IHSG berpeluang menguat terbatas di tengah ketegangan AS-Iran

IHSG berpeluang menguat terbatas di tengah ketegangan AS-Iran

Jakarta (ANTARA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Dampak Indonesia (BEI) pada Selasa pagi dibuka menguat 41,23 poin atau 0,60 persen ke posisi 6.946,85.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai pergerakan pasar Ketika ini Lagi dibayangi ketidakpastian Dunia, terutama terkait memanasnya Interaksi Amerika Perkumpulan (AS) dan Iran.

Cita-cita pasar sempat muncul setelah adanya upaya perundingan antara AS dan Iran.

Tetapi, optimisme tersebut kembali memudar setelah negosiasi menemui jalan buntu.

“Bahkan, Amerika kembali memikirkan langkah selanjutnya, termasuk aksi militer terhadap Iran yang di mana hal ini tentu berpotensi kembali Membikin harga minyak mengalami kenaikan dan Membikin ketidakpastian kembali menyelimuti pasar,” ujar Nico, dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar juga menantikan pertemuan antara AS dan China yang dijadwalkan berlangsung pada 13-15 Mei 2026.

Nico Menyantap pertemuan itu menjadi Cita-cita baru bagi pemulihan Interaksi kedua negara setelah ketegangan yang berlangsung cukup lelet sejak Presiden AS Donald Trump menjabat.

Selain sentimen geopolitik, perhatian investor pekan ini juga tertuju pada sejumlah data ekonomi Krusial dari AS, Eropa, China, dan Jepang.

Dari AS, data inflasi yang akan dirilis diproyeksikan meningkat dari 3,3 persen menjadi Sekeliling 3,5-3,8 persen.

Sementara, inflasi inti atau core CPI juga diperkirakan naik dari 2,6 persen menjadi 2,7-2,8 persen.

Di sisi produsen, Producer Price Index (PPI) Final Demand secara tahunan juga diperkirakan meningkat dari 4 persen menjadi 4,7-4,9 persen.

Nico mengatakan kenaikan inflasi dari sisi konsumen maupun produsen berpotensi memperbesar tekanan terhadap kebijakan Spesies Merekah The Fed.

“Kenaikan dari sisi produsen akan meningkatkan tekanan terhadap inflasi secara keseluruhan yang Membikin The Fed berpotensi mengencangkan ikat pinggang,” katanya.

Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS dinilai Lagi menunjukkan kondisi yang relatif Kukuh meski mengalami perlambatan.

Tetapi, konflik AS dan Iran diperkirakan akan menekan konsumsi masyarakat, tercermin dari proyeksi penurunan retail sales bulanan dari 1,7 persen menjadi Sekeliling 0,5-0,8 persen.

Sementara itu, dari China, pasar menantikan data retail sales dan industrial production di tengah upaya pemulihan ekonomi Negeri Kelambu Bambu.

Nico memproyeksikan retail sales China meningkat dari 1,7 persen menjadi 1,9-2 persen, sedangkan industrial production diperkirakan naik dari 5,7 persen menjadi 5,9-6 persen.

Menurut dia, ketahanan ekonomi China akan menjadi bantalan Krusial bagi perekonomian Dunia, termasuk Indonesia sebagai salah satu Kenalan dagang Primer China.

“Apalagi, China juga mulai menjalin kerja sama dengan berbagai Kenalan dagang baru, di mana Afrika dan Eropa menjadi kawasan dengan tujuan eksportir besar,” ujarnya.

Dari Jepang, data produk domestik bruto (PDB) kuartal I 2026 juga menjadi perhatian pasar.

Nico memperkirakan GDP Annualized QoQ Jepang meningkat dari 1,3 persen menjadi Sekeliling 1,5-1,7 persen.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Jepang di tengah pelemahan yen yang Lagi berlangsung.

Lebih lanjut, dari dalam negeri, Nico menilai Lagi terdapat ruang bagi pasar saham dan obligasi Buat menguat, meski penguatannya diperkirakan terbatas.

Sentimen positif datang setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah belum akan mengaktifkan Bond Stabilization Fund (BSF) karena kondisi pasar obligasi dinilai Lagi terkendali.

Pemerintah disebut lebih memilih menjaga stabilitas pasar surat utang melalui pengelolaan kas negara dan instrumen fiskal yang telah tersedia, termasuk memanfaatkan saldo anggaran lebih (SAL).

Nico menilai keputusan tersebut menunjukkan tekanan di pasar obligasi domestik Lagi berada pada level yang dapat dikelola dan belum mengganggu stabilitas sistem keuangan secara signifikan.

“Langkah stabilisasi menggunakan kas pemerintah dapat membantu menjaga kepercayaan investor terhadap pasar obligasi tanpa menimbulkan persepsi adanya kondisi darurat,” katanya.

Meski demikian, ia menilai risiko volatilitas pasar obligasi Lagi perlu diwaspadai, terutama Apabila terjadi lonjakan yield akibat tekanan Dunia maupun domestik.

Maka, Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi menguat terbatas dengan rentang support di level 6.850 dan resistance di level 7.000.