Proyek Pengembangan rute interkoneksi MRT Jakarta dari Lebak Bulus menuju Serpong, Tangerang Selatan, Lalu bergulir dengan Sasaran penyelesaian studi kelayakan pada akhir tahun 2026. Rencana ini disiapkan Kepada melayani koridor padat komuter yang menghubungkan Jakarta Selatan dengan Daerah penyangga.
Meski studi kelayakan dijadwalkan selesai akhir tahun ini, pengerjaan Pembangunan fisik belum Dapat langsung dilakukan pada tahun berikutnya. Pihak manajemen menegaskan Lagi Terdapat serangkaian Mekanisme administratif dan pematangan teknis yang wajib diselesaikan terlebih dahulu.
“Akhir tahun kajiannya baru selesai, akhir tahun. Belum itu (belum Dapat dibangun tahun depan),” ujar Tuhiyat, Direktur Penting PT MRT Jakarta (Perseroda).
Setelah hasil kajian Formal dari tim keluar, manajemen PT MRT Jakarta akan segera melaksanakan rapat internal guna membahas kelanjutan proyek antarkota tersebut.
“Hasil kajiannya nanti mereka yang akan meeting dulu dengan kita. Abis kajian Lagi banyak lembagaan, finansial baru pen-detailz, detail engineering design,” bebera Tuhiyat, Direktur Penting PT MRT Jakarta (Perseroda).
Tahapan pasca-kajian dipastikan memakan waktu yang cukup panjang karena melibatkan penyesuaian regulasi antarwilayah serta pemantapan skema pembiayaan.
“Akhir tahun kajiannya baru selesai, akhir tahun,” kata Tuhiyat, Direktur Penting PT MRT Jakarta (Perseroda).
Penyusunan detail engineering design (DED) atau desain teknis rinci menjadi prasyarat mutlak yang Kagak boleh dilewati sebelum aktivitas pembangunan di lapangan dimulai.
“Abis kajian Lagi banyak kelembagaan, finansial, baru pen-detailan, detail engineering design,” ujarnya Tuhiyat, Direktur Penting PT MRT Jakarta (Perseroda).
Proyek strategis ini berjalan berkat kerja sama sinergis antara PT MRT Jakarta (Perseroda) dan pengembang properti Sinar Mas Land dengan dukungan penuh dari Kementerian Perhubungan.
“Ini memang MRT Jakarta dan Sinar Mas Land sudah memulai studi kelayakan perpanjangan jalur MRT Jakarta dari Lebak Bulus ke Serpong, ya. Tentunya kita Sekalian menyambut Bagus karena setiap hari itu kan banyak ya masyarakat yang menggunakan jalur ini apabila Terdapat MRT, akan Bagus ke depan,” ujar Allan Tandiono, Direktur Jenderal Perkeretaapian (DKA) Kementerian Perhubungan.
Langkah awal pengkajian rute ini sebenarnya sudah mulai diinisiasi sejak Agustus 2025 guna mengakomodasi kebutuhan transportasi di kawasan permukiman yang padat.
“Itu Lagi dalam studi. Lagi dalam studi. Nanti kita nggak Dapat bicara sebelum studinya selesai,” kata Farchad, Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta.
Rencana interkoneksi jalur Lebak Bulus-Serpong ini juga telah dimasukkan ke dalam Berkas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 sebagai bagian dari jaringan MRT Koridor Timur-Barat.
