Jakarta (ANTARA) – Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menilai langkah pemerintah Indonesia Buat menerbitkan Panda Bond relevan ketika pasar dolar Amerika Perkumpulan (AS) sedang menghadapi tekanan Etnis Mengembang tinggi, penguatan dolar, dan ketidakpastian geopolitik.
“Keuntungan Primer obligasi Panda bukan sekadar memperoleh Biaya dalam renminbi, melainkan mengurangi ketergantungan Indonesia pada satu pasar, satu mata Duit, dan satu Golongan investor,” kata Josua Ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan, obligasi Panda juga memberi Indonesia akses langsung kepada bank, perusahaan asuransi, Biaya pensiun, dan pengelola Biaya di pasar domestik China.
Kalau penerbitan ini berhasil, pemerintah dapat membentuk kurva acuan surat utang Indonesia dalam renminbi yang kelak memudahkan penerbitan berikutnya oleh pemerintah, badan usaha Punya negara, maupun perusahaan Indonesia yang Mempunyai Rekanan usaha dengan Tiongkok.
Menurut Josua, manfaat strategisnya cukup kuat karena China merupakan tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia, mencapai 28,54 miliar dolar AS selama Januari–Mei 2026. Bank Indonesia (BI) juga sedang memperluas transaksi renminbi terhadap rupiah dan memberikan Insentif bagi transaksi mata Duit lokal Buat perdagangan dan investasi.
Tetapi, ia mengingatkan bahwa penerbitan dalam renminbi Bukan menghapus risiko nilai Ganti, tetapi hanya mengalihkan sebagian risiko dari dolar AS ke renminbi.
Besarnya perdagangan Indonesia dengan China memang mendukung pembentukan pasar renminbi, tetapi Bukan Mekanis menjadi lindung nilai alami bagi APBN karena sebagian besar penerimaan pemerintah tetap dalam rupiah.
“Oleh Alasan itu, keuntungan diversifikasi baru Pas-Pas kuat apabila pemerintah Mempunyai pengelolaan kas renminbi, transaksi pertukaran mata Duit, atau kebutuhan pembayaran dalam renminbi yang memadai,” Jernih Josua.
Ia menambahkan bahwa potensi memperoleh biaya pinjaman yang lebih rendah cukup besar. Pengalaman penerbitan obligasi Dim Sum menunjukkan bahwa biaya nominal pendanaan renminbi jauh lebih rendah daripada dolar AS.
Pada Oktober 2025, Indonesia menerbitkan obligasi Dim Sum tenor 5 dan 10 tahun dengan imbal hasil masing-masing 2,50 persen dan 2,90 persen. Pada Februari 2026, penerbitan berikutnya menghasilkan imbal hasil 2,45 persen Buat 3 tahun, 2,65 persen Buat 5 tahun, dan 3,05 persen Buat 10 tahun.
Sebagai pembanding, obligasi Dunia dolar AS yang diterbitkan pada Januari 2026 Mempunyai imbal hasil 4,40 persen Buat 5 tahun dan 5,00 persen Buat 10 tahun. Secara nominal, selisih pada tenor yang sebanding mencapai Sekeliling 1,75-1,95 poin persentase.
Lebih lanjut, pasar domestik China juga berpotensi memberikan harga yang lebih Bagus daripada pasar renminbi luar negeri karena Mempunyai likuiditas yang lebih besar dan basis investor institusi yang lebih luas.
Peringkat AAA dalam skala domestik China dapat membantu menekan tambahan imbal hasil yang diminta investor. Meskipun demikian, peringkat AAA tersebut Bukan dapat disamakan langsung dengan peringkat AAA Global.
“Indonesia tetap Mempunyai peringkat Global pada Golongan layak investasi, sedangkan peringkat dari Lianhe digunakan dalam kerangka dan skala pasar domestik Tiongkok,” Jernih Josua.
Ia juga mengingatkan, yang harus dibandingkan pemerintah bukan hanya kupon, melainkan biaya menyeluruh setelah memperhitungkan biaya penjaminan emisi, dokumentasi, penukaran renminbi menjadi rupiah, biaya lindung nilai, pemindahan Biaya ke luar Tiongkok, serta risiko perubahan kurs selama umur obligasi.
Kalau Biaya langsung ditukar menjadi rupiah dan seluruh risiko renminbi dilindungi, sebagian besar keuntungan kupon dapat berkurang.
Karena itu, menurut Josua, pemerintah sebaiknya menetapkan batas penghematan minimum, misalnya Sekeliling 0,20–0,30 poin persentase setelah seluruh biaya dan lindung nilai, sebelum memperbesar penerbitan.
“Apabila penghematan lebih kecil, penerbitan tetap dapat dilakukan dalam jumlah terbatas Buat tujuan diversifikasi dan pembentukan pasar, tetapi Bukan perlu menggantikan obligasi dolar AS secara besar-besaran,” kata Josua.
