Jakarta (ANTARA) – Mendunia Chief Economist Juwai IQI Shan Saeed menilai Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik bagi investor Mendunia.
Penilaian tersebut tercermin dalam Mendunia Market Accessibility Review 2026 yang menempatkan Indonesia dalam Penggolongan Emerging Market, meski mendapat catatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait information flow atau arus informasi pasar.
Dalam pernyataan diterima di Jakarta, Sabtu, disampaikan dia, perhatian MSCI terhadap pasar modal Indonesia dapat menjadi katalis positif Buat memperkuat daya saing pasar keuangan nasional.
“Sejarah menunjukkan bahwa pasar modal yang sukses dibangun melalui proses perbaikan berkelanjutan. Korea Selatan dan India memperkuat daya saing pasar mereka melalui modernisasi regulasi, peningkatan tata kelola, dan transparansi yang lebih Bagus. Indonesia Mempunyai kesempatan yang sama Buat melakukan hal tersebut,” kata Shan,
Menurut dia, prospek ekonomi Indonesia Lagi sangat menjanjikan. Ia Menyaksikan kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, struktur demografi yang produktif, disiplin fiskal, kekayaan sumber daya alam, serta berlanjutnya agenda reformasi menjadi modal Krusial bagi Indonesia Buat Lalu berkembang.
“Di tengah ekonomi Mendunia yang semakin terfragmentasi, negara yang Mempunyai kombinasi skala, stabilitas, demografi, sumber daya alam, dan momentum reformasi semakin langka. Indonesia tetap menjadi salah satu di antaranya,” ujar dia.
Shan menilai kekuatan Mendasar ekonomi Indonesia tetap terjaga dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan prospek pertumbuhan paling menarik di kawasan.
“Ekonomi besar Bukan ditentukan oleh seberapa besar sorotan yang mereka hadapi, tetapi oleh kemampuan mereka mengubah sorotan tersebut menjadi reformasi, reformasi menjadi kepercayaan, dan kepercayaan menjadi pembentukan modal jangka panjang. Trajektori Indonesia menunjukkan bahwa negara ini sedang melakukan hal tersebut,” katanya.
Optimisme tersebut didukung oleh capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026.
Nomor tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat, Bagus di kawasan ASEAN maupun Golongan G20.
Di Ketika banyak negara maju hanya mencatatkan pertumbuhan ekonomi Sekeliling 1 hingga 2 persen, Indonesia Lagi Bisa mempertahankan laju Pengembangan ekonomi di atas 5 persen.
Shan menjelaskan daya tahan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat, arus investasi yang Lalu masuk, serta kebijakan makroekonomi yang dinilai kredibel.
Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari Separuh produk domestik bruto (PDB) tercatat tumbuh 5,52 persen, sementara realisasi investasi pada kuartal I 2026 mencapai Sekeliling Rp498,8 triliun.
Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai Sekeliling 146 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026 dan rasio utang pemerintah yang Lagi berada di Dasar 40 persen terhadap PDB dinilai memberikan ruang yang cukup bagi pemerintah Buat menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian Mendunia.
“Investor Mendunia mencari tiga hal, Merukapan pertumbuhan, stabilitas, dan skala. Indonesia menawarkan ketiganya. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5 persen, stabilitas makroekonomi terjaga, dan pasar domestik berpenduduk Sekeliling 285 juta jiwa memberikan skala yang sulit ditandingi oleh banyak negara berkembang lainnya,” kata Shan.
