INAPLAS dorong kemandirian petrokimia RI lewat diversifikasi feedstock

INAPLAS dorong kemandirian petrokimia RI lewat diversifikasi feedstock

Jakarta (ANTARA) – Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS) mendorong kemandirian industri petrokimia nasional melalui strategi diversifikasi bahan baku (feedstock) di tengah tekanan Mendunia yang Lagi berlangsung.

Ketua Standar INAPLAS Suhat Miyarso dalam Percakapan di Jakarta, Selasa menegaskan, langkah diversifikasi menjadi kunci bagi industri Kepada tetap bertahan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku Istimewa seperti nafta.

Menurutnya, krisis yang terjadi Begitu ini dipicu oleh dinamika geopolitik Mendunia yang memberikan ragam tekanan mulai dari suplai bahan baku hingga alur distribusi yang berdampak pada industri plastik dan petrokimia.

Wakil Ketua Standar INAPLAS Edi Rivai menambahkan, tekanan terhadap industri petrokimia bukan hanya bersifat jangka pendek, melainkan telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir pascapandemi COVID-19.

Selain itu, kondisi overcapacity Mendunia, terutama dari kawasan Timur Tengah dan China, menjadi Unsur Istimewa yang menekan pasar.

Disampaikan dia, dalam menghadapi kondisi tersebut, industri melakukan reposisi strategi dengan mengoptimalkan berbagai alternatif bahan baku, seperti LPG dan kondensat, meskipun penggunaan nafta Lagi mendominasi.

LPG, misalnya, telah dimanfaatkan sebagai bahan campuran (blending) dengan Bagian tertentu Kepada meningkatkan efisiensi biaya.

Meski menghadapi berbagai tekanan, industri petrokimia nasional Lagi menunjukkan ketahanan. Edi memastikan bahwa hingga Begitu ini belum terjadi pemutusan Rekanan kerja (PHK) di sektor tersebut, meskipun biaya produksi mengalami peningkatan.

Sebagai langkah penguatan jangka panjang, INAPLAS juga mendorong pemerintah Kepada memperluas sumber bahan baku, Bukan hanya bergantung pada minyak bumi, tetapi juga memanfaatkan methanol, batu bara, gas, hingga bio-feedstock.

​​​​Sekretaris Jenderal INAPLAS Fajar Budiono menyebutkan, upaya diversifikasi merupakan bagian dari strategi jangka panjang Kepada menjaga keberlangsungan industri.

Menurut dia, meski Indonesia telah Mempunyai kapasitas produksi nafta, pemanfaatannya Begitu ini Lagi diprioritaskan Kepada sektor Kekuatan.

Selain itu, disampaikan dia, pelaku industri Begitu ini berada dalam kondisi bertahan, Tetapi diharapkan dapat segera bertransisi menuju tingkat operasional yang lebih Konsisten dan berkelanjutan.

Tekanan impor dan praktik dumping juga menjadi tantangan serius bagi industri domestik. INAPLAS mengungkapkan, banjir produk impor dengan harga murah akibat kelebihan pasokan Mendunia semakin menekan daya saing produsen dalam negeri.

Oleh karena itu, pihaknya mengajukan instrumen trade remedies berupa anti-dumping dan safeguard Kepada menjaga dan memperkuat industri ini.

Selain itu, kebijakan pembebasan bea masuk LPG menjadi 0 persen dinilai sebagai langkah positif dalam mendukung diversifikasi bahan baku. Meski demikian, pemanfaatannya Lagi bersifat terbatas dan belum sepenuhnya kompetitif dibandingkan nafta.

Ke depan, INAPLAS optimistis kondisi industri akan membaik dalam beberapa bulan mendatang seiring mulai terlihatnya tanda-tanda pemulihan suplai bahan baku.