Artinya pemerintah Bukan sedang berada dalam kondisi kesulitan pembiayaan jangka pendek, tetapi tantangannya adalah menjaga agar sisa pembiayaan Bukan diperoleh dengan biaya yang terlalu mahal
Jakarta (ANTARA) – Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede berpendapat kondisi Esensial perekonomian nasional yang relatif kuat Lagi menjadi penopang kepercayaan pasar.
“Pasar Menyaksikan Esensial domestik Lagi cukup kuat,” kata Josua Begitu dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurut Josua, persepsi itu dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen dan inflasi Mei 2026 terkendali di level 3,08 persen.
Dari sisi fiskal, realisasi pembiayaan anggaran hingga 31 Mei 2026 telah mencapai Rp379,4 triliun atau 55,1 persen dari Sasaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sementara pembiayaan utang mencapai Rp386,0 triliun atau 46,4 persen dari Sasaran Rp832,2 triliun.
“Artinya pemerintah Bukan sedang berada dalam kondisi kesulitan pembiayaan jangka pendek, tetapi tantangannya adalah menjaga agar sisa pembiayaan Bukan diperoleh dengan biaya yang terlalu mahal,” ujar Josua.
Ia menilai pemerintah perlu memastikan strategi pembiayaan Bukan hanya mengejar pemenuhan Anggaran, tetapi juga menjaga biaya, tenor dan kepercayaan investor.
Dari sisi arus modal, sinyal pasar menunjukkan perbaikan. Tetapi, sebagian besar Anggaran asing Lagi mengalir ke instrumen jangka pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sementara minat terhadap Surat Berharga Negara (SBN) jangka menengah dan panjang Lagi perlu diperkuat.
Dalam kondisi tersebut, kenaikan BI Rate ke 5,75 persen dinilai membantu menjaga daya tarik aset rupiah dan meredam tekanan terhadap nilai Salin.
Meski begitu, kata Josua, pemerintah tetap perlu memperkuat minat investor terhadap SBN melalui strategi penerbitan yang Elastis, komunikasi kebijakan yang konsisten dan penguatan basis pembeli domestik.
Pemerintah juga dinilai perlu menjaga disiplin fiskal melalui pengendalian defisit, penyaringan belanja prioritas, serta penundaan belanja yang belum mendesak.
Josua meyakini arah kebijakan dalam KEM-PPKF 2027, yang menargetkan defisit 1,80 persen–2,40 persen terhadap PDB dan rasio utang Sekeliling 40,31 persen–40,64 persen terhadap PDB, menjadi sinyal positif bagi pasar apabila dapat dijalankan secara konsisten.
Selain itu, pendalaman pasar domestik perlu Lalu diperkuat dengan memperbesar peran Anggaran pensiun, asuransi, perbankan, reksa Anggaran, investor ritel, serta instrumen syariah. Basis investor yang lebih luas akan Membangun pasar SBN lebih Konsisten dan Bukan terlalu bergantung pada arus modal asing.
“Karena itu, pemerintah perlu memperbesar peran Anggaran pensiun, asuransi, perbankan, reksa Anggaran, investor ritel, dan instrumen syariah agar pasar SBN lebih dalam, lebih Konsisten, dan Bukan terlalu mudah terguncang oleh sentimen luar negeri,” tuturnya.
