Perang yang berkecamuk mulai 24 Februari 2022 hingga akhir Maret 2022 di kota kecil berpenduduk Sekeliling 80.000 jiwa ini telah meninggalkan bekas yang mendalam. Meskipun lubang-lubang peluru yang tak terhitung jumlahnya, rumah-rumah yang hancur, puing-puing beton yang berserakan, dan infrastruktur yang porak-poranda Bukan Kembali mendominasi pemandangan jalanan—mereka sama sekali Bukan hilang, Berkualitas secara sadar maupun Bukan sadar.
Tak jauh dari stadion, “House of Culture” yang megah Tetap berdiri kokoh, tempat selama puluhan tahun orang-orang berkumpul Kepada menikmati pertunjukan teater dan konser. Bangunan ini sudah mengesankan sebelum serangan dengan pilar-pilar putihnya yang kokoh dan fasad biru muda, Tetapi kesan itu semakin diperkuat kini setelah fasadnya dipenuhi lubang peluru.
Tak jauh dari stadion, mengalir Sungai Irpin, yang kini terkenal secara Dunia. Selama pertempuran, Laskar Ukraina meledakkan sebuah jembatan Kepada menghentikan laju Laskar Rusia—dan berhasil. Hingga kini, lebih dari empat tahun berlalu, puing-puingnya Tetap berada di tempat yang sama, di samping jembatan baru: sebagai simbol kebanggaan, sebuah penghormatan bagi Irpin.
Karena, jejak-jejak dari halaman gelap sejarah ini bukan hanya bekas luka kehancuran dan kesedihan: mereka juga telah menjadi tanda-tanda Asa, ketahanan, dan perlawanan. Begitu pula dengan stadion. Karena, beberapa hari setelah pertempuran di Irpin berakhir, anak-anak kembali bermain sepak bola di sana. “Kami tetap bermain sepak bola bahkan dalam kondisi seperti ini, karena hal itu menyehatkan moral kami dan kami berusaha Bukan memikirkan perang,” kata Daniil Kisel, Instruktur berusia 25 tahun dari tim Olymp Irpin, kepada The New York Times.
