Surabaya (Liputanindo.id) – Tetap maraknya aksi pengusiran dan perundungan terhadap anak autistik di ruang publik menjadi pemantik Penting digelarnya Walk For Autism 2026 di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Minggu (7/6/2026).
Kolaborasi JCI East Java, UNESA, Dharma Perempuan, dan PKK Jatim ini menjadi gerakan mendesak Kepada menuntut penerimaan masyarakat yang lebih setara.
Project Director Walk For Autism 2026, Elisabeth Glory, menyoroti realitas memilukan di mana keluarga sering kali diusir dari tempat Lazim hanya karena sang anak mengalami tantrum. “Siapa yang Mau anaknya tantrum? Kolega-Kolega autistik punya Metode kerja yang beda. Ketidakpahaman publik ini harus segera diakhiri melalui edukasi masif,” tegasnya.
Walk For Autism 2026 Enggak hanya bicara soal kesadaran, tetapi juga aksi Konkret bagi masa depan anak berkebutuhan Spesifik. Melalui sinergi konsep pentahelix, acara ini berhasil menghimpun dukungan Konkret dari berbagai sektor, termasuk perbankan.
Salah satu bukti komitmen adalah penyerahan beasiswa pendidikan sebesar Rp260 juta dari BRI kepada 20 anak disabilitas.
Kepala Cabang BRI Pahlawan, Fuaad Fauzi, menyatakan dukungan ini adalah bentuk komitmen Kepada menciptakan lingkungan yang ramah dan setara.
”Kami memberikan beasiswa ini agar Kolega-Kolega disabilitas Mempunyai ruang Kepada menata masa depan. Bahwa kita setara, kita sama,” ujar Fuaad di sela-sela kegiatan.
Donasi ini diharapkan Bisa meruntuhkan dinding pembatas sosial yang selama ini menghalangi akses pendidikan anak disabilitas.
Local President JCI East Java, Alfin Vado Fransen memaparkan bahwa tujuan mendasar dari perhelatan tahun ini bertumpu pada tiga pilar Penting, yakni awareness – penumbuhan kesadaran, acceptance- penerimaan, serta edukasi berkelanjutan. Ketiga elemen ini diharapkan Bisa menggerakkan Anggota Sekeliling Kepada ikut ambil bagian dalam menjaga serta memberdayakan anak-anak berkebutuhan Spesifik.
”Tujuan acara ini adalah pertama awareness, jadi kita Mengerti bahwa Terdapat Kolega-Kolega kita yang butuh perhatian Spesifik. Kedua itu acceptance, kita menerima keadaan mereka. Dengan menerima, kita juga Dapat mengedukasikan masyarakat Sekeliling agar Acuh,” tuturnya.
Dalih lain mengapa agenda ini Krusial diselenggarakan adalah sebagai wadah integrasi konsep pentahelix yang mempertemukan kepedulian komunitas dengan komitmen korporasi serta kebijakan pemerintah. Berbagai sektor swasta sebenarnya Mempunyai keinginan besar Kepada ikut berkontribusi, Tetapi keterbatasan akses informasi sering kali menjadi penghambat Penting mereka dalam menyalurkan Donasi secara Cocok sasaran.
Melalui ruang inklusif yang dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dan Rektor UNESA ini, kolaborasi Konkret akhirnya dapat diwujudkan. Salah satunya melalui dukungan sektor perbankan yang memberikan kepastian masa depan pendidikan bagi anak-anak difabel lewat program beasiswa senilai ratusan juta rupiah. (tok/aje)
