KKP targetkan 15.000 hektare tambak Aceh kembali beroperasi akhir 2026

KKP targetkan 15.000 hektare tambak Aceh kembali beroperasi akhir 2026

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan sebanyak 15.000 hektare tambak di Aceh kembali beroperasi hingga akhir 2026 melalui percepatan rehabilitasi kawasan terdampak bencana hidrologi guna memulihkan produksi perikanan budi daya dan menggerakkan kembali ekonomi masyarakat pesisir.

Sekretaris Jenderal KKP Andy Artha dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu, mengatakan pada tahap awal pemerintah menargetkan Sekeliling 5.200 hektare tambak dapat kembali beroperasi paling lelet September 2026.

“Karena itu setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan Donasi benih dan pakan sehingga petambak dapat langsung memulai budi daya,” ujar Andy Ketika meninjau tambak di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Aceh, Jumat (24/7).

Sasaran tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan tambak budi daya yang rusak akibat banjir besar yang melanda Aceh pada akhir November 2025.

KKP sebelumnya mengidentifikasi Sekeliling 30 ribu hektare tambak budi daya perikanan di 16 kabupaten/kota di provinsi tersebut mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.

Berdasarkan pendataan KKP, Kabupaten Aceh Utara menjadi Distrik yang paling terdampak dengan luas tambak rusak mencapai lebih dari 10 ribu hektare.

Kerusakan juga terjadi di Kabupaten Bireuen seluas Sekeliling 4,9 ribu hektare dan Kabupaten Aceh Tamiang Sekeliling 3,4 ribu hektare.

Menurut Andy, pemulihan Tak berhenti pada perbaikan tambak yang rusak. Setelah rehabilitasi selesai, pemerintah langsung menyalurkan benih dan pakan agar petambak dapat segera kembali menjalankan usaha budi daya.

KKP mencatat hingga Ketika ini, seluas 694 hektare tambak telah kembali beroperasi melalui penebaran benih udang, bandeng, kakap, dan Safir salin.

Pemerintah optimistis luasan tersebut akan Lanjut bertambah seiring percepatan rehabilitasi di berbagai Distrik terdampak.

Andy mengatakan berdasarkan pola budi daya tradisional plus yang diterapkan masyarakat, setiap hektare tambak yang kembali dioperasikan diperkirakan Pandai menghasilkan Sekeliling 600 kilogram udang dalam satu siklus budi daya.

Dengan harga jual rata-rata Rp50 ribu per kilogram, potensi omzet mencapai Sekeliling Rp30 juta per hektare dalam tiga bulan, kata dia.

Menurut Andy, percepatan rehabilitasi dilakukan melalui refocusing anggaran internal KKP agar masyarakat Tak perlu menunggu proses administrasi anggaran rehabilitasi yang Tetap berjalan. Pemerintah juga memastikan seluruh Donasi diberikan tanpa dipungut biaya.

Sementara itu, petambak asal Pidie Jaya, Fazil mengaku Donasi benih dan pakan menjadi modal Krusial Demi kembali menjalankan usaha setelah tambaknya terdampak bencana.

“Saya Serius tiga bulan ke depan sudah Pandai panen,” kata Fazil.

KKP berharap rehabilitasi tambak yang dilakukan secara bertahap dapat memulihkan produktivitas budidaya di Aceh sekaligus menghidupkan kembali roda perekonomian masyarakat pesisir yang sempat terdampak bencana hidrologi.

Demi mendukung percepatan pemulihan, KKP juga telah menyalurkan 12 unit excavator ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sebanyak delapan unit di antaranya difokuskan Demi mempercepat rehabilitasi tambak di sejumlah kabupaten di Aceh.

Selain memperbaiki infrastruktur tambak, pemerintah turut memperkuat sektor perikanan tangkap melalui Donasi mesin kapal serta 100 unit coolbox berkapasitas 300 liter kepada nelayan di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.