Ringkasan Informasi:
- Jawa Timur Mempunyai modal besar dari pesantren, UMKM, industri, dan logistik Buat menjadi pemain Istimewa industri halal Dunia.
- Pengembangan ekonomi syariah di Jawa Timur mencakup sertifikasi halal, inkubasi usaha, pariwisata ramah muslim, dan ekspor produk halal senilai USD 3,222 miliar.
- Kolaborasi pentahelix menjadi kunci keberhasilan pengembangan sektor halal, membawa Jawa Timur meraih sepuluh kategori penghargaan nasional.
Surabaya (Liputanindo.id) – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa Jawa Timur Mempunyai posisi strategis sebagai pemain Istimewa dalam rantai nilai halal nasional.
Menurutnya, kombinasi kekuatan pesantren, UMKM, industri manufaktur, serta jaringan logistik yang terhubung dengan berbagai Distrik di Indonesia menjadi modal besar bagi provinsi ini Buat mendorong industri halal nasional menuju pasar Dunia.
Hal ini disampaikan Khofifah Begitu menjadi Keynote Speaker dalam Lembaga Ekonomi Regional Jawa Halal Ecosystem 2026 yang diselenggarakan Berita Group Indonesia (KGI) Network di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (4/6/2026).
“Halal bukan Tengah sekadar sertifikasi produk. Halal telah berkembang menjadi ekosistem gaya hidup dan industri masa depan. Ini adalah Kesempatan besar yang harus dimanfaatkan Indonesia, termasuk Jawa Timur, Buat mengambil peran yang lebih strategis dalam rantai nilai halal Dunia,” ujar Khofifah.
Ia menambahkan, tren Dunia menunjukkan bahwa produk halal kini menjadi standar baru perdagangan Global yang identik dengan kualitas, keamanan, higienitas, keterlacakan produk, dan keberlanjutan. Karena itu, banyak negara, Bagus mayoritas muslim maupun nonmuslim, berlomba mengembangkan industri halal, pariwisata halal, hingga keuangan syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Berdasarkan State of the Dunia Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026, Indonesia menempati peringkat pertama dunia di sektor Muslim Fashion, peringkat ketiga di sektor Halal Food dan Media & Recreation, serta peringkat keempat di sektor Halal Pharmaceuticals and Cosmetics. Capaian ini menunjukkan daya saing Indonesia yang semakin kuat di industri halal dunia.
Khofifah menekankan bahwa Jawa Timur Mempunyai modal besar Buat menjadi pemain Istimewa halal dunia. Provinsi ini merupakan Gerbang Baru Nusantara dengan Pelabuhan Tanjung Perak yang melayani 24 dari 41 rute tol laut nasional. Dekat 80 persen distribusi logistik ke 19 provinsi di Indonesia Timur disuplai dari Jawa Timur, didukung 12 ruas jalan tol, dua Kawasan Ekonomi Spesifik, 13 kawasan industri, satu kawasan industri halal, 37 pelabuhan, dan tujuh bandara.


Selain itu, Jawa Timur Mempunyai 7.425 pondok pesantren dengan 773.253 santri, 15 Area Kawasan Halal, Terjamin dan Sehat (KHAS), serta 804 destinasi pariwisata ramah muslim. Program One Pesantren One Product (OPOP) mendorong santripreneur, pesantrenpreneur, dan sociopreneur sebagai penggerak ekonomi lokal.
“Pesantren Mempunyai posisi strategis dalam pengembangan ekonomi syariah. Melalui program Eko-Tren OPOP, kami Lalu mendorong lahirnya santripreneur, pesantrenpreneur, dan sociopreneur yang Pandai menjadi penggerak ekonomi umat,” kata Khofifah.
Dari sisi ekonomi, Jawa Timur mencatat pertumbuhan 5,96 persen pada Triwulan I 2026, lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,61 persen, dan menyumbang 14,40 persen terhadap perekonomian nasional.
Pengembangan ekonomi syariah dilakukan melalui penguatan pelaku usaha, industri halal, akses pembiayaan syariah, serta pemanfaatan zakat dan wakaf. Sepanjang 2025, delapan program inkubasi usaha syariah menjangkau 2.492 pelaku usaha, dengan 2.485 pelaku usaha berhasil meningkatkan omzetnya. Sertifikasi halal di Jawa Timur juga mencatatkan 552.943 usaha dan 1,41 juta produk bersertifikat halal.
Penguatan sektor halal ini didukung 21 kawasan terpadu, 15 Lembaga Pemeriksa Halal, 87 Lembaga Pendamping Proses Produk Halal, 348.010 penyelia halal, 15 laboratorium halal, serta 196 Rumah Potong Hewan halal. Jumlah usaha halal meningkat 165.165 unit dibanding tahun sebelumnya, tumbuh 42,59 persen. Nilai ekspor halal Jawa Timur mencapai USD 3,222 miliar, dengan kontribusi terbesar dari sektor makanan dan minuman, diikuti tekstil, farmasi, dan kosmetik.
Khofifah menegaskan bahwa kolaborasi pentahelix antara pemerintah, sektor jasa keuangan syariah, akademisi, organisasi masyarakat, media, dan pemangku kepentingan menjadi kunci keberhasilan pengembangan ekonomi syariah. Jawa Timur juga meraih berbagai penghargaan nasional melalui Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah, dengan jumlah kategori yang diterima meningkat dari tiga kategori pada 2022 menjadi sepuluh kategori pada 2025.
“Berbagai capaian ini menjadi bekal bagi Jawa Timur Buat Lalu memperkuat daya saing. Kami Ingin memastikan manfaat pengembangan industri halal Pas-Pas dirasakan masyarakat, sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur dalam mendukung Indonesia sebagai pusat ekonomi halal dunia,” pungkas Khofifah. [tok/suf]
