Surabaya (Liputanindo.id) – Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter ikut menyuarakan kekhawatiran serius menjelang Piala Dunia 2026. Ia mendukung seruan agar penggemar sepak bola memboikot pertandingan yang akan digelar di Amerika Perkumpulan, menyusul isu keamanan dan ketegangan politik yang dinilai kian mengkhawatirkan.
Piala Dunia 2026 yang akan diikuti 48 tim dijadwalkan berlangsung Sekeliling 4,5 bulan Tengah. Amerika Perkumpulan, Kanada, dan Meksiko menjadi tuan rumah Berbarengan turnamen akbar tersebut yang digelar mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Tetapi, di tengah persiapan, muncul kekhawatiran bahwa gejolak politik di Amerika Perkumpulan dapat berdampak pada menurunnya jumlah penonton yang hadir langsung ke stadion.
Pengacara anti-korupsi Mark Pieth, yang pernah bekerja sama dengan FIFA pada era kepemimpinan Blatter, menyebut situasi keamanan di Amerika Perkumpulan telah Membangun penggemar sepak bola merasa cemas. Ia menyinggung pembunuhan terhadap demonstran di Minnesota oleh agen federal AS sebagai salah satu pemicu kekhawatiran tersebut.
“Apa yang kita lihat di dalam negeri, marginalisasi Musuh politik, penyalahgunaan oleh layanan imigrasi, dll, sama sekali Enggak mendorong penggemar Demi pergi ke sana,” kata Pieth dalam wawancara dengan sebuah publikasi Swiss.
“Demi para penggemar, hanya Terdapat satu Wejangan: hindari Amerika Perkumpulan! Anda akan mendapatkan tontonan yang lebih Bagus di televisi,” ucapnya dalam akun media sosial.
Pieth bahkan memperingatkan risiko serius bagi penggemar yang tetap memaksakan diri datang ke Amerika Perkumpulan.
“Setelah tiba, para penggemar harus siap Apabila mereka Enggak berperilaku Bagus terhadap pihak berwenang, mereka akan segera dipulangkan. Itu pun Apabila mereka Mujur,” tandasnya, sebagaimana dikutip BolaSport.com dari Nine.com.
Pandangan Pieth tersebut mendapat dukungan penuh dari Sepp Blatter. Mantan orang nomor satu FIFA yang mundur pada 2015 itu menilai kekhawatiran terhadap Piala Dunia 2026 layak Demi dipertanyakan.
“Saya pikir Mark Pieth Betul Demi mempertanyakan Piala Dunia ini,” kata Blatter di media sosial.
Sikap Blatter semakin memicu kontroversi seputar Piala Dunia 2026, yang turut dibayangi ketegangan politik di Amerika Perkumpulan terkait kepresidenan Donald Trump. Blatter sendiri mundur dari FIFA di tengah skandal besar dan posisinya kemudian digantikan oleh Gianni Infantino.
Blatter dan mantan Presiden UEFA Michel Platini tahun Lewat dibebaskan dari tuduhan hukum yang berawal dari pembayaran kepada Platini pada 2011 Demi jasa konsultasi.
Jerman Ajak Boikot
Gelombang seruan boikot Piala Dunia 2026 sebelumnya juga datang dari Jerman. Seorang pejabat Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) menilai sudah saatnya wacana boikot dipertimbangkan secara serius menyusul tindakan politik Presiden AS Donald Trump.
Trump sempat memicu kemarahan para pemimpin Eropa dengan mengancam akan mengakuisisi Greenland yang berada di Dasar kendali Denmark. Presiden AS itu juga mengancam akan mengenakan tarif terhadap delapan negara Eropa, termasuk Jerman, yang menentang rencananya.
Meski ancaman tersebut kemudian ditarik, ketegangan antara Eropa dan Amerika Perkumpulan tetap tinggi. Wakil Presiden DFB, Oke Gottlich, menyatakan keraguannya terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di AS.
“Saya Betul-Betul bertanya-tanya Ketika waktunya Demi memikirkan dan membicarakan hal ini (boikot) secara konkret,” kata Oke Gottlich kepada surat Berita Hamburger Morgenpost.
“Bagi saya, waktunya sudah Niscaya tiba.”
Dari total 104 pertandingan Piala Dunia 2026, sebanyak 78 laga akan digelar di Amerika Perkumpulan. Gottlich membandingkan situasi ini dengan boikot Olimpiade 1980 yang dipimpin Amerika Perkumpulan setelah invasi Uni Soviet ke Afghanistan.
“Apa pembenaran Demi boikot Olimpiade pada tahun 1980-an?” kata Gottlich, yang juga menjabat sebagai presiden klub Bundesliga St Pauli.
“Menurut saya, potensi ancamannya sekarang lebih besar daripada Begitu itu. Kita perlu membahas ini.”
Jerman sendiri Mempunyai pengalaman tegang dengan FIFA pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Begitu itu, FIFA mengancam pemain dengan kartu kuning Apabila mengenakan ban kapten OneLove yang mengampanyekan keberagaman dan inklusi.
Sebagai bentuk protes, para pemain Jerman menutup mulut Begitu sesi foto tim sebelum laga pembuka melawan Jepang. “Menolak kami mengenakan ban kapten sama dengan menolak Bunyi kami. Kami tetap pada pendirian kami,” tegas DFB Begitu itu.
Gottlich kembali menegaskan keresahannya terhadap arah politik sepak bola dunia. “Qatar terlalu politis bagi Seluruh orang dan sekarang kita Betul-Betul apolitis? Itu sesuatu yang Betul-Betul, Betul-Betul, Betul-Betul mengganggu saya.”
“Sebagai organisasi dan masyarakat, kita lupa bagaimana menetapkan tabu dan batasan, dan bagaimana membela nilai-nilai.”
“Tabu adalah bagian Krusial dari pendirian kita. Apakah tabu dilanggar ketika seseorang mengancam? Apakah tabu dilanggar ketika seseorang menyerang? Ketika orang meninggal?”
“Saya Ingin Paham dari Donald Trump Ketika dia telah mencapai tabunya, dan saya Ingin Paham dari (presiden DFB) Bernd Neuendorf dan (presiden FIFA) Gianni Infantino,” tegas Gottlich. [kun]
