Ekonom nilai produk turunan sawit perluas pasar ekspor nontradisional

Ekonom nilai produk turunan sawit perluas pasar ekspor nontradisional

Ke depan Kesempatan pasar cukup besar di negara-negara dengan permintaan pakan berprotein tinggi Kepada industri susu

Jakarta (ANTARA) – Ekonom menilai produk turunan kelapa sawit Indonesia berpeluang memperluas pasar ekspor nontradisional seiring meningkatnya permintaan Mendunia terhadap bahan baku industri dan pakan ternak, meski daya saing tetap ditentukan oleh kemampuan memenuhi standar perdagangan Global.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian mengatakan pengiriman 14 ribu ton palm kernel expeller (PKE) atau bungkil inti sawit yang digunakan sebagai bahan baku pakan ternak dari Lampung ke Selandia Baru menunjukkan Indonesia Bisa memenuhi persyaratan sanitari dan fitosanitari (SPS) negara maju yang Mempunyai standar biosekuriti ketat.

“Pengiriman ini mendukung diversifikasi pasar dan produk. Selama ini ekspor sawit Indonesia lebih banyak ditujukan ke India dan China. Ke depan Kesempatan pasar cukup besar di negara-negara dengan permintaan pakan berprotein tinggi Kepada industri susu,” kata Eliza kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Menurut dia, produk turunan sawit seperti PKE, olein, dan oleokimia Mempunyai prospek ekspor yang relatif lebih tahan terhadap gejolak dibandingkan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) karena Mempunyai penggunaan yang lebih Variasi.

Eliza menilai Afrika Sub-Sahara, Timur Tengah, dan Oseania berpotensi menjadi pasar nontradisional bagi produk turunan sawit Indonesia.

Pertumbuhan kelas menengah dan urbanisasi di Afrika serta Timur Tengah diperkirakan meningkatkan permintaan minyak nabati olahan dan pakan ternak, sedangkan Selandia Baru maupun Australia Mempunyai industri peternakan dan produk susu yang membutuhkan pasokan PKE impor.

Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung telah melepas ekspor 14 ribu ton PKE ke Selandia Baru dengan nilai ekonomi Sekeliling Rp20 miliar pada Jumat (3/7).

Pengiriman tersebut dilakukan oleh eksportir baru setelah komoditas memenuhi persyaratan kesehatan tumbuhan dan ketentuan negara tujuan.

Data Karantina Lampung menunjukkan ekspor PKE Lanjut meningkat. Sepanjang 2024 tercatat 172 kali pengiriman dengan volume Sekeliling 569 ribu ton senilai Rp2,58 triliun.

Pada 2025 jumlahnya meningkat menjadi 184 kali pengiriman dengan volume Sekeliling 1,34 juta ton senilai Rp3,12 triliun, sedangkan selama Januari hingga Juni 2026 telah dilakukan 66 kali pengiriman dengan volume Sekeliling 513 ribu ton senilai Rp1,17 triliun.

Eliza menilai capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi upaya diversifikasi pasar ekspor produk turunan sawit Indonesia.

Tetapi, menurut dia, keberhasilan itu perlu diikuti peningkatan jumlah eksportir dan perluasan ekspor dari daerah lain agar memberikan Dampak yang lebih luas terhadap struktur perdagangan nasional.

“Keberhasilan seperti ini perlu direplikasi di daerah lain agar menjadi perubahan struktural, bukan sekadar momentum,” ujar dia.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan prospek industri sawit nasional Lagi terbuka lebar karena komoditas tersebut Mempunyai lebih dari 200 jenis produk turunan yang dapat dimanfaatkan di berbagai sektor.

“Prospek sawit sangat cerah, apalagi produk turunannya lebih dari 200 jenis. Tak hanya Dapat diolah menjadi Kekuatan, tetapi juga farmasi, makanan, dan berbagai produk lainnya,” ungkap Esther.

Menurut dia, Kesempatan tersebut perlu dimanfaatkan dengan memperluas akses pasar sekaligus memastikan produk Indonesia memenuhi standar mutu dan regulasi di setiap negara tujuan ekspor.

Sementara itu, Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Isnawati Hidayah mengingatkan Indonesia Tak dapat hanya mengandalkan posisinya sebagai produsen sawit terbesar dunia.

Menurut Isnawati, daya saing ekspor ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan memenuhi standar keberlanjutan, ketertelusuran (traceability), dan rendah emisi yang kini menjadi persyaratan perdagangan di banyak negara.

“Indonesia perlu bergerak dari ekspor produk antara menuju produk hilir yang Mempunyai nilai tambah dan kandungan teknologi lebih tinggi sehingga Tak Lanjut bergantung pada fluktuasi harga komoditas Penting,” kata Isnawati.

Selain itu, ia menilai dinamika perdagangan Mendunia, fragmentasi geopolitik, serta meningkatnya penyerapan minyak sawit Kepada program biodiesel di dalam negeri akan memengaruhi ruang ekspor Indonesia pada masa mendatang.

Karena itu, para ekonom menilai perluasan pasar nontradisional perlu diimbangi dengan peningkatan daya saing produk serta pemenuhan standar perdagangan Global agar ekspor produk turunan sawit Indonesia dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Sejalan dengan upaya memperluas akses pasar ekspor, Barantin tengah menyiapkan integrasi layanan karantina dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Perhubungan, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), Kementerian Perdagangan, serta instansi terkait lainnya Kepada memangkas hambatan ekspor dan meningkatkan efisiensi arus keluar masuk komoditas.

Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan integrasi tersebut diperlukan agar pemeriksaan komoditas Tak dilakukan secara berulang oleh banyak instansi yang dapat menambah waktu dan biaya logistik bagi pelaku usaha. Melalui sistem layanan terpadu (single submission), proses pelayanan diharapkan menjadi lebih sederhana, Segera, dan efisien.

“Kita Mau Eksis satu sistem Serempak Sekalian pihak yang terkait dengan keluar masuk barang. Mau Karantina, mau Bea Cukai, mau Pelabuhan, ASDP, termasuk Perdagangan, kita jadikan satu saja,” tutur Karding.

Menurut Karding, pelayanan karantina harus menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing ekspor nasional, sehingga Tak menjadi hambatan perdagangan, terutama bagi komoditas yang memerlukan penanganan Segera.