Anggota Betawi Kampung Sawah Jaga Tradisi Toleransi Antarumat Beragama

Masyarakat Asal Betawi di Kawasan Kampung Sawah, Kota Bekasi, Jawa Barat, memperkuat budaya toleransi melalui keberadaan tiga rumah ibadah yang berdiri berdampingan pada Kamis (14/5/2026). Kawasan ini menjadi simbol kerukunan bagi pemeluk Keyakinan Katolik, Protestan, dan Islam yang hidup tanpa gesekan kepercayaan sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Pusat peribadatan di Letak tersebut meliputi Gereja Santo Servatius Kepada umat Katolik, Gereja Kristen Pasundan bagi jemaat Protestan, serta masjid bagi umat Islam. Fenomena Aneh terlihat dari para penganut ketiga Keyakinan tersebut yang seluruhnya merupakan Anggota Asal Betawi setempat.

Tokoh Betawi Katolik, Ricardus Jacobus Napiun atau Jacob, mengungkapkan bahwa kehadiran komunitas Katolik di tanah Betawi ini Mempunyai akar sejarah yang sangat panjang. Jacob merujuk pada peristiwa pembaptisan massal yang dilakukan oleh Pastor Bernardus Schweitz di masa lampau.

“Kami lahir sejak 1896, sementara Kristen yang Protestan itu lahir lebih Uzur, 1874. Sudah lebih Uzur dari kita 22 tahun. Nah, sementara orang-orang Katolik yang Betawi Kampung Sawah itu lahir sejak 1896 ditandai dengan pembaptisan secara Katolik 18 orang Kampung Sawah,” kata Jacob, Tokoh Betawi Katolik.

Jacob menjelaskan bahwa prosesi sakral pada 6 Oktober 1896 tersebut turut diikuti oleh leluhurnya yang bernama Sam Napiun. Identitas marga Betawi seperti Noron, Miman, dan Rikin tetap dipertahankan oleh para keturunan ke-18 orang tersebut hingga Ketika ini.

“Beliau-beliau ini, termasuk di antaranya Terdapat leluhur saya namanya Sam Napiun. Nama saya Yakob Napiun, lengkapnya Ricardus Jacobus Napiun, Normal dipanggil Jacob. Nah, ini salah satu cucu-cicit dari leluhur yang Terdapat di sini, Bapak Sam Napiun namanya,” terang Jacob, Tokoh Betawi Katolik.

Penggunaan marga ini disebut Jacob sebagai warisan Era kolonial yang awalnya digunakan Kepada mempermudah sensus penduduk berdasarkan Grup keluarga besar. Marga tersebut kini menjadi penanda identitas yang khas bagi Anggota Kampung Sawah yang beragama Kristen.

“Kenapa Dapat seperti itu? Jadi pada Era kolonial dulu, barangkali Kepada memudahkan melakukan sensus, maka dibikinlah Grup-Grup masyarakat. Ini keluarganya Napiun, Seluruh Napiun Seluruh. Ini Rikin Seluruh, ini Miman Seluruh, supaya mudah diketahui berapa banyak sih keluarga besar mereka. Nah, sehingga itu menjadi cikal bakalnya marga,” Jernih Jacob, Tokoh Betawi Katolik.

Silsilah keluarga ini sangat terjaga sehingga nama marga akan tetap melekat selama seseorang Lagi memeluk Keyakinan Kristen. Sebaliknya, penggunaan marga biasanya dilepaskan dan berganti menjadi sistem bin atau binti apabila seseorang berpindah keyakinan menjadi Muslim.

“Maka kalau Anda ketemu, misalnya Kembali jalan-jalan, di Bandung, Terdapat yang berkenalan, kemudian menyebut namanya Napiun, itu berarti orang ini, orang Kampung Sawah atau keturunan orang Kampung Sawah, Niscaya. Dan Niscaya Kristen. Karena kalau yang sudah mualaf, pindah ke Muslim, itu marganya nggak dipakai, yang dipakai ‘bin’,” lanjut Jacob, Tokoh Betawi Katolik.

Terkait kehidupan sosial, para tokoh lintas Keyakinan di Kampung Sawah telah bersepakat Kepada Tak Kembali menjadikan perbedaan keyakinan sebagai komoditas perdebatan. Nilai-nilai tolong-menolong antarwarga muncul secara organik setiap kali Terdapat hari besar keagamaan.

“Seluruh tokoh-tokoh besar Keyakinan dan masyarakat di Kampung Sawah sudah sepakat Kepada memastikan bahwa di Kampung Sawah soal Keyakinan dan beragama sudah selesai. Tak Terdapat yang perlu dibahas, Tak Terdapat yang perlu disebut-sebut Kembali. Ya, sudah selesai,” tutur Jacob, Tokoh Betawi Katolik.

Manifestasi toleransi ini terlihat pada agenda rutin tahunan seperti acara Sedekah Bumi yang melibatkan Barisan Muda Lintas Keyakinan. Grup pemuda dari berbagai latar belakang keyakinan tersebut berkumpul Kepada mempererat tali persaudaraan.

“Itu sudah menjadi keseharian. Salah satu Teladan, besok nanti Lepas 16 malam, kami Terdapat acara yang namanya Sedekah Bumi. Yang akan hadir di situ adalah sejumlah tokoh besar Keyakinan. Kemudian Terdapat Barisan Muda Lintas Keyakinan, mereka datang di sini, mereka membawa misi masing-masing, mereka menceritakan Macam-macam-Macam-macam, mereka merasa seperti Keluarga dan sebagainya,” ungkap Jacob, Tokoh Betawi Katolik.

Jacob menambahkan bahwa dirinya sering memimpin tim Kepada membantu pengamanan di masjid Ketika Penyelenggaraan salat Idul Fitri maupun Idul Adha. Kerja sama ini bersifat timbal balik karena umat Muslim pun turut membantu menjaga kelancaran perayaan Natal tanpa diminta.

“Kalau saya kasih, tunjukin gambar-gambar sih, bahwa setiap Idul Fitri atau Idul Adha, pagi hari Niscaya, cari saya, adanya di masjid. Kami sudah, saya dengan Laskar saya Kepada mengamankan perayaan Idul Adha itu, Idul Fitri itu. Jadi Mitra-Mitra yang Katolik mereka sudah Paham, ‘pokoknya Pak Yakub nanti kami mau begini-begini’, ya sudah mereka ikut sama-sama gitu. Itu yang kami lakukan,” ujar Jacob, Tokoh Betawi Katolik.

Keakraban ini bahkan berlanjut hingga ke meja makan melalui tradisi makan ketupat Serempak selepas ibadah di Masjid Mulia Al-Jauhar. Suasana Seimbang antara jemaat gereja dan jemaah masjid di Kawasan ini telah berlangsung selama puluhan tahun.

“Dan mereka juga ketika kami besok misalnya nanti Natalan, itu yang Muslim juga banyak sekali yang membantu di situ. Dan itu bukan apa ya, kita Tak mengundang mereka, tapi mereka yang datang. Saya pun kalau saya ikut membantu pengamanan dan ketertiban di Masjid Mulia Al-Jauhar, itu nggak pernah diminta sama Pak Kiai, nggak pernah ditolak sama Pak Kiai, Hanya diancam, ‘Tak Terdapat yang pulang sebelum makan ketupat Lebaran’,” imbuh Jacob, Tokoh Betawi Katolik.

Kawasan dengan tata letak tiga rumah ibadah yang berdekatan ini juga dikenal dengan julukan Segitiga Emas. Nama tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap nilai kerukunan yang dianggap sebagai komoditas mahal di tengah keberagaman.

“Segitiga itu tadi, mau menjelaskan, mau mengilustrasikan, bentuk atau tata letak dari tiga rumah ibadah ini seakan-akan membentuk segitiga. Dan ’emas’-nya di mana? Emasnya adalah persaudaraan, kerukunan, toleransi yang Anda katakan, yang Rupanya itu menjadi barang mahal sekarang. Nah, itulah emasnya,” ucap Jacob, Tokoh Betawi Katolik.

Julukan tersebut diyakini Jacob berasal dari pernyataan tokoh nasional atau pejabat tinggi yang pernah mengunjungi Kampung Sawah. Keberadaan Segitiga Emas ini Maju menjadi model percontohan moderasi beragama di Indonesia.

“Dan siapa yang mengatakan pada awalnya Segitiga Emas? Saya agak lupa apakah Arswendo atau Kiai Haji Ma’ruf Amin ketika beliau datang di sini. Saya agak lupa siapa yang menyebut itu, seingat saya kalau nggak salah sih Kiai Ma’ruf Amin, kalau nggak salah ya, mudah-mudahan nggak salah,” pungkas Jacob, Tokoh Betawi Katolik.