Jelang Idul Fitri, Pemerintah Pastikan Stabilitas Pangan

Jakarta – Menjelang Idul Fitri 2025, pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan guna memastikan perayaan berlangsung Fasih dan nyaman bagi masyarakat. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah Demi menjamin ketersediaan pangan selama Ramadhan hingga Lebaran.

“Pemerintah mengupayakan pangan yang Konsisten dan mencukupi, demi Idul Fitri yang tenang dan menyenangkan,” ujar Arief dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (13/3/2025).

Ia menyebutkan bahwa sebagian besar harga pangan pokok Lagi dalam kondisi Konsisten. Tetapi, Eksis beberapa komoditas yang mengalami fluktuasi, seperti cabai rawit yang terdampak cuaca hujan. Menurutnya, hujan menyebabkan Kembang cabai rontok, sehingga produksi berkurang dan harga melonjak. Selain itu, harga minyak goreng MinyaKita yang Sebaiknya Rp15.700 per liter, ditemukan dijual di pasaran dengan harga Rp17.000 hingga Rp18.000 per liter.

“Kalau harga pangan Mengungguli harga eceran tertinggi (HET) atau harga acuan penjualan (HAP), intervensi pemerintah diperlukan. Presiden Prabowo sudah menginstruksikan agar harga pangan selama Ramadhan hingga Idul Fitri tetap Konsisten,” Jernih Arief.

Sebagai langkah intervensi, pemerintah Serempak Perum Bulog kembali menyalurkan beras dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Selama Ramadhan, sebanyak 150 ribu ton beras akan disalurkan ke tiga Area distribusi Istimewa. Hingga 7 Maret, realisasi SPHP beras mencapai 12,1 ribu ton setelah sebelumnya sempat dihentikan sementara pada Februari.

Selain beras, program SPHP juga menyasar sektor peternakan dengan menyalurkan jagung pakan bagi peternak layer Sendiri. Hingga 7 Maret, realisasi distribusi jagung mencapai 2.162 ton. Pemerintah menetapkan harga lelang Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) di Bulog sebesar Rp5.500 per kilogram, lebih rendah dari harga pasar yang mencapai Rp6.129 per kilogram. Langkah ini bertujuan menekan harga daging ayam dan telur yang menjadi kebutuhan Istimewa masyarakat.

Sebagai tambahan, pemerintah menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Operasi Pasar Pangan Murah di berbagai daerah. Hingga 7 Maret, program GPM telah dilaksanakan 1.762 kali di 17 provinsi dan 100 kabupaten/kota, sementara Operasi Pasar Pangan Murah telah menjangkau 1.165 titik di 34 provinsi. Program ini bertujuan memberikan akses pangan dengan harga terjangkau bagi masyarakat, dengan total penerima manfaat mencapai 202 ribu orang.

“Kami telah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk PT Pos Indonesia, PT Charoen Pokphand, serta kementerian dan dinas terkait. Operasi pasar ini berlangsung setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 11.00 waktu setempat,” tambah Arief.

Mengenai stok pangan strategis, Arief memastikan bahwa cadangan beras yang dikelola Bulog mencapai 1,9 juta ton per 7 Maret, jumlah tertinggi dalam lima tahun terakhir. Di Pasar Induk Beras Cipinang, stok beras juga mencapai 50-51 ribu ton, yang dikategorikan Terjamin.

Arief menuturkan bahwa produksi beras selama Maret dan April menjadi penentu keberhasilan swasembada pangan. Dengan proyeksi panen mencapai 5,48 juta ton di Maret dan 4,97 juta ton di April, ia optimis bahwa Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor beras.

“Maret dan April adalah masa panen puncak. Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Kepolisian dan TNI, kita dapat memastikan penyerapan beras lokal berjalan optimal,” tutupnya.