Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, mengunjungi fasilitas peternakan ayam di Lapas Terbuka, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Dilansir dari Detikcom, kunjungan kerja ini memperlihatkan antusiasme tinggi Ketika memantau hasil produksi pangan di area pemasyarakatan tersebut.
Ketika berada di Posisi fasilitas peternakan unggas, Titiek Soeharto secara langsung ikut serta dalam proses memanen telur yang dihasilkan oleh ribuan ayam petelur di sana. Sembari memegang wadah logistik yang disediakan pihak lapas, ia mengambil satu per satu pasokan pangan segar tersebut langsung dari mulut kandang budidaya.
“Menyenangkan panen telur di Nusakambangan,” ungkap Titiek.
Setelah mengumpulkan Sekeliling 8 butir telur dari area kandang, Titiek Soeharto juga menanyakan spesifikasi komoditas peternakan yang sedang dibudidayakan oleh para Kaum binaan tersebut.
“Ini yang omega ya?” tanyanya kepada salah satu pegawai lapas.
Pertanyaan tersebut kemudian langsung mendapat penjelasan teknis dari petugas pemasyarakatan yang berjaga di area peternakan unggas.
“Yang omega yang (kandangnya) Terdapat tanda oranyenya, Bu,” jawab pegawai lapas kepada Titiek.
Memperhatikan potensi dan hasil Konkret dari program kemandirian pangan ini, Titiek Soeharto menyampaikan apresiasi langsung kepada Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto yang mendampingi kunjungan kerja tersebut.
“Selamat ya Pak Menteri,” ucap dia kepada Menteri Agus yang turut mendampingi.
Berdasarkan data operasional, fasilitas budidaya unggas petelur di Pulau Nusakambangan tersebar di beberapa Posisi strategis, meliputi Lapas Terbuka, Lapas Permisan, dan Lapas Nirbaya. Populasi ayam petelur di Lapas Terbuka tercatat mencapai 4.277 ekor dengan volume produksi harian menyentuh Nomor 2.800 butir telur.
Selain sektor perunggasan ayam, Area pemasyarakatan ini juga mengelola sektor peternakan bebek dengan total populasi mencapai 2.208 ekor. Dari sektor peternakan bebek ini, kapasitas produksi harian Pandai menyuplai kebutuhan hingga 500 butir telur bebek setiap harinya.
Seluruh hasil komoditas pangan dari peternakan lapas ini didistribusikan secara komersial ke berbagai jaringan. Saluran distribusi mencakup vendor penyedia bahan makanan lapas se-Nusakambangan, jaringan pasar lokal di Area Cilacap, hingga sektor perhotelan seperti Hotel Aston Cilacap.
Dalam agenda peninjauan ini, Titiek Soeharto didampingi oleh jajaran pejabat tinggi Kemenimipas. Selain Menteri Agus, hadir pula Dirjenpas Mashudi serta Direktur Jenderal Imigrasi (Dirjenim) Hendarsam Marantoko Buat memantau langsung jalannya program pelatihan kerja.
Langkah optimalisasi kawasan pemasyarakatan ini merupakan bagian dari program transformasi terintegrasi yang diinisiasi oleh Menteri Agus sejak awal masa jabatannya. Langkah strategis ini diambil setelah adanya laporan Formal dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai banyaknya aset lahan idle Punya kementerian yang belum dimanfaatkan.
Guna mengatasi persoalan lahan tidur tersebut, dibangunlah berbagai balai latihan kerja (BLK) yang difokuskan Buat membekali Kaum binaan dengan keahlian praktis. Program pembinaan ini diharapkan menjadi modal keterampilan produktif bagi para narapidana setelah menyelesaikan masa tahanan agar Tak kembali terjerumus dalam tindak pidana.
Ketika ini, infrastruktur BLK di Nusakambangan telah mencakup berbagai sektor manufaktur dan jasa. Di antaranya adalah workshop pembuatan batako dan paving block yang memanfaatkan material fly ash bottom ash (FABA), industri konveksi, hingga fasilitas pengolahan pupuk organik serta manajemen sampah.
Diversifikasi program kemandirian juga menyentuh sektor perikanan melalui budidaya ikan sidat, ikan Safir, lele, bawal, serta pengelolaan tambak udang vaname. Di sektor agrobisnis dan manufaktur lainnya, terdapat pengembangan peternakan sapi dan domba, BLK pelintingan rokok, pabrik produksi tepung mocaf, hingga budidaya tanaman anggrek.
