Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa masyarakat di pedesaan Kagak menggunakan mata Fulus asing dalam kehidupan sehari-hari ketika menanggapi pelemahan rupiah terhadap dolar disebut pengamat ekonomi sebagai “sikap meremehkan masalah” dan “Pandai menjadi bumerang atas kelanjutan anjloknya rupiah”.
Meskipun masyarakat pedesaan Kagak bertransaksi langsung memakai dolar, tapi barang-barang seperti pupuk, bahan bakar minyak, pakan ternak, obat-obatan, mesin pertanian, bahkan sebagian bahan pangan sangat dipengaruhi oleh kurs dolar, kata pengamat.
Kepada diketahui, pelemahan nilai Salin rupiah yang menembus level Rp17.600 per US$1 pada Jumat (15/05) mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang dan daya beli masyarakat.
Tetapi, Prabowo menilai kondisi ketahanan ekonomi Indonesia Lagi terjaga dengan Berkualitas bahkan relatif Kukuh, terutama pada sektor pangan dan Kekuatan.
“Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak Mengenakan dolar kok, iya kan? Pangan Kondusif, Kekuatan Kondusif, ya. Banyak negara panik, Indonesia Lagi oke,” ujar Prabowo.
BBC News Indonesia sudah berupaya menghubungi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, Kepada meminta tanggapan. Tetapi, hingga laporan ini diterbitkan, Kagak Eksis jawaban.
Apa yang disampaikan Presiden Prabowo?
Berbicara Begitu peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Presiden Prabowo Subianto menanggapi pelemahan nilai Salin rupiah terhadap dolar Amerika Perkumpulan (AS).
Prabowo, dengan nada berkelakar, tak terlalu ambil pusing mengenai posisi rupiah yang sudah menembus level Rp17.600 per US$1.
Dia bahkan menyebut, sebagian besar masyarakat di pedesaan Kagak menggunakan dolar dalam aktivitas sehari-hari sehingga, menurutnya, mereka Kagak merasakan langsung dampaknya.
“Sekarang Eksis yang selalu… sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, rupiah begini, dolar begini… Mau dolar berapa ribu kek, orang rakyat di desa enggak Mengenakan dolar kok,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, publik juga Kagak perlu khawatir selama Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, disebutnya “Lagi Pandai tersenyum”.
Pihak-pihak, yang diklaimnya, resah terhadap pelemahan rupiah adalah mereka yang kerap pelesiran ke luar negeri dan para pengusaha.
“Yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri. Hayo siapa ini? Mbak Titik (Siti Hediati Hariyadi) pusing ini. Sakti Wahyu Trenggono… Anindya Bakrie, lu pusing gua lihat, pengusaha pusing.”
“Percaya lah, ekonomi kita kuat, Mendasar kita kuat. Orang mau ngomong apa, Indonesia kuat,” sambung Prabowo yang disambut tepuk tangan para undangan.
Mengapa pernyataan Presiden Prabowo dikritik?
Sejumlah pengamat ekonomi menilai respons Presiden Prabowo terhadap pelemahan nilai Salin rupiah terhadap dolar AS terkesan “meremehkan masalah yang sebetulnya kompleks”.
Analis senior dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita, mengatakan masyarakat di pedesaan memang Kagak menggunakan dolar dalam bertransaksi.
Tetapi, ia bilang, masalah utamanya bukan soal masyarakat memegang dolar atau Kagak. Nilai Salin dolar pada dasarnya tetap memengaruhi harga barang di Indonesia, termasuk yang dirasakan masyarakat pedesaan.
Ronny mencontohkan barang yang diperlukan petani seperti pupuk, bahan bakar minyak, pakan ternak, obat-obatan, mesin pertanian, bahkan sebagian besar bahan pangan, sangat dipengaruhi oleh kurs dolar.
Ketika rupiah melemah Tiba ke level Rp17.600 per US$1, maka tekanan biaya Kepada memproduksi barang-barang itu bakal merembet ke harga-harga kebutuhan sehari-hari. Alasan, sebagian besar bahan bakunya Lagi impor.
“Artinya, masyarakat desa tetap terkena dampaknya mesti Kagak pernah Menyantap dolar secara fisik…”
“Dalam ekonomi, rakyat kecil sering kali menjadi pihak yang paling akhir menyadari gejolak kurs, tapi paling Segera merasakan Pengaruh kenaikan harga,” Terang Ronny Sasmita kepada BBC News Indonesia, Minggu (17/05).
“Jadi, kalau konteksnya (Presiden Prabowo) Mau menenangkan publik, narasi itu malah berisiko menyederhanakan persoalan yang sebenarnya jauh lebih kompleks,” sambungnya.
Apakah investor memercayai klaim Prabowo?
Lebih jauh, pengamat ekonomi, Yanuar Rizky, berpandangan pernyataan Presiden Prabowo itu sebetulnya menyiratkan adanya kekhawatiran terhadap situasi melemahnya rupiah.
Hanya saja, kepanikan tersebut direspons dengan sikap menantang sembari berharap investor percaya pada klaimnya bahwa Mendasar ekonomi Indonesia Lagi kuat.
“Bahwa dia Kagak takut, kurang lebih begitu,” kata Yanuar Rizky kepada BBC News Indonesia, Minggu (17/05).
“Sama seperti gaya komunikasinya Presiden AS, Donald Trump. Dia ngomong negatif, market ikut. Dia bilang sesuatu yang mengarah ke positif, market juga ikut.”
Masalahnya, kata Yanuar, Prabowo Kagak punya kapasitas sebesar Presiden AS, Donald Trump, yang Pandai memengaruhi pasar keuangan Mendunia. Apalagi, menurutnya, pernyataan-pernyataan Prabowo selalu bertentangan dengan kondisi fiskal.
Hal itu terlihat dari defisit anggaran yang Lalu melebar akibat turunnya penerimaan negara. Sebagaimana diketahui, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp240 triliun Kepada periode Januari hingga Maret 2026.
Tetapi, di sisi lain, belanja pemerintah tetap besar bahkan Lalu naik demi mengongkosi program prioritas Presiden berupa Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Berkaca pada situasi itu, kata Yanuar, pasar Mendunia sesungguhnya Menyantap risiko fiskal Indonesia semakin meningkat yang pada akhirnya menggerus kepercayaan pelaku pasar di dalam negeri maupun luar negeri.
Hingga kemudian pelemahan rupiah direspons oleh Bank Indonesia dengan menurunkan batas transaksi dolar dari US$100.000 menjadi US$50.000, kemudian diturunkan Kembali menjadi US$25.000.
“Itu Pandai dibaca sebagai tanda bahwa semakin banyak orang mulai memindahkan uangnya dari rupiah ke dolar di dalam negeri…”
“Artinya kepercayaan terhadap rupiah mulai menurun. Karena itu, menurut saya, langkah dan pernyataan pemerintah yang Mau menunjukkan keberanian Malah akan berbalik menjadi bumerang,” terangnya.
Ekonom Ronny Sasmita sependapat. Ia Berbicara pernyataan Prabowo kurang Pas disampaikan di tengah sensitivitas pasar keuangan yang Lagi sangat tinggi.
Pasar keuangan, sambungnya, bukan hanya membaca situasi ekonomi Indonesia melalui data, tetapi juga Menyantap bagaimana Langkah pemimpin memahami risiko ekonomi.
Ketika publik dan investor menangkap kesan bahwa pelemahan rupiah dianggap bukan masalah, maka Pandai menimbulkan persepsi pemerintah Indonesia kurang Mempunyai “sense of urgency” terhadap stabilitas perekonomian secara keseluruhan.
Apa Pengaruh pernyataan Presiden Prabowo?
Ronny Sasmita bilang Eksis beberapa risiko.
Pertama, risiko terhadap pasar keuangan. Menurutnya, investor sangat memerhatikan pernyataan pejabat negara.
Kalau pemerintah terlihat menganggap pelemahan rupiah bukan masalah besar, pasar keuangan Pandai menilai pemerintah Kagak cukup serius menangani situasi.
“Akibatnya, tekanan terhadap rupiah Pandai semakin besar dan arus modal akan keluar dari Indonesia,” ucapnya.
Kedua, risiko terhadap kepercayaan masyarakat.
Begitu ini, ungkapnya, masyarakat sangat sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Sehingga ketika masyarakat merasakan kenaikan harga-harga tetapi pemerintah terlihat menganggap enteng, maka Pandai muncul “jarak persepsi” antara pemerintah dengan kondisi riil masyarakat.
“Dalam ekonomi, kepercayaan publik sangat Krusial, sama seperti cadangan devisa. Sekali kepercayaan publik menurun, efeknya Pandai panjang.”
Ketiga, risiko terhadap inflasi dan kepercayaan investor.
Pernyataan yang terlalu menyederhanakan masalah, Pandai Membikin pemerintah terlihat defensif.
Padahal yang dibutuhkan pasar keuangan Malah pengakuan realistis bahwa pelemahan rupiah memang serius dan harus dijaga Berbarengan.
“Investor biasanya lebih tenang terhadap pemimpin yang mengakui tantangan secara terbuka dibanding yang terkesan mengecilkan masalah.”
Ekonom Yanuar Rizky juga menilai Presiden Prabowo semestinya berbicara jujur tentang kondisi ekonomi Indonesia tanpa menyalahkan pihak lain, seperti yang dilakukan Perdana Menteri Singapura.
Pemerintah pun, menurut dia, sebaiknya memberikan rasa percaya kepada masyarakat sembari menerangkan langkah-langkah yang diambil pemerintah agar kondisinya Kagak semakin Kagak baik.
“Artinya, negara ini Kagak menunjukkan sense of crisis, dan kalau presidennya Kagak menunjukkan itu, berbahaya.”
Bagaimana tren nilai Salin rupiah terhadap dolar AS?
Rupiah sebetulnya sudah mulai melemah sejak Prabowo Subianto menjabat Presiden pada Oktober 2024, Tetapi tekanan pelemahannya jauh lebih kuat sejak awal 2026.
Ketika dilantik pada Oktober 2024, kurs rupiah Lagi di kisaran Rp15.400–Rp15.500 per dolar AS. Tetapi sepanjang 2025 rupiah perlahan melemah ke kisaran Rp16.000–Rp16.600.
Memasuki awal 2026, pelemahannya makin Segera.
Pada Januari 2026 sudah pada level Rp16.700–16.900, kemudian Maret hingga April 2026 menembus Rp17.000.
Kemudian Mei 2026 sempat menyentuh Rp17.500 per US$1 dan Lalu melorot Tiba ke level Rp17.600.
Data Trading Economics menunjukkan, rupiah merupakan mata Fulus di kawasan Asia Tenggara yang mengalami depresiasi terdalam secara yeat to date. Beberapa kurs yang juga terdepresiasi, antara lain, dong Vietnam, bath Thailand, dan peso Filipina.
Sementara beberapa mata Fulus Malah mengalami apresiasi secara year to date, yakni dolar Singapura, dolar Brunei Darussalam, dan ringgit Malaysia.
Dalam beberapa kali pernyataannya, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai pelemahan rupiah itu Kagak mencerminkan kondisi Mendasar ekonomi Indonesia yang memburuk.
Malah, klaimnya, perekonomian domestik Lagi relatif kuat dibandingkan negara lain di kawasan. Berkali-kali ia Berbicara tekanan terhadap rupiah dipengaruhi Unsur Mendunia dan sentimen pasar yang membentuk perspektif negatif kepada perekonomian Indonesia.
Sentimen yang dimaksud yakni penilaian sejumlah lembaga rating seperti Moody’s, Fitch Rating, dan S&P Mendunia Rating yang memberi outlook negatif terhadap kebijakan fiskal Indonesia.
Apakah rupiah dalam kondisi kritis?
Yanuar Rizky mengatakan posisi rupiah yang Begitu ini berada pada level Rp17.600 per US$1 memang Kagak berarti Indonesia masuk dalam krisis besar.
Tapi, Bilangan itu, menurutnya dianggap “kritis” karena daya beli masyarakat yang semakin Kagak Pandai mengikuti kenaikan harga barang.
Ia menjelaskan, ketika rupiah melemah, harga barang impor dan bahan baku produksi menjadi lebih mahal karena pembeliannya memakai kurs dolar. Akibatnya, ongkos produksi naik dan harga barang ikut melonjak.
Masalahnya, kenaikan harga-harga tersebut Kagak diikuti oleh kenaikan pendapatan masyarakat. Sehingga, imbasnya, daya beli semakin tertekan.
Bagi kelas menengah yang Lagi Mempunyai tabungan, kata Yanuar, mereka akan mulai “makan tabungan” Kepada memenuhi kebutuhan harian.
Sedangkan bagi kelas menengah ke Rendah, mereka terjebak pada pinjaman online alias pinjol.
Hal itu tercermin dari data yang dipaparkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menyebut total utang pinjaman online masyarakat Indonesia telah menembus Rp103, 03 triliun per Maret 2026 atau melonjak 26,25% secara tahunan.
“Jadi sebetulnya sejak 2023 Tiba sekarang dilihat dari kenaikan pinjol dan utang kartu kredit, makin Lamban kredit Mandek naik sebetulnya.”
“Artinya apa, sekarang yang terjadi makan tabungan dan makan utang. Dan ketika masyarakat sudah Kagak Pandai memenuhi kebutuhan hariannya, akhirnya makan keputusasaan.”
“Intinya, Bilangan segini sudah Membikin orang susah napas,” cetusnya.
