Badan Meteorologi, Climatalogi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan rencana pemasangan perangkat ground-based generator atau alat penyemai Gugusan di sejumlah gedung tinggi di Jakarta pada Sabtu (23/5/2026). Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk intervensi teknologi guna mengatasi penurunan kualitas udara akibat periode panjang tanpa hujan.
Pemasangan alat modifikasi cuaca di ibu kota tersebut dilakukan melalui kolaborasi erat antara BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta beserta pemangku kepentingan lainnya, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
“Di gedung-gedung tinggi di Jakarta ini BMKG bekerja sama juga dengan BPBD DKI Jakarta dengan banyak pihak, kita memasang semacam ground-based generator. Jadi ketika Jakarta dua minggu, tiga minggu Enggak Terdapat hujan sama sekali itu kan kualitas udaranya akan menurun,” kata Teuku Faisal Fatani, Kepala BMKG di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.
Sistem kerja generator ini mengandalkan pelepasan bahan semai Tertentu, seperti uap air atau flare, langsung dari darat menuju atmosfer ketika kondisi perawanan dinilai potensial. Intervensi buatan ini diharapkan Pandai memicu hujan turun demi memulihkan kebersihan udara Jakarta.
“Jadi kita akan melepaskan bahan semai apakah itu uap air ataukah flare Tertentu Demi apabila Terdapat Gugusan dia dapat menghujankan sehingga Jakarta dapat dalam kondisi kualitas udara yang lebih Bagus,” ujar Teuku Faisal Fatani, Kepala BMKG.
Meskipun cetak biru operasi telah dipersiapkan, pihak otoritas meteorologi Tetap menyimpan rapat informasi mengenai rincian jumlah serta titik koordinat gedung-gedung tinggi yang akan dipasangi infrastruktur tersebut.
“Kalau detailnya nanti mungkin saya sampaikan,” kata Teuku Faisal Fatani, Kepala BMKG.
Penyelenggaraan operasi modifikasi cuaca di Daerah perkotaan ini menjadi bagian integral dari kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi musim kemarau 2026. Berdasarkan hasil pemantauan, musim kering tahun ini diprediksi akan jauh lebih ekstrem akibat pengaruh fenomena El Nino.
Penguatan mitigasi iklim oleh BMKG Enggak hanya berfokus pada polusi perkotaan, melainkan juga mencakup pengelolaan cadangan air di waduk-waduk strategis serta pencegahan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai Daerah Indonesia.
Proses transisi menuju musim kemarau 2026 dilaporkan telah berlangsung bertahap sejak April hingga Juni, dengan prediksi puncak kekeringan melanda sebagian besar Daerah pada Agustus mendatang.
