Dari rumah cerdas yang dilengkapi unit hunian tamu, hingga rumah mikro di Tokyo yang membuka seperti cangkang, serta hunian yang dirancang Demi kucing dan Insan sekaligus, berikut 10 rumah Jepang yang menawarkan Penemuan dalam desain tempat tinggal.
Rumah-rumah paling inovatif di Jepang umumnya berukuran sederhana, tetapi Mempunyai gagasan yang ambisius tentang Metode hidup.
Menurut François-Luc Giraldeau, editor Naskah A House in Japan: Lessons in Living, para arsitek Jepang menghadirkan “pemikiran paling presisi dan inventif tentang Metode hidup pada masa kini.”
“Hal itu Krusial Begitu ini karena banyak negara di dunia menghadapi persoalan yang sama dengan yang telah dihadapi Jepang selama beberapa Sepuluh tahun,” ujarnya kepada BBC.
“Bagaimana hidup dengan nyaman di ruang yang lebih kecil, dengan sumber daya yang lebih terbatas, dan di tengah tekanan lingkungan yang semakin besar.”
Terdapat pula kesederhanaan yang menipu dalam rumah-rumah terbaik di Jepang.
“Apa yang tampak minimalis biasanya merupakan hasil dari keputusan yang sangat cermat mengenai proporsi, material, pencahayaan, dan detail Bangunan. Terdapat tingkat keahlian yang luar Normal di balik sesuatu yang terlihat begitu sederhana. Desain yang Bagus bukan soal Mempunyai lebih banyak, melainkan Membangun apa yang sudah Terdapat bekerja secara lebih efektif,” katanya.
Berikut adalah pilihan 10 rumah di Jepang yang mencerminkan keahlian tersebut sekaligus menawarkan berbagai solusi kreatif dalam berhuni.
1. Love2 House, Tokyo
“Berapa banyak ruang yang sebenarnya dibutuhkan seseorang Demi hidup dengan nyaman?”
Demikian pertanyaan yang diajukan arsitek Takeshi Hosaka melalui rumah sekaligus ruang praktiknya, sebuah hunian kompak di Tokyo yang berdiri di lahan seluas Kagak lebih dari 10 meter persegi.
Keterbatasan ruang itu Malah menjadi pemicu kreativitas dalam merancang rumah yang memuat seluruh kebutuhan dasar penghuninya, mulai dari area mandi, ruang Demi menikmati musik, tempat makan, ruang belajar, hingga area Demi beristirahat dan merenung.
Rumah ini ditandai oleh dua cangkang beton melengkung yang menjulang tinggi dan terbuka ke arah langit, memungkinkan Terang Surya musim dingin membanjiri bagian dalam bangunan.
Di dalamnya, setiap permukaan dirancang Mempunyai fungsi. Rak-rak dibuat menyatu dengan dinding, sementara meja dan bidang kerja dirancang memanjang Demi memaksimalkan ruang yang tersedia.
Bagi Hosaka dan istrinya, rumah mereka mencerminkan apa yang mereka sebut sebagai “ketakterhinggaan dari hal-hal kecil”.
2. Building Frame House, Tokyo
Konsep ruang terbuka (open plan) mendapat Arti yang Akurat-Akurat baru dalam rumah ini.
Di bagian interior, ruang hunian dirancang sepenuhnya terbuka dari Alas hingga atap.
Firma arsitektur IGArchitects menghilangkan konsep dinding konvensional dan menggantinya dengan Alas-Alas terapung yang berfungsi sebagai elemen pemisah antar area hunian.
Kekasih yang tinggal di rumah ini, kata François-Luc Giraldeau kepada BBC, telah “memahami ritme” bangunan tersebut.
“Ketika ruang horizontal sangat terbatas, para arsitek Kagak Mempunyai banyak pilihan selain berpikir secara vertikal, bukan hanya melalui denah Alas, Demi menciptakan bentuk-bentuk baru dalam pergerakan dan kehidupan domestik,” ujarnya.
Mengingatkan pada karya seniman M.C. Escher, bidang-bidang Alas ditempatkan pada ketinggian dan kedalaman yang berbeda-beda.
Elemen-elemen itu tampak melayang dan saling terhubung di seluruh bangunan, sekaligus berfungsi sebagai sekat, ruang penyimpanan, dan area aktivitas.
Jendela besar dari Alas hingga langit-langit memungkinkan Terang alami mengalir ke seluruh bagian rumah.
Sementara itu, sejumlah elemen penyekat yang dirancang secara halus tetap memberikan privasi bagi Bilik mandi dan Bilik tidur.
3. Tiny Home is Tall, Tokyo
“Kecukupan dapat dirancang dengan Metode yang bermartabat,” kata François-Luc Giraldeau.
“Rumah ini pada dasarnya mengajukan satu pertanyaan: seberapa besar ruang yang sebenarnya kita perlukan Demi hidup dengan nyaman?”
Di banyak negara Barat, rumah yang lebih besar kerap dianggap lebih Bagus.
Tetapi di Jepang, desain Malah berupaya menemukan Metode Demi hidup nyaman dengan ruang yang lebih terbatas.
Di atas lahan sudut seluas hanya 30 meter persegi, firma arsitektur Kominoru Design berhasil membangun rumah tiga Alas yang memaksimalkan setiap jengkal ruang yang tersedia.
Alas paling atas dilengkapi teras atap, sementara di bagian dalam rumah sebuah bak mandi disematkan ke dalam dinding yang miring Demi menghemat ruang.
Jendela-jendela tinggi pada bagian atap juga membantu menciptakan sirkulasi udara yang alami.
Pepohonan yang ditanam di atas tepian atap dan taman kecil yang ditinggikan di Alas dua menyatukan unsur alam dengan bangunan secara cermat. Hasilnya adalah sebuah rumah yang indah dan fungsional, meskipun berdiri di atas lahan yang sangat terbatas.
4. Cat House, Kamakura
Di Jepang yang menghadapi penuaan penduduk, di mana jumlah hewan peliharaan kini melampaui jumlah anak-anak, hewan kesayangan kerap menempati posisi yang setara dengan Personil keluarga besar.
Berlatar kondisi tersebut, arsitek Tan Yamanouchi merancang rumah dengan mempertimbangkan sudut pandang dua kucing peliharaannya, selain kebutuhan dirinya dan sang istri.
Keputusan itu menghasilkan hunian yang Kagak Normal sekaligus mencerminkan gagasan kesetaraan antara Insan dan hewan peliharaan.
Di pusat rumah terdapat tangga spiral dengan 23 Strata yang dirancang sesuai panjang langkah seekor kucing.
Layaknya cabang-cabang yang tumbuh dari sebuah pohon, Bilik tidur, studio, dapur, ruang makan, dan Bilik mandi bercabang dari tangga tersebut.
Tata letak ini menciptakan ruang yang Elastis dan menyenangkan, sekaligus menghadirkan hunian yang nyaman bagi kucing maupun Insan.
5. Pale Veil, Tokyo
Terjepit di antara jalan raya Esensial dan jalur kereta api, apartemen ini memanfaatkan daya imajinasi yang menjadi Tanda khas khas desain Jepang Demi menciptakan hunian yang tenang dan terasa lapang.
Rancangan tersebut dibangun di atas konsep engawa, yakni ruang transisi antara area luar dan bagian dalam rumah.
Sebuah balkon seluas 40 meter persegi berfungsi sebagai engawa.
Sementara itu, pembatas ruang bergaya shoji berbentuk menyerupai sayap kupu-kupu menjadi elemen Esensial dalam desain hunian ini.
Struktur tersebut dibuat dari dua lapis kain tembus Terang yang diperkuat pipa-pipa baja.
Material itu dapat menyesuaikan diri dengan perubahan Terang dan memanjang ke luar Demi menyaring terik Surya musim panas yang menyengat.
Melalui pendekatan tersebut, apartemen yang berada di lingkungan padat dan bising ini Bisa menghadirkan ruang tinggal yang terasa lebih nyaman, teduh, dan terhubung dengan lingkungan sekitarnya.
6. Hut and Tower House, Tokyo
Sekilas menyerupai susunan balok Lego yang ditata secara cermat, rumah keluarga yang Istimewa ini berdiri di gang-gang kecil di distrik Meguro, Tokyo, Kagak jauh dari kawasan pertokoan yang ramai.
Hunian tersebut dirancang oleh firma arsitektur Onishimaki + Hyakudauki dan dibangun dari serangkaian kubus yang ditumpuk membentuk struktur vertikal.
Sebuah bangunan tambahan yang disebut hut (gubuk) menjorok dari menara Esensial. Berkat posisinya yang dekat dengan jalan, ruang ini dapat difungsikan sebagai Bilik tamu maupun studio kerja.
Di belakangnya, susunan kubus menjulang membentuk rumah lima Alas.
Dari Alas dasar, sebuah tangga spiral berkelok ke atas, menghubungkan Bilik-Bilik tidur, ruang keluarga, hingga ruang bermain yang berada di Alas paling atas.
Sementara itu, sebuah tangga luar menghubungkan bangunan dengan area pancuran yang terletak di Alas dua.
Melalui penataan ruang yang Kagak konvensional ini, para arsitek berhasil menciptakan hunian yang Elastis, menyenangkan, dan Bisa memaksimalkan lahan sempit khas kawasan perkotaan Tokyo.
7. Tokyo Blue Apartment, Tokyo
“Apartemen ini bukan rumah tunggal yang dirancang secara Tertentu, melainkan apartemen standar tipe 3LDK dari era 1970-an yang diubah secara radikal,” kata François-Luc Giraldeau kepada BBC.
Istilah LDK merupakan singkatan dari living, dining, kitchen (ruang keluarga, ruang makan, dan dapur), yang menggambarkan format ruang terbuka yang menjadi standar selama masa urbanisasi Jepang pascaperang. Bilangan di depannya menunjukkan jumlah Bilik tidur.
Unit-unit seperti ini dibangun secara massal Demi memenuhi kebutuhan tenaga kerja perkotaan yang Maju bertambah.
Hingga kini, apartemen semacam itu Lagi mudah ditemukan di berbagai kota di Jepang, meski sering kali Mempunyai desain yang seragam dan kurang Mempunyai Kepribadian.
Firma desain Roovice mencoba mengubah kondisi tersebut dengan menghadirkan identitas yang lebih kuat melalui penggunaan Corak, beton ekspos, pencahayaan yang Elastis, ruang penyimpanan Tertentu, serta jalur Alas berwarna biru kobalt yang menjadi Tanda khas khas apartemen ini.
“Tradisi desain interior Jepang umumnya lebih bertumpu pada material daripada Corak,” Terang Giraldeau.
“Di sini, Corak Kagak sekadar berfungsi sebagai elemen dekoratif, melainkan menjadi bagian dari struktur desain. Corak digunakan Demi mengarahkan pergerakan, menghubungkan berbagai ruang, dan mengubah unit standar menjadi hunian yang terasa lebih personal.”
8. House with Membrane Roof, Tokyo
Pemikiran inovatif menjadi kunci di balik rumah ini, yang berdiri di lingkungan padat di Tokyo dan terhimpit bangunan lain di tiga sisinya.
Demi menghadirkan lebih banyak Terang alami ke dalam rumah, firma arsitektur Yuko Nagayama & Associates Berbarengan Shohei Yoshida + Associates mencari solusi ke arah atas.
Mereka memasang atap ganda dari bahan membran yang digantung membentuk kurva katenaria.
Struktur ini pada dasarnya merupakan interpretasi berskala besar dari shoji, partisi tradisional Jepang yang berfungsi menyaring Terang.
“Arsitektur tradisional Jepang mengandalkan Terang yang lembut dan tersebar,” kata François-Luc Giraldeau.
Konsep tersebut kemudian diterapkan pada atap bangunan. Selain memungkinkan Terang masuk secara merata, atap membran ini juga membantu Sirkulasi Udara dan insulasi termal.
Di bawahnya, pepohonan tumbuh melalui sebuah atrium, menciptakan ruang yang terasa lapang dan menghadirkan Interaksi langsung antara hunian dan alam, meskipun berada di tengah kawasan perkotaan yang padat.
9. Symbiotic House, Karuizawa
Dibangun berdasarkan konsep Jepang kyōsei yang berarti simbiosis atau sinergi, rumah karya READ & Architects ini menghubungkan dua bangunan melalui koridor kaca.
Hunian tersebut dirancang Demi Kekasih yang baru memasuki masa pensiun.
Salah satu bangunan berisi ruang keluarga Esensial dan Bilik tidur Esensial, sementara bangunan lainnya difungsikan sebagai akomodasi tamu.
Ruang itu juga dirancang agar dapat digunakan sebagai tempat tinggal perawat pendamping apabila diperlukan di masa depan.
“Di Jepang, yang merupakan salah satu negara dengan populasi tertua di dunia, arsitektur telah belajar Demi mengantisipasi kebutuhan perawatan, bukan sekadar bereaksi terhadapnya,” kata François-Luc Giraldeau kepada BBC.
Rumah ini berdiri di kaki Gunung Asama dan dikelilingi taman batu vulkanik serta pepohonan fir.
Lanskap tersebut menyatu dengan hutan-hutan Karuizawa yang terlihat dari balik jendela, menciptakan Interaksi yang erat antara ruang hunian dan alam di sekitarnya.
10. Blurring Boundaries, Kawasaki
Rumah keluarga ini dirancang ulang oleh Taichi Mitsuya & Associates sebagai perpanjangan dari ruang kota di sekitarnya.
Dibangun dengan menyatu secara cermat ke dalam lingkungan Kawasaki yang dipenuhi jalan-jalan sempit dan jalur air, rumah ini terbuka terhadap Terang, sirkulasi udara, serta dinamika kehidupan perkotaan di sekelilingnya, tanpa mengorbankan privasi penghuninya.
Salah satu elemen paling menonjol adalah ruang Nihil vertikal setinggi Sekeliling sembilan meter yang diterangi Terang dari atap kaca.
Alas berbahan kisi-kisi baja pada area tersebut memungkinkan Terang menyebar ke seluruh bagian rumah, menciptakan suasana terang yang menyerupai rumah kaca.
Bagi keluarga beranggotakan empat orang yang tinggal di sana, sekat-sekat geser digunakan secara cerdas Demi mengaburkan batas antara ruang dalam dan ruang luar.
Di Alas Rendah terdapat beranda yang terbuka dan lapang, sementara di bagian atas tersedia teras taman yang menghadirkan ruang hijau di tengah lingkungan perkotaan.
Melalui pendekatan ini, rumah tersebut menciptakan Interaksi yang lebih Encer antara hunian pribadi dan kehidupan kota, sekaligus menawarkan ruang tinggal yang terang, Elastis, dan nyaman.
