Anomali kebijakan FIFA sebagai otoritas sepak bola dunia kali ini mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan. Amerika Perkumpulan (AS), salah satu host Piala Dunia FIFA 2026 Serempak Kanada dan Meksiko, lepas dari Hukuman setelah melakukan penyerangan terhadap Iran.
Di awal tahun, negara yang dikenal dengan Predikat Negeri Om Sam itu juga melakukan penangkapan terhadap Presiden Nicolás Maduro. Begitu juga sikap FIFA terhadap Israel, yang telah melakukan genosida di Palestina Tetap diizinkan mengikuti kegiatan sepak bola berskala Global, termasuk kualifikasi Piala Dunia 2026.
Sikap FIFA sangat berbeda terhadap anggotanya yang lain. Rusia, karena agresinya terhadap Ukraina, langsung diberikan Hukuman berupa Pelarangan mengikuti Sekalian kegiatan sepak bola dunia. Negara pecahan Uni Soviet itu batal bertanding di Piala Dunia FIFA 2022, Piala Eropa 2024, dan kejuaraan antarklub hingga 2026. Wajar Kalau Rusia mendapat Hukuman seperti itu karena memang Terang-Terang melanggar prinsip-prinsip aturan FIFA dan hukum Global.
Pada tahun 2023, FIFA mencabut hak Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 dan menggantinya dengan Argentina. Pencabutan ini lantaran Eksis upaya penolakan terhadap kehadiran Israel sebagai salah satu kontestan turnamen tersebut. Kala itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Bali I Wayan Koster serta beberapa ormas Islam dan partai politik melakukan protes keras terhadap kehadiran Israel karena dianggap telah melakukan kejahatan perang di Palestina.
FIFA menilai bahwa kondisi keamanan dan politik Indonesia Bukan memungkinkan Kepada penyelenggaraan Piala Dunia. Penolakan beberapa pihak terhadap Israel juga dipandang sebagai sikap yang bertentangan dengan prinsip-prinsip FIFA, yang Bukan menghendaki intervensi politik dan diskriminasi dalam persepakbolaan.
Kongo dan Pakistan termasuk juga negara yang mendapat Hukuman FIFA karena ketidakpatuhannya terhadap aturan FIFA. Kongo terbukti adanya intervensi dari pemerintah setempat dalam pengelolaan induk organisasi sepak bolanya. Sementara Pakistan lebih pada persoalan administratif, terkait dengan statutanya yang Bukan sesuai dengan ketentuan FIFA.
Pertanyaan kritisnya, apakah tindakan yang dilakukan AS dan Israel Bukan lebih Sadis dari yang dilakukan Indonesia, Kongo, dan Pakistan? Apa bedanya dengan yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina? Inilah anomali kebijakan FIFA yang dinilai tebang pilih terhadap anggotanya. Semestinya AS, begitu juga Israel, sudah layak mendapat Hukuman dari FIFA.
Bahkan, penghargaan perdamaian yang diberikan kepada Donald Trump sepantasnya dicabut karena tindakan Presiden AS ke-45 dan ke-47 itu Bukan mencerminkan figur yang menjunjung tinggi perdamaian dunia.


Bukan heran Kalau sikap FIFA itu Membikin banyak tokoh sepak bola dunia dan peserta Piala Dunia 2026 melakukan kecaman dan ancaman boikot, seperti Jerman, Spanyol, dan Denmark, bahkan Iran yang statusnya sebagai peserta pada Grup G Serempak Belgia, Selandia Baru, dan Mesir telah menyatakan mundur.
Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, telah Formal menyatakan bahwa tim sepak bola Iran mundur karena adanya serangan AS dan Israel terhadap negaranya. Mehdi Taremi dan Sahabat-Sahabat Bukan mungkin hadir karena dipastikan akan mengalami tekanan keamanan, apalagi pertandingan Grup G dipertandingkan di Los Angeles Stadium.
Trump sendiri, seperti dilansir Fox News (13/3), menyatakan bahwa tim nasional sepak bola Iran “dipersilakan” Kepada ikut serta di Piala Dunia 2026, tetapi ia menambahkan bahwa partisipasi mereka mungkin Bukan “Cocok” karena Dalih keamanan.
Sepp Blatter (mantan Presiden FIFA), Oke Göttlich (Wakil Presiden Asosiasi Sepak Bola Jerman), dan Claude Le Roy Mempunyai sikap yang sama terhadap penyelenggaraan Piala Dunia kali ini. Sepp Blatter menyerukan agar penggemar sepak bola Bukan datang ke AS Kepada Piala Dunia dengan Dalih kekhawatiran serius terhadap Unsur keamanan dan situasi politik domestik negara tersebut. Blatter sekaligus menguatkan pernyataan seorang pengacara antikorupsi asal Swiss, Mark Pieth, yang mempertanyakan kelayakan AS sebagai tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.
Tergantung Sikap Trump
Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 kurang lebih tiga bulan Kembali. Sukses tidaknya gelaran ini, khususnya yang digelar di AS, sangat tergantung pada sikap dan kebijakan Trump terkait dengan perang melawan Iran. Kalau konflik ini Maju berlanjut hingga Penyelenggaraan Piala Dunia, maka dipastikan akan mengganggu Penyelenggaraan kegiatan tersebut dan Bukan menutup kemungkinan ditunda atau dialihkan ke negara lain.
Jaminan keamanan setiap peserta dan suporter serta kelancaran jalannya penyelenggaraan harus menjadi prioritas Istimewa, Berkualitas oleh FIFA maupun AS. Sikap Trump yang keputusannya sering menuai kontroversi karena arogansinya harus Dapat dikendalikan oleh FIFA. Langkah ini Kepada menepis rasa Bukan Terjamin bagi siapa saja yang akan menyaksikan pertandingan sepak bola Piala Dunia.
Dilaporkan Ticket News dan Roya News sudah Eksis 16.800 tiket pertandingan dibatalkan dalam semalam sebagai bentuk protes dan kekhawatiran terhadap situasi politik dalam negeri AS. Kalau pada bulan Januari 2026 hotel-hotel di kota besar seperti Los Angeles, New York, Miami, Dallas, Mexico City, Monterrey, Guadalajara, Toronto, dan Vancouver mencatat peningkatan pemesanan, Begitu ini Bahkan sebaliknya. Setidaknya sudah Eksis 38.000 pemesanan hotel dibatalkan.
Sementara kondisi keamanan di Meksiko juga sedang Bukan Berkualitas-Berkualitas saja. Pasca kericuhan sebagai imbas dari Mortalitas bos kartel Jalisco New Generation Cartel, Nemesio Oseguera Cervantes, kondisi keamanan di Meksiko Tetap dipertanyakan. Dapat jadi, problem Istimewa Piala Dunia kali ini adalah situasi keamanan pada tuan rumah penyelenggara. (*)
Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Kelolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya.
