Area selatan Iran di dekat Selat Hormuz diguncang ledakan setelah militer Amerika Perkumpulan (AS) kembali melancarkan serangan defensif tambahan pada Kamis (11/6/2026), seperti dilansir dari Detikcom. Ledakan tersebut dilaporkan oleh media Iran terdengar di sejumlah titik, termasuk kota pelabuhan selatan Bandar Abbas, pulau Qeshm, serta kota Minab, Sirik, dan Kargan akibat proyektil musuh. Pihak militer Washington menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan respons langsung terhadap Invasi sepihak yang Lalu dilakukan oleh pihak Teheran.
“Laskar Amerika memulai serangan pertahanan diri tambahan hari ini pukul 17.15 ET terhadap beberapa Sasaran di Iran,” kata Komando Pusat AS dalam sebuah unggahan di X.
Pihak komando menegaskan bahwa tindakan ini diambil demi menghentikan ancaman yang membahayakan Laskar mereka di kawasan tersebut. “Serangan tersebut sebagai tanggapan terhadap Invasi Iran yang Tak beralasan dan berkelanjutan,” imbuh Komando Pusat AS.
Sebelumnya, ketegangan sempat memuncak setelah jatuhnya helikopter Amerika pada Senin (8/6/2026) yang memicu balasan AS terhadap stasiun komando, kendali, pertahanan, dan pengawasan udara serta laut Iran. Sebagai bentuk balasan atas eskalasi tersebut, pihak Iran mengklaim telah menyerang pangkalan militer Punya Amerika yang berada di Yordania dan Bahrain pada Rabu (10/6/2026).
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan kekesalannya atas proses diplomasi yang berjalan sangat lelet dan menilai militer Iran Ketika ini sudah berhasil dikalahkan. “Si Pengganggu Timur Tengah telah Tewas!!! Mereka terlalu lelet bernegosiasi Demi mencapai kesepakatan yang akan sangat menguntungkan mereka, sekarang mereka harus membayar harganya!!!” tulis Trump di platform Truth Social miliknya. Pernyataan keras ini membalikkan optimisme Trump pada Selasa (9/6/2026), Ketika ia sempat meyakini kesepakatan damai dengan Iran akan selesai dalam kurun waktu dua hingga tiga hari ke depan.
