Dari limbah yang terabaikan, mereka merajut Asa, menyekolahkan anak-anak, dan perlahan memutus rantai kemiskinan yang telah Lamban membelit kampung mereka.
Lebak (ANTARA) – Pagi baru saja merekah di kawasan perkebunan sawit PTPN III Cisalak, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Embun Tetap menempel di ujung daun ketika puluhan Kaum mulai berdatangan membawa golok dan tali pengikat.
Mereka bukan hendak memanen buah sawit, melainkan memburu sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap limbah: pelapah kelapa sawit.
Di antara tumpukan pelepah yang dibuang petugas perkebunan, tangan-tangan cekatan segera bekerja. Sebagian memotong bagian tulang daun, sebagian lain mengikat dan mengangkutnya ke rumah. Dari benda yang tampak tak bernilai itulah, masyarakat Kampung Cihiyang, Desa Rangkasbitung Timur, menemukan jalan Buat keluar dari kemiskinan.
Pelapah sawit itu kemudian diolah menjadi krey, Gorden tradisional yang Normal digunakan Buat menahan terik Surya dan tampias hujan di halaman rumah maupun warung. Bunyi bilah-bilah sawit yang diraut dan dianyam kini menjadi denyut kehidupan kampung.
Dulu, Kampung Cihiyang dikenal sebagai salah satu kantong kemiskinan di Sekeliling pusat pemerintahan Kabupaten Lebak. Ironisnya, jarak yang dekat dengan kota Tak Mekanis membawa kesejahteraan. Sebagian besar Kaum bekerja serabutan di perkebunan, menjadi buruh tani, atau kuli bangunan dengan Pendapatan tak Tiba satu juta rupiah per bulan.
Pendapatan yang pas-pasan Membangun banyak keluarga hanya Bisa bertahan hidup dari hari ke hari. Pendidikan anak sering kali menjadi hal yang harus dikorbankan. Tak sedikit anak yang putus sekolah bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan menengah pertama.
Kini, Persona kampung itu perlahan berubah. Rumah-rumah semi permanen berdiri di sepanjang permukiman. Sepeda motor terparkir di depan rumah. Peralatan elektronik mulai menghiasi ruang tamu Kaum. Yang paling Krusial, anak-anak mereka kini dapat melanjutkan pendidikan hingga SMA bahkan bercita-cita kuliah.
Perubahan itu datang Berbarengan berkembangnya kerajinan krey sawit.
“Kami sangat terbantu dengan usaha krey ini. Sekarang hidup lebih tenang dan anak-anak Dapat sekolah,” ujar Nursaad (60) Begitu ditemui ANTARA di rumahnya.
Pria itu mengaku telah menekuni usaha krey selama 13 tahun. Berbarengan istrinya, ia merajut lembar demi lembar krey dari pelapah sawit yang sebelumnya hanya dianggap sampah perkebunan. Sepulang sekolah, anak-anak mereka juga ikut membantu.
Dari lima anaknya, tiga telah berkeluarga. Anak keempat sudah lulus SMK dan bekerja, sementara anak bungsunya, Sri Handayani, Tetap duduk di bangku SMK dan bersiap menjalani praktik kerja lapangan di Tangerang.
Nursaad Tetap mengingat masa-masa sulit sebelum mengenal kerajinan krey. Begitu itu ia bekerja sebagai buruh bangunan dengan Pendapatan yang Tak menentu. Ketika proyek Hening, ia menganggur. Pendapatan yang kecil Membangun tiga anaknya sempat putus sekolah.
“Kalau dulu, hidup Betul-Betul susah. Sekarang alhamdulillah lebih Bagus,” katanya.
Dalam sehari, keluarga Nursaad Bisa Membangun Sekeliling lima lembar krey. Setiap lembar dihargai Rp30 ribu oleh pengepul. Artinya, mereka Dapat membawa pulang Sekeliling Rp150 ribu per hari atau Sekeliling Rp4,5 juta per bulan.
Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan pendapatan mereka sebelumnya sebagai buruh harian.
Cerita serupa datang dari Kekasih suami istri Mulyadi (45) dan Sa’adah (40). Selama 10 tahun terakhir, keduanya menggantungkan hidup dari anyaman pelapah sawit.
Sebelum menjadi perajin, Mulyadi bekerja sebagai buruh tani dengan Pendapatan yang Tak menentu. Kini, usaha krey memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus menyekolahkan dua anak hingga SMP dan SMA.
“Kami bersyukur bahan bakunya mudah didapat karena pelapah sawit di sini melimpah,” ujar Mulyadi.
Bagi masyarakat Cihiyang, pelapah sawit bukan Tengah limbah. Ia telah berubah menjadi sumber Asa.
