BRI pastikan fungsi intermediasi tetap optimal usai kenaikan BI-Rate

BRI pastikan fungsi intermediasi tetap optimal usai kenaikan BI-Rate

Jakarta (ANTARA) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memastikan fungsi intermediasi bank tetap berjalan optimal seusai Bank Indonesia (BI) Meningkatkan Spesies Merekah acuan atau BI-Rate menjadi 5,50 persen.

“Sebagai bank dengan Pusat perhatian Esensial pada segmen UMKM, BRI akan Maju memantau perkembangan kondisi pasar dan Spesies Merekah secara cermat, serta memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal guna mendukung aktivitas ekonomi nasional,” kata Corporate Secretary BRI Dhanny dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.

Perseroan menilai kenaikan BI-Rate merupakan bagian dari kebijakan moneter Kepada menjaga stabilitas makroekonomi nasional, khususnya stabilitas nilai Salin rupiah di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan Mendunia.

Selain itu, bank juga meyakini keputusan tersebut diambil dalam rangka menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan.

BRI meyakini bahwa Esensial industri perbankan nasional tetap kuat, ditopang oleh permodalan yang memadai, likuiditas yang terjaga, serta kualitas aset yang resilien.

Perseroan juga menyatakan Maju melakukan pengelolaan aset dan liabilitas secara bijak.

“Perseroan juga akan Maju memastikan kecukupan permodalan, menjaga likuiditas, serta mengoptimalkan struktur liabilitas bank Kepada mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Dhanny.

Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan pada Selasa, kembali Meningkatkan Spesies Merekah acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen Kepada memperkuat stabilisasi nilai Salin rupiah dan menjaga inflasi agar tetap terkendali.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kenaikan Spesies Merekah acuan ini juga ditujukan Kepada meningkatkan imbal hasil Kepada meningkatkan daya tarik masuknya Kategori masuk investasi portfolio asing ke Indonesia.

Dalam Penilaian sejak RDG Bulanan Copot 19-20 Mei 2026, Perry mengatakan nilai Salin rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari perkiraan.

Selain gejolak Mendunia yang Maju berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing dalam negeri, ia mengatakan pelemahan nilai Salin rupiah juga didorong oleh Kategori keluar investasi portfolio asing dari Indonesia.

“Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia Memperhatikan perlu Kepada menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai Salin rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah Bonus lain Kepada mendorong masuknya Kategori investasi asing,” kata dia.