persen pada APBN 2026. Penurunan tersebut terjadi ketika belanja pemerintah pusat secara keseluruhan Malah Lanjut meningkat.

Pada Demi yang sama, Bagian pembayaran Tumbuh utang mengalami kenaikan. Apabila pada 2017 porsinya sebesar 17,12 persen terhadap belanja pemerintah pusat, pada 2025 angkanya meningkat menjadi 21,24 persen sebelum turun menjadi 19,03 persen pada 2026.

Ade Holis menilai, kondisi tersebut menunjukkan semakin besarnya ruang fiskal yang terserap Kepada memenuhi kewajiban masa Lewat dibandingkan membiayai investasi produktif Kepada masa depan.

Menurutnya, pemerintah juga perlu melakukan reorientasi belanja agar APBN Enggak semakin defensif. Belanja yang bersifat rutin dan kurang produktif dinilai perlu dikendalikan sehingga ruang Kepada investasi publik yang produktif tetap terjaga.

NEXT Indonesia Center sendiri melakukan kajian yang mengukur kesinambungan fiskal Indonesia periode 2017-2026 menggunakan pendekatan dari Craig Burnside dalam publikasi Bank Dunia berjudul Fiscal Sustainability in Theory and Practice.

Metode tersebut mengukur kemampuan pemerintah mempertahankan posisi fiskalnya dengan membandingkan keseimbangan Esensial aktual terhadap ambang batas keseimbangan Esensial yang dibutuhkan Kepada menjaga rasio utang tetap terkendali.

Keseimbangan Esensial aktual adalah selisih antara total pendapatan negara dengan total belanja negara di luar pembayaran Tumbuh utang, berdasarkan realisasi atau Bilangan yang Benar-Benar terjadi di lapangan.

Hasil penghitungan NEXT Indonesia Center menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam kategori fiskal berkelanjutan pada periode 2017-2019.

Tetapi kondisi tersebut terganggu pada masa pandemi COVID-19, tepatnya pada 2020 dan 2021, sehingga terjadi kontraksi ekonomi, lonjakan kebutuhan pembiayaan, serta pelebaran defisit menyebabkan posisi fiskal Indonesia keluar dari Area berkelanjutan.

Menurut Ade Holis, periode pandemi merupakan ujian terbesar bagi fiskal Indonesia dalam satu Sepuluh tahun terakhir (2017-2026). Meski demikian, pemulihan ekonomi yang relatif Segera berhasil mengembalikan kondisi fiskal ke jalur yang lebih sehat.

“Pandemi menyebabkan tekanan luar Normal terhadap APBN. Tetapi sejak 2022 posisi fiskal kembali membaik seiring pertumbuhan ekonomi yang pulih, inflasi yang lebih terkendali, dan perbaikan keseimbangan Esensial pemerintah,” kata dia.

Hasil kajian menunjukkan, pada 2023 Indonesia mencatat posisi fiskal terkuat selama periode pengamatan karena mencatat surplus keseimbangan Esensial 0,49 persen PDB, sementara ambang sustainabilitas berada di -1,85 persen PDB.

Perbaikan tersebut berlanjut pada 2024 hingga proyeksi 2026. Pada 2026, keseimbangan Esensial aktual diperkirakan berada di level -0,35 persen PDB, Lagi lebih Bagus dibandingkan ambang batas keberlanjutan yang berada di level -1,74 persen PDB.

Meski demikian, NEXT Indonesia Center mengingatkan bahwa ruang Kondusif fiskal Indonesia belum sepenuhnya kuat. Hal itu terlihat dari posisi keseimbangan Esensial yang Lagi negatif pada proyeksi 2025-2026 serta nominal utang pemerintah yang Lanjut meningkat.

“Kondisi fiskal Indonesia memang Lagi sustain, tetapi belum berarti bebas risiko. Ruang fiskal tetap perlu dijaga karena berbagai guncangan baru, seperti kenaikan Etnis Tumbuh Dunia, perlambatan ekonomi, atau pelemahan nilai Ganti dapat mempersempit ruang Kondusif tersebut,” kata Ade Holis.

NEXT Indonesia Center menyimpulkan bahwa fondasi fiskal Indonesia Demi ini Lagi relatif kuat. Tetapi, keberlanjutan fiskal jangka panjang akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga kualitas belanja negara, memperkuat penerimaan, serta memastikan setiap rupiah anggaran Bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di masa depan.