Ekonom ingatkan risiko BSF, moral hazard hingga ketergantungan pasar

Purbaya siapkan dana stabilisasi obligasi untuk stabilkan rupiah

Jakarta (ANTARA) – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengingatkan pemerintah mengenai sejumlah risiko dalam rencana pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) mulai dari moral hazard hingga ketergantungan pasar.

“Saya Menyantap BSF ini efektif sebagai alat stabilisasi jangka pendek, tetapi Enggak Bisa dijadikan solusi permanen. Yang juga perlu diperhatikan adalah risikonya,” kata Yusuf Demi dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Pada risiko moral hazard, Yusuf menjelaskan bahwa ekspektasi investor terhadap kehadiran pemerintah yang selalu menjaga harga obligasi dapat mendorong perilaku pengambilan risiko yang lebih agresif.

Dalam kondisi tersebut, sebagian pelaku pasar cenderung masuk Demi imbal hasil (yield) tinggi dan keluar ketika pasar kembali Kukuh, sehingga pada akhirnya negara berpotensi menjadi penyangga bagi perilaku spekulatif.

Risiko kedua adalah distorsi harga. Yusuf mengingatkan bahwa pasar obligasi Sebaiknya berfungsi sebagai sarana pembacaan risiko yang jujur melalui pergerakan yield.

Tetapi, Kalau intervensi dilakukan secara terlalu dominan, maka harga obligasi berpotensi Enggak Tengah sepenuhnya mencerminkan Mendasar ekonomi

“Dalam jangka pendek mungkin terlihat tenang, tetapi pasar kehilangan fungsi price discovery-nya,” ujar dia.

Kemudian, risiko ketiga adalah tekanan fiskal. Ia menilai terdapat paradoks bahwa pemerintah Bisa saja menambah beban fiskal demi menjaga stabilitas pasar utang, sehingga Kalau BSF digunakan secara agresif Bahkan berpotensi menambah tekanan terhadap APBN.

Selanjutnya, Yusuf juga menyoroti risiko kaburnya batas antara kebijakan fiskal dan moneter.

Meskipun BSF berada di ranah fiskal, dampaknya menyerupai operasi pasar bank sentral.

“Kalau koordinasinya Enggak Terang, pasar Bisa mulai membaca adanya Kendali fiskal terhadap kebijakan moneter, dan itu Bahkan Bisa Memajukan Iuran pertanggungan risiko,” kata dia.

Selain itu, ia menilai terdapat risiko ketergantungan pasar, yakni ketika investor menganggap intervensi pemerintah sebagai hal yang normal.

Dalam kondisi tersebut, ketika dukungan dikurangi, pasar dapat bereaksi negatif, sehingga strategi keluar (exit strategy) perlu dirancang sejak awal.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana mengaktifkan BSF guna menjaga pasar surat utang tetap Kukuh dan Enggak mudah digoyang investor asing.

Langkah tersebut juga diharapkan dapat mencegah gejolak di pasar keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai Salin rupiah.

Anggaran ini disiapkan Demi menstabilkan pasar surat utang dengan membeli kembali (buyback) SBN di pasar sekunder yang dilepas oleh investor.

Strategi itu dilakukan Demi menjaga yield SBN agar tetap Kukuh, sehingga investor asing yang menyimpan surat utang Enggak mengalami kerugian modal (capital loss).

Purbaya juga menyebut BSF dapat melibatkan sumber pendanaan dari lembaga di Dasar Kementerian Keuangan, termasuk special mission vehicle (SMV).

“Kalau fund betulan kan, desain lamanya itu Eksis beberapa lembaga yang terlibat, antara lain Kementerian Keuangan dan seluruh SMV yang di Dasar Kementerian Keuangan, itu Bisa ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond. Itu utamanya. Jadi, bukan SAL saja,” kata Purbaya.