Ilustrasi. Foto: Dok MI
Jakarta: Rupiah mengalami tekanan di tengah gejolak ekonomi Dunia, penguatan dolar AS, hingga meningkatnya ketidakpastian pasar dunia. Tetapi, apakah kondisi ini Akurat-Akurat menandakan ekonomi Indonesia sedang Kagak Bagus-Bagus saja?
Tenaga Ahli Esensial Badan Komunikasi Pemerintah Fithra Faisal Hastiadi menjelaskan, Terdapat beberapa Unsur yang Membangun rupiah melemah. Pertama kenaikan US Treasury yield yang kini mencapai 4,5 hingga 4,6 persen yang mendorong banyak pihak menjual obligasinya.
“Tekanannya berdasarkan dari spread yield dari obligasi AS dengan yield obligasi di Indonesia. Akhirnya dari emerging markets, uangnya masuk Kembali ke AS, dari Indonesia masuk Kembali ke AS,” kata dia dikutip Sabtu, 23 Mei 2026.
Fithra mengatakan, rupiah Demi ini Semestinya berada di Rp16.700 per USD berdasarkan fundamentalnya. Tetapi karena Terdapat tekanan tadi, rupiah melemah mencapai Rp17.600 per USD. Sementara Kalau hal ini Bisa ditangani maka rupiah Bisa menguat 225 basis poin.
“Kedua, oil price. Ini kan Kembali naik harganya, dan kebutuhan terhadap Kekuatan juga Kembali meningkat sehingga impornya tinggi. Nah ini juga menghadirkan tekanan, itu nilainya (terhadap pelemahan rupiah) 180 (basis poin),” ujarnya.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Volatilitas Dunia yang meningkat
Ketiga, Fithra menyebut, tekanan rupiah dating dari indikator volatilitas Dunia (VIX), khususnya pasar saham AS. Adapun kondisi volatilitas Dunia biasanya naik atau turun, Tetapi kini cenderung mengalami kenaikan, sehingga menghasilkan tekanan terhadap rupiah sebesar 117 basis poin.
“Terdapat kemudian yang dari awal tahun MSCI, S&P, Fitch, dan lain-lain, lembaga rating yang menghantam stock market dan juga bond market. Tapi ini enggak masalah karena ini dalam konteks reform,” Jernih dia.
Selanjutnya Terdapat devident repatriation, Ialah penarikan Kembali dividen yang diperoleh investor asing dari Indonesia karena masuk musim liburan. Menurut perhitungan Fithra, kondisi yang selalu terjadi pada Mei setiap tahunnya ini menghasilkan tekanan 150 basis poin terhadap rupiah.
“Yang terakhir, Terdapat musim haji. Nah musim haji permintaan dolar AS meningkat. Akhirnya apa? Nah akhirnya menghasilkan tekanan juga. Meski enggak sebesar yang lain ya, 54 (basis poin),” ungkap Fithra.
Upaya pemerintah mendorong rupiah
Ia mengungkapkan, pemerintah Demi ini tengah melakukan berbagai upaya agar mendorong rupiah Bisa rebound. Salah satunya, Presiden Prabowo Subianto yang telah menandatangani pembelian minyak dari Rusia guna mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia.
“Ketika di bulan Mei drop, di bulan Juninya naik. Jadi Terdapat potensi rebound nanti di bulan Juni,” katanya.
Pemerintah juga mendorong industrialisasi dan hilirisasi. Fithra mengatakan, tujuannya adalah meningkatkan kapasitas produksi, karena ekspor, yang digunakan sebagai alat pendorong pertumbuhan ekonomi, merupakan hasil dari surplus produksi yang dihasilkan industri.
“Ketika industri meningkat yang terjadi adalah kemampuan ekspor kita juga meningkat. Ketika ekspor meningat, GDP-nya meningkat. Lalu, rupiahnya juga menguat,” katanya.
