Komisi Kebebasan Beragama Global Amerika Perkumpulan (USCIRF) merilis laporan yang menyebut Sekeliling 30.000 Agresif Fulani bersenjata beroperasi di Nigeria dan memicu pelanggaran kebebasan beragama yang memburuk.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa aktivitas Agresif bersenjata ini telah menyebabkan jumlah Mortalitas tertinggi di antara komunitas beragama di Nigeria sepanjang tahun Lampau.
Penilaian tim pengamat keamanan luar negeri itu langsung memicu reaksi keras dari Asosiasi Peternak Sapi Miyetti Allah Nigeria (MACBAN) yang menolak generalisasi terhadap seluruh etnis.
Dalam pernyataan Formal pada Jumat, 29 Mei 2026, pihak asosiasi menegaskan bahwa pelaku kriminalitas Bukan mewakili jutaan Anggota sipil Fulani yang taat hukum di negara tersebut.
Presiden Nasional MACBAN, Baba Ngelzarma, memberikan penegasan bahwa Bilangan yang disebutkan dalam laporan Amerika Perkumpulan itu sangat Bukan mencerminkan populasi Fulani yang sebenarnya.
“the 30,000 militants and bandits cited in the report “do not, and will never, represent the 14.5 million peaceful Fulani citizens of this country.”” kata Baba Ngelzarma, Presiden Nasional MACBAN.
Menurutnya, para peternak lokal Malah kerap menjadi sasaran Penting dari sindikat kriminal dalam bentuk pencurian ternak hingga penculikan massal.
“As MACBAN has posited in several reports and statements, law-abiding pastoralists are themselves primary victims of these criminal syndicates, routinely suffering from cattle rustling, mass abductions, and retaliatory violence,” ujar Baba Ngelzarma, Presiden Nasional MACBAN.
Organisasi tersebut menyatakan komitmen penuh Demi membantu aparat penegak hukum dan Bukan akan melindungi siapa pun yang terlibat dalam tindakan kekerasan.
“MACBAN will not shield, make excuses for, or tolerate any individual or group engaging in violent criminality,” cetus Baba Ngelzarma, Presiden Nasional MACBAN.
Demi mengantisipasi pergerakan kriminal di Daerah pedalaman, MACBAN menginstruksikan seluruh cabang daerah Demi memperkuat koordinasi intelijen Berbarengan militer federal dan tokoh adat.
“We are actively directing our zonal and state branches to formalize and deepen closed-door intelligence-sharing channels with federal security forces and local traditional rulers.” tegas Baba Ngelzarma, Presiden Nasional MACBAN.
Pihak asosiasi juga mendesak pemerintah agar segera menerapkan reformasi sektor peternakan, khususnya penyediaan peternakan menetap (ranching) demi menyudahi konflik lahan.
“We pledge our full cooperation to help law enforcement detect, isolate, and flush out criminal elements using our forests and borderlands as cover,” kata Baba Ngelzarma, Presiden Nasional MACBAN.
Di sisi lain, mantan direktur biro penanggulangan terorisme Departemen Luar Negeri AS, Sterling Tilley, menilai intervensi militer langsung dari luar negeri Bukan disarankan Demi konflik internal ini.
“militarily dealing with the farmer-herder conflict is not advisable because it is likely to bring more instability in the country.” kata Sterling Tilley, Mantan Direktur Bureau of Counterterrorism.
Tilley menambahkan bahwa penyelesaian ketegangan di Daerah sabuk tengah Nigeria tersebut membutuhkan kemauan politik yang kuat dari pemerintah pusat setempat.
“There are some steps that can be taken to quell the violence, but there must be Nigerian political will to do so.” tutur Sterling Tilley, Mantan Direktur Bureau of Counterterrorism.
Komentar mengenai situasi ini juga datang dari Sekretaris Perang AS, Pete Hegseth, yang menyinggung arahan prioritas perlindungan komunitas di Daerah konflik dari Presiden Donald Trump.
“Maybe a year ago, [the president] heard the call of Nigerian Christians who were being targeted and killed by ISIS. And he said, ‘Pete, I want the War Department to focus on ensuring that we do everything we can to protect those Christians.'” ucap Pete Hegseth, Sekretaris Perang AS.
Sementara itu, organisasi Open Doors UK & Ireland yang berfokus pada pemantauan persekusi keagamaan ikut memberikan pandangan terkait tingginya Bilangan kekerasan bersenjata di Daerah tersebut.
“Violence at the hands of militants from the Fulani tribe far outnumbers violence from all other militant groups such as Boko Haram or ISWAP (Islamic State West African Province),” kata Henrietta Blyth, CEO Open Doors UK & Ireland.
Blyth menjelaskan bahwa Akibat dari situasi Bukan Kondusif ini sangat kompleks dan telah mencerai-beraikan ratusan ribu Anggota dari tempat tinggal mereka.
“My heart has been broken as I have heard stories from women and men who have seen their beloved family members butchered in front of them or carried off into a life of slavery.” ungkap Henrietta Blyth, CEO Open Doors UK & Ireland.
Ia menekankan perlunya jaminan keamanan yang Konkret serta pemulihan jangka panjang bagi seluruh korban konflik yang terdampak di akar rumput.
“The situation is complicated, and as the report concludes, it is too simplistic to say all perpetrators are religiously motivated. What is undisputable is that Christians are highly vulnerable and often the victims, paying the price in blood. They desperately need protection and, for hundreds of thousands driven from their homes, the chance to heal and rebuild their lives.” pungkas Henrietta Blyth, CEO Open Doors UK & Ireland.
Analis domestik Lanre Ogundipe dari Abuja menambahkan bahwa hilangnya kendali otoritas negara atas kawasan hutan dan koridor perbatasan berpotensi memunculkan ekosistem bersenjata paralel non-negara yang mengancam kedaulatan penuh Nigeria.
