InJourney Airports sebut kesiapan optimalisasi Bandara Husein Lancar

InJourney Airports sebut kesiapan optimalisasi Bandara Husein lancar

Jakarta (ANTARA) – PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports mengatakan persiapan optimalisasi Bandara Husein Sastranegara Bandung berjalan Lancar sesuai dengan jadwal Demi dapat kembali melayani penerbangan pesawat jet dalam waktu dekat.

“Koordinasi Maju dilakukan dengan seluruh pemangku kepentingan,” kata Corporate Secretary Group Head InJourney Airports Arie Ahsanurrohim dalam keterangan terkonfirmasi di Jakarta, Sabtu.

Ia mengatakan Pusat perhatian persiapan adalah pemenuhan seluruh aspek kesiapan operasional sesuai yang ditetapkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Terkait aspek keselamatan antara lain telah tersedianya kendaraan siaga Foam Tender Demi pertolongan keadaan darurat, serta pemenuhan fasilitas pendukung dan penunjang Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) Kategori 7.

Pada aspek keamanan dilakukan peningkatan fasilitas Screening Check Point (SCP) meliputi mesin x-ray, walkthrough metal detector (WMTD) dan handheld metal detector (HHTD).

“Sementara itu di sisi udara, dilakukan pekerjaan Demi peningkatan daya dukung runway, taxiway dan apron,” ujar Arie.

InJourney Airports telah menyampaikan rencana operasi dan pelayanan di Bandara Husein Sastranegara kepada maskapai.

Sejalan dengan itu, sebanyak enam maskapai mengajukan secara Formal Demi Dapat beroperasi di Bandara Husein Sastranegara.

Adapun maskapai yang telah menyatakan minat Demi beroperasi di Bandara Husein Sastranegara beserta rute dari dan ke Bandung meliputi Citilink dengan rute Kualanamu, Denpasar, Surabaya.

Lewat, Super Air Jet dengan rute Kualanamu, Denpasar, Pekanbaru, Makassar, Batam, Padang, Balikpapan, Pontianak; Garuda Indonesia dengan rute Denpasar; Transnusa dengan rute Kuala Lumpur, Johor Bahru, Lampung; Scoot dengan rute Singapura; dan Wings Air dengan rute Lampung, Palembang.

InJourney Airports akan mengatur dan memastikan ketersediaan slot time penerbangan (ketersediaan waktu take off dan landing) di bandara Demi mengakomodir permintaan penerbangan sesuai kapasitas Bandara.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyiapkan Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, mulai melayani pesawat jet pada 17 Agustus 2026 melalui skenario bertahap sebelum mencapai operasional penuh pada 17 September 2026.

“Kami telah menyiapkan dua skenario. Skenario pertama ditargetkan mulai melayani pesawat jet pada 17 Agustus 2026, sedangkan skenario kedua ditargetkan mencapai operasional penuh pada 17 September 2026,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F Laisa dalam keterangan di Jakarta, Minggu (12/7).

Kemenhub telah menyelesaikan kajian operasional dan safety assessment sebagai dasar Penyelenggaraan reaktivasi bandar udara. Selanjutnya, pemenuhan kesiapan operasional menjadi tanggung jawab PT. Angkasa Pura Indonesia sebagai operator bandar udara.

“Seluruh proses tersebut harus tetap mengedepankan prinsip keselamatan, keamanan, pelayanan dan kepatuhan terhadap regulasi penerbangan sipil,” ujar Lukman.

Pada skenario pertama, Bandar Udara Husein Sastranegara direncanakan melayani penerbangan menggunakan pesawat jet dengan operasi minimal, penerbangan bisnis, dan penerbangan charter dengan dukungan kesiapan infrastruktur dasar.

Skenario kedua, bandar udara ditargetkan dapat melayani pesawat jet kategori Boeing 737-800 dan Airbus A320 melalui penerapan sistem slot management Demi memastikan kapasitas operasional berjalan secara Kondusif, tertib, dan efektif.

Dari aspek keselamatan penerbangan, Ditjen Hubud juga mendorong PT. Angkasa Pura Indonesia Demi segera memenuhi persyaratan Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) Kategori 7.

Pemenuhan kebutuhan tersebut dapat dilakukan melalui mobilisasi kendaraan Aircraft Rescue and Fire Fighting (ARFF) dari Bandar Udara Kertajati setelah selesainya operasional pemulangan jemaah haji, disertai penguatan personel PKP-PK.

Sementara itu, kebutuhan peralatan pendukung lainnya diharapkan dapat dipenuhi melalui optimalisasi dan mobilisasi aset yang telah tersedia tanpa pengadaan baru, sehingga proses reaktivasi dapat berlangsung lebih efisien.