Penandatanganan MoU antara PTPN III dengan Pertamina dan Medco terkait pengembangan bioetanol. Foto: Istimewa.
Direktur Penting PTPN III Denaldy Mulino Mauna menyampaikan pengembangan bioetanol merupakan bagian dari implementasi arah kebijakan nasional. Menurut dia, pengembangan bioetanol ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto serta komitmen Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam memperkuat hilirisasi komoditas pertanian sebagai bagian dari strategi besar menuju ketahanan pangan dan Kekuatan nasional.
“Indonesia Mempunyai potensi besar dari komoditas seper tebu (molases), ubi kayu, dan jagung yang dapat dioptimalkan sebagai sumber Kekuatan terbarukan,” ungkap Denaldy dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 27 April 2026.
Ia menegaskan arah kebijakan pemerintah sudah Jernih dalam mendorong kemandirian Kekuatan nasional. “Karena itu, pada Rapat Kerja Pemerintah Rontok 8 April 2026, Bapak Presiden menegaskan arah yang Jernih, Indonesia harus mempercepat kemandirian pangan dan Kekuatan,” terang dia.
“Salah satu Pusat perhatian utamanya adalah implementasi bioetanol E20 pada tahun 2028. Artinya, kita harus memastikan kesiapan Konkret dari hulu Tiba hilir,” lanjut Denaldy.
Ia juga menyampaikan, keberhasilan implementasi E20 sangat bergantung pada kekuatan pasokan bahan baku dalam negeri. Demi mencapai E20, kata Denaldy, kuncinya Terdapat pada feedstock yang kuat dan berkelanjutan.
“Dan kita Mempunyai itu. Tebu, ubi kayu, dan jagung adalah kekuatan kita. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan semuanya menjadi satu sistem. Dan hari ini kita mulai,” tegas dia.
Perkuat basis komoditas tebu, ubi kayu, dan jagung
Demi komoditas tebu, PT SGN ditugaskan Demi perluasan lahan hingga 2031 Sekeliling 500 ribu ha dan pembangunan pabrik bioetanol berbasis molases sebanyak enam unit bekerja sama dengan Pertamina NRE (PNRE). Demi pengembangan ubi kayu, PTPN III ditugaskan dalam pengembangan areal Sekeliling 104 ribu ha dan pembangunan pabrik bioetanol berbasis ubi kayu sebanyak dua unit bekerja sama dengan Medco dan PNRE.
Sedangkan Demi komoditas jagung ditargetkan pengembangan areal PTPN I seluas 250 ribu ha dan pembangunan pabrik bioetanol berbasis jagung sebanyak dua unit yang juga akan bekerja sama dengan Kenalan. Langkah strategis ini menjadi fondasi Krusial dalam memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku bioetanol nasional secara jangka panjang.
Denaldy juga menekankan pen ngnya sinergi antar pelaku industri dalam membangun ekosistem bioetanol nasional. PTPN memastikan bahan baku, Pertamina menggerakkan hilirisasi dan penyerapan Kekuatan, dan Medco memperkuat pengembangan industrinya.
Sebagai langkah awal, pengembangan bioetanol berbasis ubi kayu seluas 10 ribu ha akan difokuskan di Distrik Lampung melalui revitalisasi pabrik eksis ng Punya Medco dan pembangunan pabrik bioetanol mul feedstock (berbasis ubi kayu dan jagung) di Bone, Sulawesi Selatan, yang selanjutnya akan diperluas ke sejumlah k lainnya guna membangun ekosistem industri yang lebih luas dan terintegrasi.
“Apabila ini berjalan, dampaknya Jernih. Petani Mempunyai kepastian pasar. Industri bioetanol Mempunyai pasokan yang lebih Konsisten. Dan Indonesia mulai mengurangi ketergantungan terhadap Kekuatan impor,” tambah Denaldy.

(Ilustrasi bioetanol. Foto: warstek.com)
Dukung ketahanan pangan dan Kekuatan
Dalam kebijakan tersebut, pemerintah secara eksplisit menugaskan BUMN sektor pertanian, termasuk PTPN III (Persero), Demi memperkuat produksi, pengelolaan, dan integrasi rantai pasok komoditas strategis guna mendukung ketahanan pangan dan Kekuatan nasional.
Melalui penandatanganan MoU ini, PTPN Group, Pertamina Group, dan Medco Group akan bekerja sama memanfaatkan potensi, keahlian, serta fasilitas yang dimiliki masing-masing pihak dalam rangka pengembangan industri bioetanol. Sinergi ini diharapkan dapat mempercepat implementasi program E20 secara terarah, terukur, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung transisi menuju Kekuatan Kudus di Indonesia.
