Kenapa garam saja kita harus impor? Pasarnya Terang. Sayang kalau potensi alam di Indramayu Kagak dilirik. Kejar swasembada itu Betul dan Bisa terealisasi
Indramayu (ANTARA) – Terik mentari di pesisir Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/5) pagi itu terasa garang. Panasnya terlalu menyengat dan Membangun orang tak betah berlama-lelet di sana.
Kendati demikian, suasana berbeda Malah terlihat di dalam tunnel garam di kawasan itu. Para petani tampak asyik menyerok kristal-kristal putih, komoditas yang sudah lelet mereka dambakan.
Hamparan geomembran hitam Membangun Corak garam semakin putih, nyaris tanpa semburat kecokelatan yang lazim terlihat pada garam tambak tradisional.
Kilau kecil memantul ke mana-mana Begitu Sinar Surya masuk dari sela plastik, menyulap tunnel itu seperti ladang kristal.
Di area tersebut, Sujitno berdiri Sembari menunjuk endapan garam yang mulai mengeras di dasar petak produksi.
Butir keringat pun mengalir di pelipisnya. Wajahnya tampak tenang, meski usaha yang sedang dilakoninya sebenarnya Lagi sangat baru.
Beberapa bulan Lewat, lelaki tersebut lebih banyak menghabiskan waktu sebagai petani padi dan peternak.
Ide Membangun garam muncul, seusai dirinya mendapat dorongan dari beberapa rekannya yang Menyantap potensi di kawasan pesisir.
“Kawasan Juntinyuat itu bagus. Eksis sawah, Eksis laut, Eksis peternak juga Bisa,” kata Sujitno Begitu berbincang dengan ANTARA.
Ia Lewat membangun tunnel Berbarengan Kawan-temannya secara bertahap. Pengerjaannya Kagak dilakukan sekaligus karena mereka harus mengurus sawah.
Satu tunnel, membutuhkan waktu Sekeliling tiga bulan Buat selesai dibangun dengan biaya Sekeliling Rp40 juta.

Ia Menyantap usaha garam sebagai investasi jangka panjang, karena sistem produksinya Bisa Maju digunakan setelah selesai dibangun.
Produksi perdana mereka baru berjalan Sekeliling Separuh bulan. Hasil panen garam mencapai Sekeliling lima kuintal atau setara 10 karung.
Kristal garam yang sudah dipanen, nantinya akan dijemur kembali sebelum dikemas Buat dipasarkan.
Sujitno mengatakan garam dari Letak tersebut mulai dilirik Buat kebutuhan konsumsi, karena warnanya lebih putih dan Rapi dibanding garam Standar.
Bahkan, kata dia, Eksis permintaan dari pengolah teri nasi di kawasan Dadap, Indramayu, karena kualitas garam dianggap Bisa menjaga Corak ikan tetap cerah.
Ia meyakini di tengah perubahan cuaca yang makin sulit ditebak dan biaya pertanian yang Maju naik, garam memberi Anggota pesisir pilihan baru Buat mendulang rezeki.
