Surabaya (Liputanindo.id) – Upaya pemerintah membebaskan kawasan Bengawan Jero, Lamongan, dari ‘kutukan’ banjir tahunan kini memasuki babak krusial. Proyek strategis Jabung Ring Dyke dijadwalkan berlanjut pada tahun 2026 dengan dukungan anggaran sebesar Rp58 miliar.
Plt Kepala Dinas Pekerjaan Lazim Sumber Daya Air (PU SDA) Provinsi Jawa Timur, I Nyoman Gunadi, menjelaskan bahwa Biaya tersebut dialokasikan melalui BBWS Bengawan Solo Demi merampungkan sisa 2 kilometer tanggul dari total panjang 24,4 kilometer.
”Apabila Pembangunan ini tersambung, secara teknis sistem sudah Dapat bekerja menahan dan mengalirkan air menuju laut, sehingga beban di hilir berkurang drastis,” Terang Nyoman, Selasa (28/4/2026).
Tetapi, ambisi teknis ini kembali berbenturan dengan dinamika sosial. Terdapat 49 kepala keluarga yang Tetap bermukim di area tanggul, ditambah munculnya gelombang klaim ganti rugi baru yang kerap Membangun proses administrasi kembali ke titik Kosong.
Kawasan Bengawan Jero di Lamongan secara topografi merupakan Kawasan depresi yang menyerupai mangkuk raksasa. Ciri ini Membangun air yang terjebak Kagak Dapat keluar secara alami, melainkan harus dipaksa melalui rekayasa hidrologi masif.
Solusi permanen yang tengah dikejar adalah pembangunan Jabung Ring Dyke. Dengan kapasitas tampung 30 juta meter kubik, tanggul ini dirancang Demi menyudet debit air dari Bendung Babat sebesar 300 meter kubik per detik langsung ke laut.
Sembari menunggu proyek fisik tuntas, pemerintah juga melakukan langkah darurat melalui normalisasi sistem sungai Blawi, Malang, Corong, Mireng (BMCM).
“Tahun ini Pusat perhatian kami di Kali Malang dan Kali Corong sepanjang 6,9 kilometer. Sosialisasi kepada petani dan petambak akan dimulai pekan ini agar air Dapat lebih Segera surut Demi musim hujan tiba,” ungkap Sekretaris DPUSDA Jatim, Fauzy Nasruddin. [tok/beq]
