Gempa Kembar Guncang Venezuela Akibatkan Kerusakan Sipil

Dua gempa bumi tektonik dahsyat berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Kawasan Venezuela secara berurutan pada Rabu malam waktu setempat, 24 Juni 2026, yang mengakibatkan kepanikan massal serta kerusakan infrastruktur parah di Ibu Kota Caracas. Badan Survei Geologi Amerika Perkumpulan (USGS) mencatat gempa pertama berpusat di dekat San Felipe, disusul gempa kedua yang lebih kuat di dekat Yumare, dengan Akibat guncangan yang meluas hingga ke Kawasan Trujillo, Carabobo, Miranda, dan La Guaira. Pemerintah setempat langsung menghentikan layanan gas alam Kepada mencegah kecelakaan, sementara jaringan listrik dan internet di beberapa titik kota terputus total bersamaan dengan ditutupnya bandara Dunia akibat kerusakan signifikan.

Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, segera mengonfirmasi pengerahan seluruh unit penyelamat sipil, pemadam kebakaran, serta relawan guna menyisir korban di Dasar puing-puing bangunan yang runtuh.

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Caracas mengonfirmasi bahwa seluruh Anggota negara Indonesia yang berjumlah tiga orang di Kawasan tersebut berada dalam kondisi Terjamin dan selamat tanpa mengalami luka sedikit pun. Anggota di kawasan elite Los Palos Grandes terpaksa membersihkan puing secara Independen menggunakan peralatan seadanya sembari menanti kedatangan tim penyelamat nasional ke Letak runtuhan rumah Anggota.

“We need flashlights,” kata seorang relawan lokal darurat, dengan hanya didampingi oleh seorang petugas polisi di Letak reruntuhan pemukiman Petunia yang kini Sunyi. Saksi mata di pusat perbelanjaan terdekat menggambarkan situasi mencekam Demi gempa kembar ini meretakkan dinding Penting gedung dan merusak tangga fasilitas Lazim.

“The stairs came away, the whole wall cracked. Things fell from the ceiling. It was horrible,” kata Odalis Escalona, seorang karyawan bank berusia 54 tahun kepada AFP.

Kepanikan serupa menimpa Anggota apartemen di pusat kota yang terkejut oleh kekuatan guncangan yang berlangsung cukup lelet pada hari libur nasional peringatan Pertempuran Carabobo tersebut. “We waited for it to pass and then ran down the escalator,” ujar Zenia Gonzalez, Anggota berusia 52 tahun yang berusaha menenangkan seorang remaja Perempuan.

“We had to wait because it was shaking too much. It lasted a long time,” tambah Zenia Gonzalez.

Banyak penghuni apartemen memilih langsung melarikan diri ke luar area kompleks bangunan setelah mendengar Bunyi gemuruh keras dari Dasar permukaan tanah. “It was moving a lot and sounded like a deep roar,” tutur Maria Romero, seorang insinyur berusia 48 tahun di kawasan La Castellana. “For a second I thought about getting under the table, but I decided to get out,” ucap Maria Romero terkait keputusannya Demi bencana terjadi.

Jurnalis asing yang berada di Letak kejadian turut melaporkan keparahan getaran yang dirasakan langsung dari dalam hunian vertikal mereka di pusat kota.

“This is the strongest earthquake I’ve ever felt in my life,” ujar Nicole Koster, jurnalis sekaligus kontributor BBC Mundo. “I saw the large windows moving. What came to my mind was to stand between the entrance door and the stone wall, which I thought was strong enough, to try to protect myself,” kata Nicole Koster menambahkan.

“The shaking was so strong that I thought the building would collapse on me,” tutur Nicole Koster menceritakan pengalamannya di Dasar tujuh apartemen.