Surabaya (Liputanindo.id) — Member Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, hadir dalam sesi sharing Serempak alumni pada dies natalis GMNI Universitas Airlangga di Balai Pusura Surabaya, Minggu (26/4/2026). Lembaga bertema tanggung jawab Marhaenis dalam mewujudkan ekonomi dan kesetaraan gender itu juga mengkritisi peran generasi muda dalam pembangunan.
“Gerakan anak muda di Kota Surabaya harus inovatif dan bervariasi, khususnya di kader-kader muda GMNI, dan pola itu harus Betul-Betul digaungkan serta dijalankan,” ujar Cahyo.
Cahyo menyampaikan bahwa proses berorganisasi Kagak Dapat dibangun secara instan. Menurutnya, pilihan mahasiswa Buat masuk GMNI menjadi langkah awal Krusial dalam pembentukan Watak dan kesadaran kritis.
“Memilih GMNI sebagai Lubang besar candradimuka adalah awal yang Berkualitas, karena di situlah Watak dan kesadaran kritis mulai dibentuk melalui proses yang berkelanjutan,” kata Ketua DPC Gerindra Surabaya ini.
Cahyo menegaskan pentingnya pendidikan Watak bagi generasi muda Demi ini. Dia menilai hal tersebut menjadi fondasi agar mahasiswa Kagak mudah terpengaruh dalam menentukan arah hidup.
“Yang paling Krusial hari ini adalah pendidikan Watak, agar anak muda Kagak mudah terpengaruh dan Kagak bingung menentukan ke depan mau jadi apa,” ujar politisi muda ini.
Menurutnya, kebingungan arah setelah lulus kuliah Lagi menjadi persoalan yang banyak dialami mahasiswa. Karena itu, kata dia, pembentukan Watak harus dimulai sejak Awal, termasuk sejak awal masuk perguruan tinggi.
“Anak muda hari ini Lagi banyak yang bingung menentukan masa depannya, itu yang harus dibentuk sejak awal, terutama Demi mulai masuk kuliah,” kata dia.
Cahyo juga mendorong mahasiswa baru Buat aktif berorganisasi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dia menyebut GMNI sebagai ruang yang Bisa mendukung pengembangan diri secara menyeluruh.
“Adik-adik mahasiswa baru harus punya Watak, dan wadahnya salah satunya di GMNI, Kagak akan rugi berproses di sini karena perjalanan menuju tujuan itu panjang dan butuh Lanjut belajar,” ujarnya.
Selain itu, Cahyo menilai pentingnya budaya Obrolan dan pertukaran gagasan dengan senior maupun alumni. Dia menyebut proses belajar Kagak berhenti di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman dan jejaring.
“Sharing dengan senior dan alumni itu Krusial, kalau Dapat lebih sering berdiskusi dan bertukar pendapat karena dari situ kita Lanjut belajar,” katanya.
Dia mengaku hingga kini Lagi Lanjut belajar dari para senior sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Menurutnya, semangat belajar harus dijaga agar Bisa menghadapi dinamika ke depan.
“Saya sendiri dari awal kuliah Tiba sekarang tetap belajar dari senior dan alumni, karena proses itu Kagak pernah berhenti,” pungkasnya.[asg/aje]
