Mesin utang: bagaimana Inter menjual pendapatan masa depan demi kesuksesan hari ini

Goal.com

Dunia sepak bola semakin dipengaruhi oleh modal, di mana ekuitas swasta memainkan peran yang semakin besar. Akuisisi klub-klub seperti A.C. Milan, Chelsea, dan Olympique Lyon menunjukkan bahwa perusahaan investasi semakin sering Memperhatikan sepak bola Global sebagai pasar yang menjanjikan.

Dalam buletin Cleats & Cashflows, kami mengulas perkembangan ini. Kami meneliti Kesempatan strategis apa yang ditawarkan tren ini, Tetapi juga menyoroti risiko yang menyertai meningkatnya investasi finansial di sepak bola. Edisi ini merupakan bab ketiga dari seri mini Milan kami, yang terdiri dari empat blog. Senin Lewat kami menerbitkan blog pertama, ini adalah yang kedua dari seri tersebut.

Sebelumnya kami telah membahas rekonstruksi institusional AC Milan, dan awal pekan ini perhatian beralih ke sisi lain kota: Inter Milan. Sementara kisah Milan baru-baru ini ditandai dengan stabilisasi di Rendah Elliott dan pertumbuhan lebih lanjut di Rendah RedBird, Inter mengikuti jalur yang sangat berbeda. Jalur tersebut ditandai dengan pemilik yang ambisius, kesuksesan olahraga, dan strategi keuangan yang pada akhirnya terbukti Bukan berkelanjutan, sehingga kendali Terperosok ke tangan kreditor.

Ketika Oaktree mengambil alih kendali Inter pada 2024, mereka Bukan mewarisi klub dengan masalah olahraga. Sebaliknya: di Rendah Suning, Inter meraih gelar, kembali memainkan peran Krusial di Perserikatan Champions, dan kembali ke puncak Serie A. Tetapi, secara finansial, situasinya jauh lebih suram.

Tantangan bagi Oaktree pun Bukan terletak di lapangan, melainkan di luar lapangan: mengubah organisasi yang sangat bergantung pada utang dan pembiayaan eksternal menjadi model yang lebih sehat dan berkelanjutan secara finansial.

Mesin utang: obligasi dan trik keuangan

Keputusan keuangan terpenting Suning diambil pada Desember 2017. Hanya satu Separuh tahun setelah akuisisi, Inter mengumpulkan 300 juta euro melalui pinjaman obligasi. Obligasi tersebut diterbitkan melalui Inter Media & Communication, sebuah perusahaan terpisah yang telah didirikan pada 2014 di Rendah mantan pemilik Erick Thohir. Pinjaman tersebut Mempunyai jangka waktu lima tahun dan Mengembang sebesar 4,875%.

Bangunan di baliknya cerdas, Tetapi juga berisiko. Alih-alih meminjam Dana secara langsung, Inter menggunakan pendapatan masa depan sebagai jaminan. Misalnya, hak siar televisi, kontrak sponsor, dan pendapatan komersial lainnya. Dengan demikian, investor berhak atas sebagian dari Jenis Anggaran masa depan tersebut, sementara Inter dapat langsung memanfaatkan Anggaran tambahan tersebut.

Ide tersebut bukanlah hal yang Aneh. Klub-klub seperti Real Madrid juga memanfaatkan bentuk pembiayaan serupa. Tetapi, bagi Inter, penerbitan obligasi tersebut merupakan langkah Krusial: pendapatan masa depan mulai Begitu itu secara struktural digunakan Buat menarik pembiayaan baru.

Hal itu Mempunyai konsekuensi. Sejak Begitu itu, pemegang obligasi Mempunyai prioritas atas sebagian pendapatan klub. Sebelum Inter dapat menggunakan Anggaran Buat kegiatan sepak bola sehari-hari, kewajiban Mengembang dan pelunasan utang harus dibayarkan terlebih dahulu.

Dengan hasil dari obligasi tersebut, Inter melunasi utang yang Terdapat dan menciptakan ruang keuangan tambahan. Dana tersebut Bukan langsung digunakan Buat transfer pemain. Buat investasi dalam skuad, klub tetap bergantung pada pemegang saham, pembayaran transfer yang dicicil, dan anggaran gaji yang Maju meningkat.

Obligasi tersebut pada dasarnya memberikan hal lain: kelonggaran keuangan langsung. Tetapi, hal itu tentu saja Mempunyai konsekuensinya. Bangsa Mengembang 4,875% tampak menguntungkan pada Begitu itu, tetapi tetap berarti Sekeliling 15 juta euro biaya Mengembang tahunan. Serempak dengan beban pembiayaan lainnya, total tagihan Mengembang pada 2017/18 mencapai Sekeliling 35 juta euro, Dekat 10% dari pendapatan tahunan.

Tetapi, Suning Mempunyai Argumen yang Terang Buat memilih utang. Pinjaman baru lebih murah daripada Maju-menerus menyuntikkan Anggaran sendiri ke klub. Selain itu, kendali atas klub tetap sepenuhnya di tangan pemilik. Risikonya hanya ditunda ke masa depan: Kalau pendapatan Bukan sesuai Cita-cita, beban utang akan tetap Terdapat.

Pandemi COVID-19 menunjukkan betapa pentingnya fleksibilitas tersebut. Ketika suporter Bukan Tengah diperbolehkan masuk ke stadion, sumber pendapatan Primer nyaris hilang sepenuhnya. Pada musim 2020/21, Inter diperkirakan kehilangan Sekeliling 45 juta euro dari pendapatan pertandingan.

Buat menjaga kas tetap mencukupi, klub memperluas program obligasi yang Terdapat pada 2020 dengan tambahan 75 juta euro. Akibatnya, total utang yang belum dibayar naik menjadi Sekeliling 375 juta euro. Beban Mengembang pun tentu saja ikut meningkat. Pada 2021/22, Inter membayar Dekat 48 juta euro Buat Mengembang, Sekeliling 12% dari pendapatan.

Pada awal 2022, obligasi awal Dekat Terperosok tempo. Pada Begitu yang sama, Suning di Tiongkok semakin tertekan. Oleh karena itu, putaran pembiayaan baru Bukan dapat dihindari.

Perangkap refinansialisasi

Pada Februari 2022, Inter kembali menggalang Anggaran melalui pasar modal. Kali ini berupa obligasi senilai 415 juta euro dengan jangka waktu hingga 2027. Bangsa Mengembang sebesar 6,75% jauh lebih tinggi dibandingkan pinjaman sebelumnya.

Itu bukanlah kebetulan. Posisi keuangan Inter memburuk, peringkat kreditnya diturunkan, dan Akibat pandemi Lagi terlihat dalam Nomor-Nomor tersebut.

Di sini terlihat Terang berapa biaya sebenarnya yang harus ditanggung klub akibat strategi utang tersebut. Hanya Buat obligasi ini saja, Inter membayar Mengembang Dekat 28 juta euro per tahun. Biaya pembiayaan lainnya Lagi ditambahkan di atasnya.

Dampaknya semakin terlihat. Pada musim 2023/24, Inter Mempunyai beban Mengembang tertinggi di seluruh Serie A, Adalah Sekeliling 35 juta euro. Sebagai Komparasi: Juventus membayar Sekeliling 20 juta, Roma 11 juta, dan AC Milan kurang dari 1 juta.

Total utang bersihnya pun tetap yang tertinggi di Italia, Adalah Sekeliling 311 juta euro. Setiap euro yang dihasilkan Inter harus terlebih dahulu dibayarkan kepada para pemberi pinjaman sebelum Terdapat sisa nilai bagi klub itu sendiri.

Perlahan-lahan, tekanan finansial tersebut mulai memengaruhi kebijakan olahraga. Apa yang dulunya dimaksudkan sebagai Metode Buat memberi klub ruang finansial yang lebih luas, semakin menjadi batasan.

Hal ini terlihat Terang di bursa transfer. Antara musim 2018/19 dan 2021/22, Inter menghabiskan Sekeliling 271 juta euro secara Rapi Buat pemain baru. Dalam tiga musim berikutnya, situasinya berbalik sepenuhnya: klub Bahkan mendapatkan lebih banyak Dana dari transfer daripada yang dibelanjakan.

Inter berubah dari pembeli yang ambisius menjadi klub yang semakin sering harus menjual pemain Buat menjaga keuangan tetap teratur.

Inilah rekayasa keuangan dalam praktiknya. Inter Bukan berhenti berinvestasi dalam sepak bola, tetapi semakin jarang melakukannya dengan Anggaran sendiri.

Antara 2017 dan 2024, program obligasi menyediakan pembiayaan baru, membantu klub melewati masa-masa sulit, dan memungkinkan dilakukannya investasi. Pada Begitu yang sama, program tersebut membebani organisasi dengan beban Mengembang struktural, sehingga ruang gerak finansial semakin menyempit.

Hal ini Bukan hanya memengaruhi kebijakan di kantor, tetapi pada akhirnya juga ambisi olahraga di lapangan. Akibat dari beban Mengembang tersebut baru Betul-Betul terlihat Terang ketika kita Menyaksikan arus kas. Antara musim 2018/19 dan 2023/24, Inter secara rutin menghasilkan arus kas operasional yang signifikan. Tetapi, begitu pembayaran Mengembang dan pajak diperhitungkan, sisa kas yang tersisa seringkali jauh lebih sedikit.

Musim

Arus kas operasional sebelum Mengembang dan pajak (€m)

Arus kas setelah Mengembang dan pajak (€m)

2018/19

74

48

2019/20

116

95

2020/21

43

-1

2021/22

18

-34

2022/23

13

-29

2023/24

88

46

Inter Cleats & Cashflows Blog 2 Grafiek 1Maurits Linders

Gambar 1: Perkembangan arus kas operasional, arus kas bebas, dan pembayaran Mengembang Inter berdasarkan laporan arus kas.

Strategi utang yang selama bertahun-tahun memungkinkan pertumbuhan Inter, pada akhirnya Betul-Betul berakhir setelah Oaktree mengambil alih kendali klub.

Pada tahun 2025, pemilik baru memutuskan Buat melakukan refinancing lebih awal atas obligasi yang akan Terperosok tempo pada tahun 2027. Pinjaman baru tersebut berlaku hingga tahun 2030 dan Mempunyai Bangsa Mengembang yang jauh lebih rendah, Adalah 4,52%. Dengan demikian, biaya Mengembang tahunan dilaporkan turun Sekeliling 12 juta euro.

Yang menarik, ketiga penerbitan obligasi ini Dekat menceritakan seluruh kisah masa kepemilikan Inter.

– 4,875% pada 2017: para investor percaya pada rencana masa depan Suning.

– 6,75% pada 2022: beban utang yang tinggi dan kerentanan finansial klub semakin terlihat.

– 4,52% pada 2025: setelah akuisisi oleh Oaktree, kepercayaan pemberi pinjaman kembali.

Pasar modal sebenarnya sudah Menyaksikan perubahan dalam manajemen dan stabilitas keuangan jauh sebelum dunia sepak bola sepenuhnya menyadarinya.

Hal ini membawa kita pada Hasil Krusial. Masa kejayaan Inter Bukan didanai oleh operasional bisnis yang secara struktural menguntungkan. Klub tersebut membangun kesuksesannya sebagian besar dengan utang, skema keuangan, dan menggeser pendapatan masa depan ke masa kini.

Dengan kata lain: Inter Bukan membiayai kesuksesannya dengan Dana hari ini, melainkan dengan Dana masa depan.

Selama bertahun-tahun, model tersebut berhasil. Hal itu membantu klub memenangkan trofi, kembali ke puncak Eropa, dan tetap kompetitif di level tertinggi. Tetapi, pada 2022, menjadi Terang bahwa program obligasi saja Bukan Tengah cukup Buat mempertahankan struktur keuangan.

Dan di situlah bab berikutnya dimulai: bagaimana sistem tersebut akhirnya mulai retak. Blog ketiga tentang Inter akan diterbitkan akhir bulan ini.

Berlanggananlah sekarang ke Cleats and Cashflows di LinkedIn!