Jakarta (Liputanindo.id) – Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI didesak segera memperbaiki mekanisme penjurian Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar.
Desakan ini menyusul kisruh pada final tingkat Provinsi Kalimantan Barat, di mana dewan juri memberikan nilai berbeda terhadap jawaban yang secara substansi sama dari dua sekolah berbeda.
Polemik bermula Demi Grup C (SMAN 1 Pontianak) menjawab pertanyaan terkait proses pemilihan Personil BPK Tetapi diberi nilai minus lima.
Di sisi lain, juri memberikan nilai 10 kepada Grup B (SMAN 1 Sambas) Demi jawaban yang Mempunyai substansi serupa. Juri beralasan Grup C Bukan menyebut Dewan Perwakilan Daerah (DPD) secara Jernih, meski peserta merasa jawaban mereka sudah Cocok.
“Adanya perbedaan penilaian terhadap jawaban yang sama dari dua peserta menunjukkan mekanisme penjurian perlu dievaluasi total. Kami berharap ini menjadi insiden terakhir. Sistem penilaian harus Rasional, adil, dan transparan agar kredibilitas lomba tetap terjaga,” tegas Personil Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarief Muhammad, Selasa (12/5/2026).
Habib memgaku prihatin atas polemik tersebut. Menurutnya, inkonsistensi penilaian dalam ajang nasional dapat mencederai rasa keadilan dan semangat kompetisi yang sehat di kalangan pelajar. Semestinya, mekanisme penilaian ke depan harus disusun lebih detail dengan indikator yang terukur, mencakup ketepatan, kecepatan, serta kejelasan jawaban.
“Sesuai petunjuk Penyelenggaraan, panitia Semestinya memonitor setiap tahapan. Pengkajian pasca-seleksi Krusial Demi mengidentifikasi kekurangan dan memberikan rekomendasi perbaikan agar Bukan terjadi kesalahan pendengaran atau persepsi juri,” tegasnya.
Di sisi lain, Habib Bahkan mengapresiasi keberanian peserta yang menyampaikan protes secara kritis. Menurutnya, daya pikir kritis dan analitis tersebut merupakan tujuan Esensial dari pemahaman Empat Pilar kebangsaan. “Insiden ini Bukan memadamkan semangat generasi muda Demi Lalu mendalami Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi bernegara,” ujar Habib. (hen/ted)
