Kebutuhan CPO Buat pangan dan Daya akan mengalami tren naik
Jakarta (ANTARA) – Guru Besar IPB Prof. Dr. Bungaran Saragih menyatakan Indonesia harus memaksimalkan produktivitas kelapa sawit yang potensi sebenarnya Pandai mencapai 5-6 ton Crude Palm Oil (CPO) per hektar per tahun agar kebutuhan dalam negeri terpenuhi tanpa mengurangi volume ekspor.
Menurut dia, sawit yang merupakan komoditas penghasil devisa negara dari pungutan ekspor mengalami sejumlah tantangan produktivitas. Sejalan dengan bertambahnya konsumsi minyak sawit dalam negeri dan penerapan program B50 pada Juni 2026, kebutuhan minyak sawit Maju meningkat.
“Kebutuhan minyak sawit nasional diproyeksi Pandai mencapai 41 juta ton pada tahun 2045 seiring dengan bertambahnya konsumsi minyak sawit dalam negeri,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Mantan Menteri Pertanian itu dalam pemaparannya pada kegiatan “Teknis Kelapa Sawit (TKS): Pameran dan Field Trip” yang digelar Badan Pengelola Biaya Perkebunan Berbarengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalimantan Tengah (Kalteng) mengatakan sawit bukan hanya sebagai penyumbang devisa terbesar, tetapi juga stabilisator ekonomi nasional.
Dikatakannya, Begitu Indonesia mengalami tiga krisis besar Yakni krisis moneter 1998, krisis keuangan Dunia 2008, serta krisis pandemi COVID-19 pada 2020 –2021 membawa tekanan berat seperti pelemahan nilai Ganti, meningkatnya pengangguran, serta lonjakan kemiskinan.
“Tetapi, Eksis satu sektor yang secara konsisten hadir sebagai penyangga, bahkan penyelamat ekonomi nasional di masa krisis Yakni sektor kelapa sawit,” ujar dia dalam kegiatan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Tengah, Kalteng.
Lebih lanjut, Bungaran menjelaskan beberapa Elemen Primer yang Membikin sawit Pandai menjadi stabilisator ekonomi nasional. Salah satunya adalah basis sektor sawit yang sangat luas dan melibatkan jutaan tenaga kerja.
“Sektor sawit Mempunyai keterlibatan sosial-ekonomi yang sangat luas, dengan lebih dari 16 juta tenaga kerja. Dalam setiap krisis, ketika banyak sektor goyah, sawit tetap berdiri tegak,” katanya.
Sementara itu peneliti IPB Gusti A Gultom menambahkan dalam hal peningkatan produktivitas, peremajaan perkebunan kelapa sawit rakyat (PSR) sangat mendukung ketahanan pangan dan Daya nasional dalam upaya menjamin ketersediaan minyak nabati pangan dan bahan bakar nabati.
Kalau dibandingkan dengan tanaman Sepuh, lanjutnya produktivitas sawit setelah replanting mengalami peningkatan sebanyak lebih dari 3 ton CPO/ha/tahun).
“Kebutuhan CPO Buat pangan dan Daya akan mengalami tren naik, implementasi B50 membutuhkan setidaknya 17 – 18 juta ton CPO dan kebutuhan Buat pangan pun akan Maju naik sehingga harus dilakukan replanting segera,” ujarnya.
Wakil Ketua GAPKI Kalteng Siswanto menambahkan globalisasi dan teknologi merupakan tantangan yang harus diselaraskan dalam meningkatkan produktivitas di industri kelapa sawit.
Oleh karena itu pihaknya mengapresiasi kegiatan TKS 2026 karena memberikan manfaat dan masukan yang sangat berharga sebagai acuan Buat meningkatkan produktivitas kelapa sawit Bagus di perusahaan maupun khususnya petani rakyat.
Ketua Panitia Pelaksana TKS 2026, Hendra J. Purba menyampaikan bahwa terkait perluasan 2-5 juta ha sawit dan intensifikasi Buat meningkatkan produktivitas diperlukan penggunaan bibit yang optimal.
“Di daerah sentra kelapa sawit seperti Kotawaringin Barat, Kesempatan ekstensifikasi sudah Tak Eksis, sehingga satu-satunya Metode adalah dengan intensifikasi dengan titik berat berada di kebun rakyat,” katanya.
Hendra menyebutkan selain seminar dan pameran teknologi, peserta TKS 2026 juga mengikuti kunjungan lapangan ke PT Sukses Karya Sendiri (SKM) Buat menyaksikan proses pengolahan palm kernel hingga menjadi crude palm kernel oil (CPKO) dan palm kernel expeller (PKE).
Melalui kunjungan lapangan ini, tambahnya, peserta TKS 2026 mendapatkan gambaran Konkret bahwa integrasi antara efisiensi operasional, Penemuan teknologi, dan prinsip keberlanjutan bukan sekadar konsep, tetapi sudah dapat diimplementasikan secara konkret di lapangan.
