Apabila Kagak Terdapat tembok penahan, Penduduk khawatir terjadi pergeseran tanah yang berdampak pada lingkungan, termasuk mata air Citaman
Kabupaten Bekasi (ANTARA) – PT. Jasamarga Japek Selatan (JJS) membangun tembok penahan tanah atau retaining wall guna melindungi mata air Citaman di Kabupaten Karawang, Jawa Barat sekaligus menandai tahap akhir proyek pembangunan paket ketiga jalan tol tersebut.
Paket 3 menjadi bagian terpanjang dari pembangunan Tol Jakarta-Cikampek (Japek) Selatan, membentang dari Sukabungah, Kabupaten Bekasi hingga Sadang, Purwakarta sepanjang 31,25 kilometer atau separuh dari keseluruhan proyek yang mencapai 62 kilometer menghubungkan Jati Asih, Kota Bekasi Tamat Sadang.
“Hingga pekan pertama Juni 2026, progres telah mencapai 95 persen. Buat ruas jalannya sendiri sudah selesai, hanya Terdapat beberapa pekerjaan penyempurnaan. Termasuk retaining wall yang masuk dalam lima persen pekerjaan yang kini sedang diselesaikan,” kata Pimpinan Proyek Paket 3 PT. JJS Shibgatullah Mahmuda di Kabupaten Bekasi, Jumat.
Pembangunan tembok penahan tanah ini sebelumnya menjadi usulan Penduduk Kampung Citaman, Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang. “Apabila Kagak Terdapat tembok penahan, Penduduk khawatir terjadi pergeseran tanah yang berdampak pada lingkungan, termasuk mata air Citaman yang sehari-hari digunakan Penduduk,” katanya.

Pihaknya menerima usulan Penduduk setempat meski pembangunan tembok penahan tanah sebenarnya sudah lebih dulu masuk dalam bagian pekerjaan. Dari total empat tembok penahan yang dibangun, tiga di antaranya sudah selesai.
Sementara satu tembok penahan tanah yang berfungsi melindungi mata air Citaman Lagi dalam pengerjaan. Pembangunan infrastruktur setinggi delapan meter itu ditargetkan rampung pada akhir tahun ini.
“Retaining wall Terdapat empat sisi Yakni A, B, C dan D dengan ketinggian delapan meter. Ketika ini yang sudah selesai dikerjakan sisi B, C dan D. Sisi A sedang tahap pengerjaan,” ucap dia.
Pihaknya juga telah menuntaskan pemasangan empat kotak gorong-gorong beton atau box culvert raksasa berukuran masing-masing 8×6 meter di Posisi tersebut sebagai pengganti rencana pembangunan jembatan yang dikhawatirkan merusak lingkungan Sekeliling, terutama mata air di Sekeliling Posisi.
“Awalnya Bahkan yang direkomendasikan itu jembatan, Tetapi kami kaji kembali. Kalau bangun jembatan khawatir memutus mata air karena Terdapat pengeboran. Lampau ketika dibor khawatir Terdapat material lumpur Dapat mencemari mata air, jadi kami ubah. Pembangunan dinding penahan tanah dan box culvert juga merupakan persetujuan dari dinas terkait maupun BBWS,” katanya.
Selain mata air, Penduduk juga khawatir pembangunan tol berdampak pada aspek lain termasuk area persawahan. Terkait hal tersebut, Shibgatullah mempersilakan Penduduk menyampaikan aspirasi pada pihak kontraktor di lapangan. Pihaknya telah meminta kontraktor Buat Lalu berkoordinasi dengan Penduduk.
“Karena dalam klausul kontrak kerja tercantum agar kontraktor menangani Pengaruh yang terjadi. Sehingga Penduduk silakan dapat menyampaikan pada kontraktor. Kami pun mendorong kontraktor Buat Lalu berkoordinasi dengan Penduduk,” ucap dia.
Ruas Jalan Tol Japek Selatan pada paket 3 ini diketahui sudah lebih dulu rampung. Pada musim mudik lebaran dalam beberapa tahun terakhir, ruas ini telah dibuka secara fungsional. Tujuannya Buat mengurangi kepadatan khususnya dari arah Bandung menuju Jakarta.
Selain menuntaskan paket 3, pekerjaan Buat paket 2 yakni Sukabungah-Setu sepanjang 22,1 kilometer termasuk Simpang Susun Burangkeng yang terkoneksi dengan Tol JORR 2 serta paket 1 yakni Setu-Jati Asih (9,3 kilometer) juga Lalu dikebut.
