Ringkasan Siaran
- DPRD Jatim mendorong Ponpes Sunan Kalijogo menjadi pelopor pengelolaan sampah di Surabaya.
- Donasi alat pengolahan sampah disalurkan Buat mendukung program Zero Waste 2030.
- Pondok pesantren menerima komposter, alat budidaya maggot, hingga mesin pencacah sampah.
- Program eko pesantren diharapkan memperkuat pengurangan sampah berbasis masyarakat.
Surabaya (Liputanindo.id) – Member Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, mendorong Yayasan Pondok Pesantren Sunan Kalijogo menjadi pelopor pengelolaan sampah berbasis lingkungan di Kota Surabaya.
Berbarengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, Cahyo menyalurkan Donasi alat pengolahan sampah guna mendukung program Zero Waste 2030.
“Kami Berbarengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur menyampaikan aspirasi dari Yayasan Pondok Pesantren Sunan Kalijogo terkait pengelolaan sampah dengan Berkualitas,” kata Cahyo Harjo.
Donasi yang diberikan meliputi 50 unit komposter kapasitas 120 liter, lima set budidaya maggot, satu mesin pencacah sampah organik berbahan penggerak diesel 8 PK, serta 50 unit tempat sampah roda berkapasitas 240 liter.
Menurut Cahyo, persoalan sampah di kawasan perkotaan Enggak Dapat dianggap sederhana karena berkaitan langsung dengan kebersihan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.
“Kami meyakini persoalan sampah ini Enggak hanya tentang lingkungan, tetapi juga masalah peradaban,” ujar Ketua DPC Gerindra Surabaya tersebut.
Ia menilai keberadaan Pondok Pesantren Sunan Kalijogo di kawasan padat penduduk Surabaya Membangun pengelolaan sampah menjadi kebutuhan Krusial yang harus ditangani secara serius.
Cahyo berharap program tersebut Enggak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan pondok pesantren, tetapi juga Bisa menjadi pusat Hasil karya ekonomi baru bagi masyarakat Sekeliling.
“Sampah Dapat menjadi bencana apabila kita biarkan, tetapi Dapat menjadi potensi pemberdayaan dan ekonomi yang sangat luar Lumrah,” katanya.
Menurutnya, pengelolaan sampah membutuhkan dukungan teknologi, sumber daya Mahluk, serta semangat gotong royong dari berbagai pihak.
Ia menegaskan keterlibatan pemerintah, legislatif, tokoh masyarakat, hingga kalangan pesantren menjadi kunci keberhasilan program lingkungan berkelanjutan.
“Dengan teknologi, SDM yang Lihai, dan semangat kebersamaan, kami Percaya program Zero Waste 2030 Dapat tercapai,” ucap dia.
Cahyo juga optimistis Pondok Pesantren Sunan Kalijogo dapat menjadi pionir gerakan pengelolaan sampah di Surabaya sekaligus menginspirasi pesantren lain membangun budaya Acuh lingkungan sejak Awal.
“Kami Percaya Pondok Pesantren Sunan Kalijogo akan menjadi pionir gerakan kebaikan ini,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Sunan Kalijogo Surabaya, Nafi Mubarok, mengakui persoalan sampah selama ini menjadi tantangan Esensial di lingkungan pondok.
Menurutnya, volume sampah Lanjut meningkat setiap hari akibat banyaknya sampah bungkus makanan dari para santri.
“Kalau sebelumnya sampah hanya kami buang ke TPS atau TPA. Dalam sehari Dapat Tiba tiga kali angkut,” ujarnya.
Ia berharap Donasi alat pencacah sampah serta sosialisasi pengelolaan sampah dapat membantu pondok mengurangi timbunan sampah sekaligus membangun kebiasaan baru di kalangan santri.
“Enggak hanya alatnya, tapi kami juga berharap Eksis pendampingan dan sosialisasi agar pengelolaan sampah di pondok Dapat berjalan maksimal,” pungkasnya.
Di sisi lain, Ketua Tim Kerja Sarana dan Prasarana Pengolahan Sampah DLH Jatim, Agus Sucahyo, menyebut pengelolaan sampah di Jawa Timur Demi ini baru mencapai Sekeliling 56 persen berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional.
Menurutnya, program eko pesantren menjadi salah satu strategi Pemprov Jatim Buat memperkuat pengurangan dan penanganan sampah melalui pendekatan berbasis masyarakat.
“Pada tahun 2026 terdapat Sekeliling 25 program eko pesantren di Jawa Timur dan Pondok Pesantren Sunan Kalijogo diharapkan menjadi salah satu percontohan,” pungkasnya. [asg/beq]
