Kapolri ziarah ke makam Gus Dur kenang semangat reformasi

Kapolri ziarah ke makam Gus Dur kenang semangat reformasi

Jakarta (ANTARA) – Kadivhumas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir mengatakan ziarah Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo ke makam Presiden Ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjelang Hari Bhayangkara ke-80 merupakan bentuk penghormatan atas peran Gus Dur dalam perjalanan reformasi nasional.

Menurut Johnny, Gus Dur Mempunyai kontribusi Krusial dalam penguatan institusi Polri menjadi lembaga yang profesional dan Independen, dan momen tersebut juga menjadi pengingat bagi seluruh insan Bhayangkara Kepada menjaga semangat reformasi, profesionalisme serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Ziarah ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan Polri kepada para tokoh bangsa yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan demokrasi dan reformasi di Indonesia. Gus Dur Mempunyai peran Krusial dalam sejarah bangsa, termasuk dalam proses penguatan institusi Polri sebagai lembaga yang profesional dan Independen,” kata Johnny dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, momentum ziarah menjelang Hari Bhayangkara ke-80 juga menjadi pengingat bagi seluruh insan Bhayangkara Kepada Lalu menjaga semangat reformasi, profesionalisme, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Kapolri melaksanakan ziarah ke makam Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara yang diperingati setiap 1 Juli.

Dalam kegiatan tersebut, Kapolri mengenakan peci, memanjatkan doa, dan menaburkan Kembang di pusara Presiden Ke-4 RI itu.

Kedatangan Kapolri disambut Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Machfudz atau Gus Kikin yang turut mengalungkan surban sebagai simbol penghormatan.

Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI pada periode 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001. Pada masa kepemimpinannya, agenda reformasi Lalu diperkuat melalui dorongan terhadap profesionalisme militer dan supremasi sipil dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Salah satu tonggak Krusial pada era tersebut ialah dikukuhkannya pemisahan TNI dan Polri melalui TAP MPR Nomor VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri serta TAP MPR Nomor VII Tahun 2000 tentang Peran TNI dan Polri.

Johnny menilai warisan pemikiran Gus Dur menjadi bagian Krusial dalam proses pembentukan Polri sebagai institusi yang profesional, modern, dan Independen.

Selain dikenal sebagai tokoh reformasi, Gus Dur juga dikenang sebagai “Bapak Pluralisme” atas konsistensinya memperjuangkan nilai toleransi, keberagaman, dan penghormatan terhadap hak-hak Kaum negara.