Dolar AS. Foto: dok MI.
New York: Dolar Amerika Perkumpulan (AS) menguat ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun pada perdagangan Senin waktu setempat, didorong meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Investing.com, Selasa, 23 Juni 2026, indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata Doku Istimewa dunia, naik 0,2 persen ke level 101,02. Posisi tersebut menjadi yang tertinggi sejak pertengahan Mei 2025.
Penguatan dolar terjadi meski tensi geopolitik di Timur Tengah mereda dan harga minyak mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir.
Menukil Xinhua, pada penutupan perdagangan di New York, euro turun menjadi USD1,1424 dari USD1,1477 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris naik menjadi USD1,3244 dari USD1,3234 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS dibeli seharga 161,42 yen Jepang, lebih tinggi dari 161,26 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS juga menguat menjadi 0,8091 franc Swiss dari 0,8066 franc Swiss.
Tetapi mata Doku Negeri Om Sam itu melemah menjadi 1,4157 dolar Kanada dari 1,4174 dolar Kanada. Dolar AS naik menjadi 9,6212 krona Swedia dari 9,5742 krona Swedia.
Sikap hawkish The Fed perkuat sentimen dolar
Pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi setelah The Fed merilis Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP) pekan Lewat. Dalam Arsip tersebut, setidaknya separuh Personil Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memperkirakan Kesempatan kenaikan Etnis Mengembang pada tahun ini sebagai respons terhadap tekanan inflasi.
Proyeksi terbaru atau dot plot menunjukkan perubahan arah kebijakan. Apabila sebelumnya pasar memperkirakan dua kali pemangkasan Etnis Mengembang pada 2026, kini bergeser menjadi potensi satu kali kenaikan sebesar 25 basis poin.
Bank of America pada Senin waktu setempat, juga merevisi proyeksinya dan menyatakan Bukan Kembali Memperhatikan Kesempatan pemangkasan Etnis Mengembang The Fed hingga 2028. Lingkungan Etnis Mengembang tinggi dinilai Lagi menjadi Unsur Istimewa yang menopang penguatan dolar AS.
Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat ikut menekan pasar obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi tenor dua tahun, yang sensitif terhadap perubahan Etnis Mengembang, naik lima basis poin menjadi 4,232 persen. Sementara imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik enam basis poin ke level 4,512 persen.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Pound sterling pulih usai pengunduran diri Starmer
Di Inggris, pound sterling menjadi sorotan setelah pengumuman pengunduran diri Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer.
Mata Doku Inggris sempat melemah, Tetapi berhasil pulih dan ditutup naik 0,1 persen ke level USD1,3249. Pasar obligasi Inggris atau gilts tercatat bereaksi relatif Konsisten.
Pengunduran diri Starmer membuka Kesempatan perubahan kepemimpinan politik di Inggris, dengan nama Andy Burnham disebut sebagai kandidat kuat pengganti.
“Hari ini mungkin menjadi momen Krusial secara politik, tetapi pasar menerima pengunduran diri Keir Starmer dengan cukup tenang,” kata Kepala Analisis Keuangan AJ Bell, Danni Hewson.
Menurut Hewson, pasar sudah mulai memperhitungkan kemungkinan pergantian kepemimpinan sejak hasil pemilu lokal pada Mei Lewat.
