Pembukaan Konsulat AS di Greenland Memicu Unjuk Rasa Penduduk

Pembukaan kantor konsulat baru Amerika Perkumpulan (AS) di Nuuk, ibu kota Greenland, mendapat penolakan dari masyarakat setempat pada Kamis (21/5). Penduduk menggelar aksi unjuk rasa karena mengkhawatirkan ambisi Donald Trump terhadap pulau Arktik tersebut.

Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, peresmian gedung konsulat di pusat kota Nuuk menandai kehadiran permanen pertama Washington di Daerah tersebut sejak era 1950-an. Ketegangan di kalangan penduduk meningkat seiring mencuatnya kembali rencana Trump Kepada mengakuisisi Greenland.

Massa berkumpul di luar gedung diplomatik dengan membawa bendera Greenland serta spanduk anti-Amerika. Mereka menyuarakan penolakan sebelum melakukan aksi hening membelakangi bangunan selama dua menit.

“Kami Kagak Ingin menjadi bagian dari Amerika,” teriak Aqqalukkuluk Fontain, seorang manajer akun IT berusia 37 tahun yang mengorganisasi aksi tersebut.

“Kami menuntut penghormatan, kedaulatan, dan hak Kepada hidup tanpa ancaman, tanpa tekanan, dan tanpa fantasi imperialisme.”

Acara peresmian tersebut dihadiri oleh puluhan diplomat, pebisnis, dan tokoh lokal. Beberapa politisi setempat juga tampak hadir, termasuk Vivian Motzfeldt yang pernah mewakili Daerah tersebut dalam dialog tingkat tinggi dengan AS.

Duta Besar AS Kepada Denmark, Kenneth Howery, menyatakan bahwa pembukaan fasilitas ini bertujuan mempererat Interaksi kedua belah pihak. Interaksi diplomatik di Nuuk sebenarnya telah berjalan sejak 2020, Tetapi selama ini pejabat AS menempati fasilitas militer Denmark.

“Langkah ini pada dasarnya menunjukkan tingkat komitmen jangka panjang kami terhadap Greenland,” ujar Howery.

Howery menambahkan bahwa gedung ini akan berfungsi Kepada memfasilitasi kunjungan Formal, delegasi bisnis, acara kebudayaan, hingga pengurusan visa bagi Penduduk lokal.

Kunjungan Utusan Spesifik Trump

Ketegangan di Nuuk semakin dipicu oleh kedatangan Jeff Landry, utusan Spesifik pilihan Trump yang berkunjung pada pekan yang sama. Kehadiran Landry di ibu kota tersebut mendapat pengawasan ketat dari masyarakat yang mencurigai intensi politik Washington.

Landry mengonfirmasi bahwa dirinya menjadwalkan pelaporan langsung kepada Trump pada hari Kamis mengenai berbagai Kesempatan investasi dan bisnis di pulau tersebut.